back index next

Ucapan-ucapan Para Pengagum Nahjul Balaghah

Khutbah Pertama

الحمد لله الذی لا یبلغ مدحته القائلون...

Imam Khomeini ra, mengenai keagungan khutbah ini berkata:

“Para filosof dan hakim duduk berkumpul untuk mengkaji kalimat-kalimat dalam khutbah pertama pada kitab Ilahi ini dan memeras pemikiran-pemikiran tingkat tinggi mereka dan dengan bantuan para ahli makrifat dan irfan untuk menafsirkan sebuah kalimat pendek ini dan ingin memuaskan untuk memahami realitanya dengan kebenaran hati nurani mereka dan dengan syarat penjelasan-penjelasan yang dikerahkan dalam area ini tidak menipu mereka dan tidak mempermainkan hati nurani mereka untuk memahami dengan benar dan mereka tidak mengatakan dan tidak melewatkan sehingga mereka memahami area penglihatan anak wahyu dan mengakui ketidakberdayaan sendiri dan orang lain.

Kalimat tersebut adalah:

“مع کل شیئ لابمقارنة وغیر کل شیئ لابمزایلة”.

[Peyam-e Emam Beh Konggere-ye Nahjul Balagheh (Pesan Imam ra kepada Kongres Nahjul Balaghah) 27 / 2 / 1360 HS]

Khutbah Kedua

"احمده استتماما ... کحلهم دموع"

Kalimat قام فی فتن داستهم ... کحلهم دموع"”

Pemimpin besar revolusi Islam Ayatullah Khamenei berkata:

“[Kalimat ini] adalah dari kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan; para penyair dan pakar dalam bidang ini harus duduk dan menemukan sebuah kesepadanan untuk masing-masing dari kata ini, dan menemukan sebuah komposisi untuk setiap susunan”

[Pidato Ayatullah Khamenei tahun 1364 HS – Husainiyeh Irsyad – “Bazghasht Beh Nahjul Balagheh” (Kembali kepada Nahjul Balaghah), hal 47]

Khutbah Ketiga (Syiqsyiqiyyah)

“اما والله لقد تقمصها ابن ابی قحافة"

Imam Ali as dalam jawaban kepada Ibnu Abbas, kenapa tidak melanjutkan khutbah ini, berkata:

“Wahai Ibnu Abbas! (Aku tidak pernah dapat melanjutkannya), apa yang engkau dengar adalah kobaran kesedihan yang naik ke atas dan kembali memanas dan menjadi tenang di sebuah tempat [Ibnu Abbas berkata: Demi Allah! Aku tidak pernah sedemikain rupa menyayangkan sebuah ucapan pun yang membuatku sedih kenapa Amirul Mukminin as tidak mampu mengakhirinya sebagaimana mestinya]

Khutbah 16

"ذمتی بما اقول رهینة وانا به زعیم..."

“Tanggung jawab atas apa yang saya katakan terjamin, dan saya bertanggung jawab untuk itu…”

Sayed Radhi ra mencatat:

“Dalam pembicaraan pendek ini, ada lebih banyak keindahan dari pada yang dapat dinilai, dan besarnya keheranan yang tampak darinya lebih dari pada penilaian yang diberikan kepadanya. Walaupun telah saya nyatakan, ini mengandung banyak aspek kefasihan yang ttidak dapat diungkapkan, tak ada orang yang menjangkau kedalamannya, dan tak ada orang yang dapat memahami apa yang akan saya katakan, kecuali apabila ia telah mencapai seni ini dan mengenal kedetailan-kedetailannya. “Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [QS. Al-‘Ankabut (29): 43]”

Allamah Baihaqi dalam “Ma’arij Nahjul Balaghah” mengatakan:

“Ucapan Ali as ini seperti siir halal dan tingkatan serta kedudukannya mengklimak dari sifat-sifat kesempurnaan, seolah-oleh biji-bijian batu merah delima yang diikat dengan benang atau seperti hari-hari besar yang bersinar terang di antara hari-hari lain.”

