Nahjul Balaghah Dalam Kacamata Cendikiawan Dunia

Kebanggaan Syi’ah

Imam Khomeini ra berkata: “Kami bangga kitab Nahjul Balaghah yang adalah instruksi terbesar kehidupan material dan spiritual dan kitab tertinggi penyelamat manusia serta instruksi-instruksi spiritual dan kenegaraannya menjadi jalan keselamatan tertinggi, berasal dari Imam maksum kita (Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as).”

{Wasiat Ilahi Imam Khomeini ra, hal 3, cetakan Irsyad}

Kembali Kepada Nahjul Balaghah

Pemimpin agung revolusi Islam Ayatullah Khamenei berkata: “…hari ini persyaratan-persyaratan sama seperti persyaratan-persyaratan pemerintahan pada masa Amirul Mukminin Ali as. Maka hari-hari ini adalah hari-hari Nahjul Balaghah. Pada hari ini dapat melihat realita-realita dunia dan masyarakat dari kaca mata cermat dan jelas Amirul Mukminin Ali as dan banyak realita dapat dilihat dan dikenal serta pengobatan berbagai penyakit dapat ditemukan. Demikianlah menurut kita pada hari ini kita lebih membutuhkan Nahjul Balaghah dari waktu-waktu lain… Harapan yang dahulu dan sekarang kita miliki adalah masyarakat kita menjalin keakraban dan kedekatan dengan kitab mulia ini… Saya hendak memperingatkan seputar atensi yang harus kita curahkan kepada Nahjul Balaghah. Pada hari ini kita hanya sedikit memiliki atensi ini, seolah-olah kita tidak mengetahui adanya harta karun makrifat tiada akhir dalam kitab ini, atau hingga saat ini urgensi meraih sumber agung kitab tiada banding ini secara lengkap belum terungkap bagi masyarakat kita, bahkan bagi para pengkaji kita.”

{Kitab “Bazghasht beh Nahjul Balagheh” [Kembali kepada Nahjul Balaghah], hal 28 – 38}

Injil Balaghah

Penulis ternama Ustad “Amin Nakhlah” ulama Masehi berkata kepada seorang yang meminta dari beliau untuk memilih beberapa kata dari ucapan-ucapan Imam Ali as supaya ia mengumpulkan dalam sebuah kitab dan mencetaknya:

“Engkau telah meminta dariku untuk memilih “seratus kata” dari ucapan orang yang paling fasih dari keturunan Arab “Abul Hasan”, supaya engkau mencetaknya dalam sebuah kitab. Aku sekarang ini tidak mengetahui kitab-kitab yang menjamin maksud seperti ini, kecuali beberapa kitab di antaranya Injil Balaghah, Nahjul Balaghah. Dengan tekun aku mempelajari lembar demi lembar kitab agung ini, demi Tuhan aku tidak mengetahui bagaimana aku memilih di antara ratusan kata Ali as hanya seratus kata bahkan lebih lagi aku katakan aku tidak mengetahui bagaimana aku memisahkan sebuah kata dari kata yang lain! Pekerjaan ini persis sama seperti aku mengambil sebutir batu merah delima di antara butir batu merah delima yang lain.

Pada akhirnya aku melakukan hal ini sementara tanganku menggerak-gerakkan batu-batu merah delima dan pandanganku terkesima dari pancaran cahayanya. Tidak dapat dipercaya apabila aku katakan aku telah mengeluarkan sebuah kata dengan sangat sulit dari tambang balaghah ini melalui kebingungan dan ketercengangan!

Oleh karena itu, ambillah seratus kata ini dariku dan selalu ingatlah bahwa seratus kata ini adalah pancaran-pancaran dari cahaya balaghah dan kuncup-kuncup dari kemekaran fashahah.”

{“Dar Peiramun-e Nahjul Balagheh” (Seputar Nahjul Balaghah) Allamah Syahrestani, hal 39 dan 40}

Manifestasi Ilmu Ilahi

Ustad Syaikh Muhammad Ridha Hakimi berkata: “Ucapan abadi “Nahjul Balaghah” adalah sebuah luapan dari sumber Ilahi tiada batas yang bergejolak dengan “perintah Tuhan”nya. Ucapan ini adalah deklamasi kedua kalinya dari realita-realita manifestasi “al-Qur’an Karim” dan dari ilmu-ilmu “wahyu Muhammadi” serta pengenalan-pengenalan al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islami. Demikianlah sehingga Syarif (yang mulia) pemuka Alawi, Dhul Hasabain, Abul Hasan Muhammad bin Husein Musawi, terkenal dengan “Sayed Radhi”, pengumpul “Jami’ Muqaddas” ini berkata:

“…karena kalam Ali as adalah kalam yang di atasnya terdapat sentuhan dari ilmu Ilahi dan di dalamnya sisa dari kalam Nabawi.”

{“Kalam Javedaneh” (Ucapan Abadi) Ustad Hakimi, hal 155}

Power Ucapan

Ustad Syaikh Muhammad Abduh dalam mukaddimah “Syarh Nahjul Balaghah”nya menulis:

“…ketika aku tengah membaca sebagian dari ungkapan-ungkapan Nahjul Balaghah dengan teliti, tampak dalam penglihatanku beberapa kejadian yang menjadi saksi hidup untuk kemenangan power ucapan dan balaghah: Ketika itu hati-hati bercampur dengan argumen hakekat-hakekat, dan pasukan ucapan-ucapan kokoh dan kuat sedemikian rupa mendobrak kebatilan dan menolong kebenaran, yang melenyapkan segala keraguan dan kebatilan. Pahlawan medan perang yang mengibarkan bendera kemenangan ini adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Setiap kali aku mentelaah kitab ini dari satu pasal ke pasal lain, aku merasakan bahwa tirai-tirai ucapan berganti, dan tempat pendidikan nasehat dan hikmah berubah. Terkadang aku mendapatkan diriku sendiri dalam sebuah alam yang membangkitkan jiwa-jiwa bermakna tinggi dengan perhiasan ungkapan-ungkapan yang terang benderang. Makna-makna tinggi ini berputr di sekeliling jiwa-jiwa suci dan hati-hati yang terang sehingga mengilhami kebahagiaan dengannya dan membawa kepada tujuan tinggi yang dimiliki, serta menarik dari ketergelinciran yang mengelilingi menuju jalan kokoh keutamaan dan kesempurnaan…”

{“Daastan-e Ghadir” (Kisah Ghadir), hal 286 dan 287}

Tambang Ucapan

Ustad Hanna Al-Fakhuri menulis: “Ali (as) dalam Nahjul Balaghah pemiliki sebuah kepribadian tunggal. Beliau adalah pemegang akidah yang kuat dan iman yang hidup… Ucapan Ali bin Abi Thalib (as) dari sisi makna adalah sebuah tambang yang menduduki tempat khusus dan tiada banding dalam sastra masa itu dan dari sisi lafad juga memiliki keindahan dan penuh keanggunan, supaya kita mengenal kekayaan lafad dan makna ini maka kita akan menyodorkan sebagian dari hikmah-hikmah, surat-surat dan nasehat-nasehat beliau dengan menjelaskan nilai-nilai lafad dan maknanya… Kitab Nahjul Balaghah adalah sebuah kekayaan agung pemikiran dan sastra.”

{“Tharikh-e Adbiyyat-e Arab” (Sejarah Sastra Arab) Hanna Al-Fakkhuri, hal 248 dan 251}

Ketenangan Jiwa

Allamah Muhammad Baqir Mahmudi pengarang “Nahj As-Sa’adah Fi Mustadraki Nahjil Balaghah” berkata:

“Semenjak pertama aku sangat tertarik kepada Nahjul Balaghah dan setiap kali aku bersedih maka mentelaah kitab ini memberikan kepadaku ketenangan ruh yang aneh sehingga aku melalaikan seluruh kesedihan-kesedihanku…”

{Kitab “Mirats-e Mandegar” (Peninggalan Abadi) jilid 3 / 93}

Lautan Ucapan

Ayatullah Al-Udhma Khui ra berkata: “Ketika Ali as memasuki sebuah pembahasan di dalam Nahjul Balaghah, maka tidak ada tempat lagi untuk berbicara sehingga orang-orang yang tidak mengetahui sejarah kehidupan Amirul Mukminin Ali as akan mengira bahwa beliau menghabiskan umurnya hanya untuk (membahas) tema tersebut.”