[Majalah “Turatsunaa” No 34, hal 88]

Khutbah  21

"فإنّ الغایة امامکم ... تخفّفوا تَلحَقوا، فَإنّما یُنتظر بأولکم آخرُکم"

Sayed Radhi ra berkata:

“Apabila ucapan Ali as ini ditimbang dengan ucapan mana pun, kecuali firman Allah dan sabda Nabi saw, maka ucapan itu akan terbukti lebih berat dan lebih unggul dalam segala segi. Misalnya, kata-kata Ali,"تخفّفوا تَلحَقوا" “ringankan diri dan susullah” adalah ungkapan yang paling ringkas yang pernah terdengar dengan makna paling besar yang terkandung di dalamnya. Betapa luas artinya dan betapa jernih sumber kearifannya! Kami telah menunjukkan kebesaran dan kepadatan makna frasa ini dalam buku kami “Khashaish”.[1]

Allamah Baihaqi dalam “Ma’arij Nahjil Balaghah” menulis:

"تخفّفوا تَلحَقوا" lafad-lafad Alawi ini menghikayatkan berseminya pepohonan dan nafas yang menyentuh hati para penjaga (yang tidak tidur malam)… Bila lafad-lafad ini dibacakan kepada batu, maka batu tersebut akan pecah karena keagungannya dan memancarkan sumber air darinya, atau bila dibacakan kepada bintang-bintang maka bintang-bintang tersebut akan turun dari ufuk-ufuk langit di hadapan keagungannya.”

[Ma’arij Nahjil Balaghah, hal 108]

Khutbah 25

”ما هي الا الکوفة اقبضها وابسطها..."

George Gordaq Masehi mengenai keagungan sebagian dari khutbah ini mengatakan:

“Ekspresi ini ”ما هي الا الکوفة..." telah mencapai klimak keindahan seni…”

[Zibaiy-ha-ye (Keindahan-keindahan) Nahjul Balagheh, hal 59]

Khutbah 28

"اما بعد, فان الدنیا ادبرت... ألا وان الیوم المضمار وغدا السباق..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Apabila mungkin ada ucapan yang akan menyeret leher orang ke penolakan dunia ini dan memaksanya beramal bagi dunia yang akan datang, inilah khutbahnya. Khutbah ini cukup untuk memutuskan orang dari keterjaringan oleh harapan dan memicu api dakwah (untuk kebaikan) dan peringatan (terhadap kemungkaran). Kata-katanya yang paling menakjubkan dalam khutbah ini ialah, “Hari ini adalah persiapan sedang esok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju adalah surga sedang tempat kutukan adalah neraka”, karena selain kehalusan kata-katanya, kebesaran maknanya, perumpamaan yang benar dan gambaran yang faktual, ada rahasia-rahasia yang manakjubkan dan siratan-siratan yang halus di dalamnya…”

Khutbah 31

"لا تلقین طلحة ... فما عدا مما بدا"

Sayed Radhi ra berkata:

“Kalimat “فما عدا مما بدا” untuk pertama kalinya terdengar dari Imam Ali as.”

Khutbah 40

"کلمة حق یراد بها الباطل..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Ungkapan ini adalah kalimat terfasih dan terjelas yang menyingkap perbuatan Khawarij.”

[Khashaishul A’immah, Sayed Radhi ra, hal 113]

Khutbah 76

"رحم الله إمرءً سمع حکما فوغی..."

Abu Ja’far Kufi dalam keagungan khutbah ini berkata:

“Apakah Anda pernah melihat ucapan yang lebih singkat dan nasehat yang lebih gamlang dari ucapan ini? Bagaimana tidak demikian sementara beliau (Ali as) adalah orator (khatib) sedangkan Luqman adalah seorang Quraisy!”

[Khashaishul A’immah, Sayed Radhi ra, hal 111]

Khutbah 83 (Terkenal dengan Khutbah Gharra’)

"الحمد لله الذی علا بحوله ودنا بطوله..."