{Kitab “Peyam-e Emam ra” (Pesan Imam Khomeini ra) 1 / 45}

Harta Karun Yang Baik

Ustad Nashif Yazji mengenai keagungan Nahjul Balaghah berkata:

“Dalam penulisan aku belum menjadi ustad dan mahir kecuali dengan mempelajari al-Qur’an dan Nahjul Balaghah, dua kitab agung ini dan kokoh ini, dua kitab penuh kebesaran ini adalah harta karun yang baik bahasa Arab dan penyimpanan penting bagi para penuntut ilmu-ilmu sastra”

{“Syarhul Qashidah” Abdul Masih Anthaki, hal 541 menukil dari “Dar Peiramun-e Nahjul Balagheh” hal 55}

Pelajaran Fashahah dan Balaghah

Muhammad bin Ali bin Thaba’thaba (Ibnu Thaqthaqi) menulis:

“[Kitab “Maqamat Hariri”] jika dari satu sisi bermanfaat, dari sisi lain merugikan. Sebagaimana sekelompok orang mengetahui keaiban-keaiban “Maqamat Hariri Wa Badi’i” seperti ini dan sebagian orang menghadap kepada “Nahjul Balaghah” yang adalah dari kata-kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as; karena Nahjul Balaghah adalah sebuah kitab yang bercampur hikmah-hikmah, nasehat-nasehat, khutbah-khutbah, tauhid, keberanian, zuhud dan ketinggian niat, dan faedah minimalnya adalah mempelajari fashahah dan balaghahnya.”

{Tarjumeh Tarikh Fakhri (Terjemah Tarikh Fakhri), hal 16}

Putera Al-Qur’an

Ustad syahid ayatullah Muthahhari ra menulis:

“Ucapan Ali as bagi beliau adalah sarana, bukan tujuan, beliau tidak ingin meninggalkan sebuah karya seni atau sebuah karya agung sastra dengan sarana ini, yang lebih tinggi dari semua itu adalah ucapan beliau general dan tidak terbatas kepada masa, tempat dan orang-orang tertentu. Obyeknya adalah manusia, oleh karena itu, tidak mengenal batasan tempat dan juga waktu… Nahjul Balaghah dari seluruh sisi terpengaruhi dari al-Qur’an dan pada hakekatnya adalah putera al-Qur’an.”

{“Sairi Dar Nahjul Balagheh” Ustad Muthahhari, hal 31}

Hanya Tiga Kata

‘Amr bin Bahr Jahidh berkata: “Aku ingin memberikan seluruh kitab dan karyaku dan memutus serta tidak mengakui penyusunan kitab-kitab tersebut dariku dan sebagai gantinya, aku mengklaim hanya tiga kata dari kata-kata Ali bin Abi Thalib as dariku dan menisbatkannya kepadaku…”

{Ma’arej Nahjul Balagheh Baihaqi, hal 10}

Uslub (Metode) Menakjubkan

Ustad Syaikh Mustafa Ghulayini berkebangsaan Lebanon menulis:

“Termasuk kitab-kitab terbaik yang layak ditelaah oleh orang yang ingin memahami uslub tinggi, adalah mentelaah kitab Nahjul Balaghah Imam Ali as. Sebuah kitab yang karenanya makalah ini (Nahjul Balagheh Va Uslubha-ye Kalam-e Arabi) ditulis. Sesungguhnya dalam kitab ini, akan ditemukan ucapan-ucapan baligh, metode-metode yang mengherankan, makna-makna tinggi dan mengena di hati serta pembahasan-pembahasan bernilai…”

{Majalah “Turatsuna” no 34, hal 100}

Kitab Politik

Sebagian cendikiawan seputar Nahjul Balaghah berkata:

“Mayoritas khutbah-khutbahnya seputar politik dan minoritasnya seputar zuhud (akhlak)”

{“Tarikhul Adab Al-‘Arabi” (Sejarah Sastra Arab), Doktor Umar Farrukh, jilid 1, hal 309 menukil dari Kalam Javedaneh (Abadi), hal 178}