Sayed Radhi ra menulis:

“Khutbah ini termasuk di antara khutbah-khutbah beliau as yang mengherankan… Diriwayatkan bahwa ketika Imam Ali as telah menyampaikan khutbahnya, tubuh orang-orang yang mendengarnya bergetar, dan mata mereka berlinangkan air mata, hati mereka berdetak keras karena rasa takut, dan sebagian orang menamakan khutbah tersebut dengan khutbah gharra’.”

Pemimpin revolusi agung, Ayatullah Khamenei dalam kebesaran sebagian penggalan khutbah ini (فان الدنیا ... وحشة المجع) berkata:

“Lihatlah betapa indahnya, tentu saja tidak dapat diterjemahkan, para pakar balaghah dan penyair harus duduk berkumpul dan menimbang kata-kata ini kemudian menerjemahkannya.”

[Ceramah di Husainiyah Irsyad, Farwardin 1364 HS]

Khutbah 91 (Terkenal dengan Khutbah Asybah)

"الحمد لله الذی لا یفره المنع والجمود..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Khutbah ini termasuk khutbah-khutbah tinggi dan berharga Imam Ali as.”

[Mukaddimah Khutbah 91]

Khutbah 109

"کل شیئ خاشع له وکل شیئ قائم به..."

Ibnu Abil Hadid Mu’tazili di akhir sebuah kalimat dari khutbah ini –setelah menjelaskan hakekat bahwa barangsiapa yang ingin mempelajari teori-teori balaghah dan fashahah dan memahami nilai kata-kata satu dengan yang lainnya, maka hendaknya ia merenungkan khutbah ini- berkata:

“Pengaruh dan daya tarik khutbah ini sedemikian rupa sehingga jika khutbah tersebut dibacakan kepada orang ateis tanpa agama yang bersikeras sekuat tenaga mengingkari hari kebangkitan, maka akan meluluhkan kekuatannya juga, membawa hatinya kepada ketakutan, melemahkan iradah negatifnya dan menciptakan ketidakstablan dalam pondasi keyakinannya.

Maka oleh karena itu, semoga Allah Yang Maha Besar membalas pengucapnya karena khidmat kepada Islam seperti ini, dengan sebaik-baik balasan yang Dia limpahkan kepada para wali-Nya.

Sangat menarik, khidmat beliau as terhadap Islam, terkadang dengan tangan dan pedang dan terkadang dengan lidah dan penjelasan dan terkadang juga dengan hati dan pikiran beliau as. Sungguh benar beliau as adalah “Sayyidul Mujahidin (pemimpin para mujahid) Wa Ablaghul Wa’idhin (Paling fasihnya penasehat) Wa Ra’isul Fuqaha’ Wal Mufassirin (pemimpin para faqih dan mufassir) Wa Imam Ahlil ‘Adli Wal Muwahhidin (imam kaum adil dan pengesa Tuhan).”

[Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, jilid 7, hal 202]

Khutbah 192 (Terkenal dengan Khutbah Qashi’ah)

"الحمد لله الذی لبس العز والکبریاء..."

Pemimpin Revolusi agung Ayatullah Khamenei berkata:

“Dalam khutbah qashi’ah yang anda sekalian ketahui dan terkenal ini, Amirul Mukminin as betapa betapa beliau berkata indah, penuh isi, memberikan motifasi dan peringatan. Sebagian dari khutbah tersebut saya catat: "فالله في کبر الحمیمة... ترفعوا فوق نسبهم"

[Ceramah Ayatullah Khamenei dalam Kongres kelima Nahjul Balaghah tahun 1405 HQ]

Khutbah 193 (Terkenal dengan Khutbah Hammam)

"اما بعد, فان الله –سبحانه وتعالی- خلق الخلق..."

Allamah Qumsye’i berkata:

“Khutbah ini pada hakekatnya adalah harta karun penuh dengan permata-permata hikmah dan makrifah dan di dalamnya terdapat sekumpulan lengkap pelajaran filsafat Ilahiyah, ilmu akhlak, psikologi dan pendidikan jiwa. Khutbah ini merupakan instruksi komprehensif dan petunjuk sempurna untuk ketenangan abadi dan kesuksesan kekal. Khutbah ini ibarat lautan yana mana para penyelam di dalamnya akan memperoleh permata-permata dan batu-batu berharga spiritual dan kesempurnaan ruhani…

Khutbah ini pada setiap abad masa Islam tergolong kitab terbesar dari sudut pandang akhlak menurut para pakar ilmu dan para orator (khatib) besar mamanfaatkan petuah-petuahnya untuk memberikan petunjuk kepada masyarakat di dalam majelis-majelis ceramah mereka. memang benar, tiada ucapan pun dapat ditemukan menyamai dasar kekuatan pengaruh khutbah ini…”

[Kulliyyat-e Divan-e Hakim Ilahi Qumsye’i, hal 1]

Sayed Radhi ra menukil:

“Ketika Hammam selesai mendengarkan khutbah ini, ia berteriak dan jatuh pingsan dan dalam pingsannya tersebut ia menyerahkan jiwanya kepada Pencipta jiwa”

Layak untuk disebutkan bahwa Imam Ali as dalam khutbah ini menyebutkan 105 sifat dan keistimewaan bagi orang-orang muttaqin.

Khutbah 207

"املکوا عني هذا الغلام لا یهدني..."

Sayed Radhi ra khusus mengenai jumlah ….berkata:

“Jumlah ini termasuk ucapan tertinggi dan terfashih”

Khutbah 216

"اما بعد, فقد جعل الله سبحانه لي علیکم حقا بولایة امرکم..."

Ayatullah Udhma Na’ini berkata:

“Kaedah-kaedah dan faedah-faedah yang dapat diambil dari setiap paragraf khutbah penuh berkah ini dan terambilnya prinsip ilmu hukum yang telah dibukukan dan diberikan atensi oleh filosof-filosof Eropa adalah tergolong dari sinonim-sinonim khutbah yang disinggung dalam risalah ini secara terpisah yang Insya Allah akan kita tulis setelah ini”

[Kitab “Tanbihul Ummah”, hal 97]

Khutbah 221

"یا له مراما ما ابعده, وزورا ما اغعله..."

Ibnu Abil Hadid menulis:

“Aku bersumpah demi orang yang semua umat bersumpah dengannya bahwa aku telah membaca khutbah ini semenjak 50 tahun silam hingga kini lebih dari seribu kali dan setiap kali aku membacanya, seluruh diriku diselimuti rasa ketakutan, kekhawatiran, keterjagaan yang dalam dan membekas di dalam hatiku dan tergetar anggota badanku secara aneh. Setiap kali aku mengkaji kandungan-kandungannya, aku teringat orang-orang yang telah meninggal dunia dari keluarga, kerabat dan sahabat dan sedemikian rupa aku bayangkan bahwa aku adalah orang tersebut yang disifati oleh Imam Ali as di tengah-tengah khutbah ini. Betapa para pemberi nasehat, khatib dan pakar balaghah mengeluarkan ucapan, khusus seputar hal ini dan betapa aku sering berada di hadapan ucapan-ucapan mereka, akan tetapi aku tidak pernah melihat satu pun pengaruh sebagaimana pengaruh ucapan Imam Ali ini di dalam hati dan jiwaku”

[Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, jilid 11, hal 153]

Ayatullah Jawadi Amuli berkata:

“Ibnu Abil Hadid (dalam khusus khutbah 221) berkata, jika seluruh orang fashih Arab duduk berkumpul di suatu tempat dan khutbah Imam Ali bin Abi Thalib as ini dibacakan maka seluruhnya pantas untuk bersujud, sebagaimana terdapat di dalam al-Quran beberapa surat yang di dalamnya mengandung ayat-ayat yang bila dibaca, maka harus bersujud. Imam Ali bin Abi Thalib as juga memiliki khutbah-khutbah yang salah satunya adalah khutbah ini; jika khutbah ini dibacakan kepada para pakat fashahah dan balaghah, maka mereka harus bersujud.

Makna ini telah terlontarkan di dalam majelis pelajaran Allamah Thaba’thabai, bagaimana Ibnu Abil Hadid memiliki sebuah ide tinggi seperti demikian? Ustad (Allamah Thaba’thabai) berkata: Ibnu Abil Hadid tidak berkata sembarangan karena jika ada keharusan bersujud adalah karena ucapan Allah dan kandungan Qur’ani itulah yang menjelma dalam bentuk khutbah-khutbah Ali bin Abi Thalib as, pada hakekatnya mereka bersujud untuk kalam Allah swt bukan untuk kalam makhluk Allah”

[Hikmat-e Nazari Va Amali Dar Nahjul Balagheh (Hikmah Teoritis dan Praktis dalam Nahjul Balaghah), hal 26 dan 27]

Surat 22

"اما بعد, فان المرء یسره درکُ ما لم یکن..."

Ibnu Abbas –murid dan pengikut setia Ali as- dalam penilaian surat ini berkata:

“Setelah sabda-sabda Nabi Muhammad saw, aku tidak menemukan sebuah ucapan pun seukuran dengan ucapan bermanfaat ini”

Surat 31 (Terkenal dengan Surat Wasiat kepada Imam Hasan as)

"من الوالد الفان, المقر للزمان..."

Abu Ahmad Askari, salah seorang dari ulama terkenal Ahlu Sunnah dalam kitabnya “az-Zawajir wal Mawa’idh” menulis:

“Bila terdapat hikmah yang layak untuk ditulis dengan tinta emas, maka adalah surat Imam Ali as tersebut.”

[Ta’sis asy-Syi’ah, Ayatullah Shadr, hal 404]

Allamah Baihaqi menulis:

“Jika dalam syarah wasiat ini –yang mana Amirul Mukminin as telah mengumpulkan hal-hal yang menjadi kebutuhan manusia di dalamnya- seluruh kertas putih ditulis dengan tinta hitam, maka faedah-faedah yang terdapat di dalamnya tidak akan dapat menyamai separuh dari sepersepuluh atau kurang darinya. Jika seorang memiliki cita rasa ilmiah dan praktis maka cukuplah baginya apa yang telah kami isyaratkan dan jika seorang tidak memiliki kelebihan demikian, maka ucapan ini sedikit dan sama menurutnya serta tidak memiliki pengaruh.”

[Ma’arij Nahjul Balaghah, hal 380]

Surat 35

" اما بعد, فان المصر قد افتتحت..."

Ibnu Abil Hadid Mu’tazili berkata:

“Lihatlah fashahah (dalam surat ini) bagaimana tali kekangnya diberikan ke tangan Ali as dan kendalinya diserahkan kepada beliau as; saksikanlah susunan lafad-lafad yang menakjubkan, satu demi satu muncul dan berada dalam genggaman beliau as ibarat sebuah mata air yang memancar dari bumi dengan sendirinya dan tanpa susah payah…”

[Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, jilid 16, hal 145]

Surat 53 (Terkenal dengan Surat Malik Asytar)

اما بعد, فصلوا بالناس الظهر حتی تفیئ..."

Ayatullah al-udhma Muhammad Husain Na’ini berkata:

“Alangkah layaknya, sebagaimana almarhum Ayatullah al-udhma Ustad Allamah Aqha Mirza Syirazi biasanya selalu mempelajari ucapan penuh berkah ini dan mengambil teladan darinya, demikian juga seluruh marja’ urusan-urusan syareat dan politik, setiap orang sesuai dengan ukuran ke-marja’-annya tidak melewatkan sirah hasanah ini dan ucapan membawa berkah ini … seolah-oleh tidak mereka hitung.”

[Kitab “Tanbihul Ummah”, Na’ini, hal 104]

Hikmah 81

"قیمة کل امرء ما یحسنه..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Ini adalah sebuah kata yang tidak dapat dinilai, tidak dapat diukur dengan hikmah mana pun dan tidak dapat diserupakan dengan sebuah kata pun”

Jahid, pakar bahasa terkenal menulis:

“Jika di dalam seluruh kitab ini tidak terdapat apa-apa selain sebuah kalimat Ali as ini, maka cukuplah kiranya, bahkan lebih dari cukup…”

[Al-Bayan Wa At-Tabyin, jilid 1, hal 347]

Hikmah 88

"کان فی الارض امانان من عذاب الله..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Ini salah satu cara menarik makna yang paling indah dan cara penafsiran yang paling halus.”

Hikmah 93

"لا یقولنّ احدکم: "اللهم اني اعوذ بک من الفتنة" لانه لیس احد الا وهو مشتمل علی فتنة..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Dan ini termasuk hal menakjubkan yang didengar (diriwayatkan) dari Ali as dalam penafsiran (“Dan ketahuilah bahwa kekayaanmu dan anak-anakmu merupakan cobaan” (QS. 8:28)”

Hikmah 133

"الدنیا دار ممرّ, لا دار مقرّ..."

Ustad Muhammad Taqi Ja’fari berkata:

“Tafsiran jumlah pendek ini memerlukan satu jilid kitab independen yang akan menjelaskannya dengan baik.”

[Yad Name-ye Konggere-ye Hezare-ye Nahjul Balagheh, tahun 1360 HS, hal 30]

Hikmah 196

"لم یذهب من مالک ما وعظک"

Sayed Radhi ra berkenaan dengan kebesaran ucapan Imam Ali as berkata:

“Subhanallah (Maha suci Allah)! Alangkah singkatnya kata ini dibandingkan dengan kata-kata yang lain, akan tetapi manfaatnya lebih banyak dan panjang dalam medan hikmah”

[Khashaishul Aimmah, Sayed Radhi ra, hal 113]

Hikmah 208

"من حاسب نفسه ربح..."

Sayed Radhi ra berkenaan dengan ucapan Imam Ali as yang berbunyi “Barangsiapa yang menghisab dirinya sendiri, akan beruntung…” berkata:

“Jika dalam ungkapan ini hanya terdapat jumlah akhirnya (Berteman dengan orang bodoh berada dalam kesulitan) saja dan tidak ada sesuatu yang lainnya, maka tentu akan cukup sehingga cahaya, penerangan dan hikmah ucapan ini menyinari seluruh tempat dan tidak aneh sekiranya penuh dengan sumber cahaya hikmah dan balaghah pada musim seminya mulai mekar”

[Khashaishul Aimmah, hal 119]

Perlu untuk diingat bahwa jumlah akhir ini tidak terdapat dalam Nahjul Balaghah, akan tetapi Sayed Radhi ra menyebutnya di dalam Khashaishul Aimmah.

Hikmah 262

"یا حارث, انک نظرت تحتک ولم تنظر فوقک..."

Doktor Thaha Husain Mishri berkata:

“Setelah wahyu dan firman-firman Allah swt, aku tidak melihat dan tidak mengenal sebuah jawaban yang lebih agung dan menarik dari jawaban ini”

[Sairi dar Nahjul Balaghah, hal 18; Kavushi dar Nahjul Balaghah, hal 72]

Hikmah 464

"ان لبني امیّة مِرودا یجرون فیه..."

Sayed Radhi ra berkata:

“Ucapan Imam Ali as ini merupakan ungkapan yang fasih luar biasa dan menakjubkan”

Hikmah 466

"العین وِکاء السه"

Sayed Radhi ra dalam keagungan hikmah ini berkata:

“Ini metafora yang menakjubkan; seakan-akan Amirul Mukminin Ali as menyerupakan bagian belakang tubuh dengan kantong dan menyerupakan mata dengan tali pengikat. Bilamana tali pengikat itu dilonggarkan, maka kantong itu tak dapat menahan apa-apa…”

Hikmah 472

"اللهم اسقنا ذلل السحاب دون صعابها"

Sayed Radhi ra berkata:

“Ini ungkapan fasih yang menakjubkan!


[1] Nahjul Balaghah, akhir khutbah 21 dan juga “Khashaish al-Aimmah as”, hal 112.

back index next