Berdasarkan data sejarah yang paling popular, Ali lahir pada tanggal 13 Rajab 30 tahun Gajah atau sepuluh tahun sebelum pengutusan Rasulullah saw dan tiga tahun sebelum hijrah.[1] Ada beberapa versi lagi berkenaan dengan tanggal kelahiran beliau; 7 Sya'ban, 23 Sya'ban dan juga pertengahan bulan Ramadan.[2] Perlu pula diketahui bahwa penyusun al-Kâfî dan beberapa ulama lainnya juga meyakini tahun 30 dari tahun Gajah tersebut sebagai hari kelahiran beliau as.[3]
Data sejarah tentang kapan beliau memeluk agama Islam juga simpang-siur; mulai dari beliau usia tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun. Namun, yang populer dan lebih akurat adalah data yang menyatakan bahwa beliau masuk Islam pada usia sepuluh sampai dua belas tahun.[4] Beliau meneguk cawan syahadah pada tanggal 23 Ramadan 4 Hijriah, tepatnya di kota Kufah.
Ayah beliau adalah Abu Thalib dan ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Rasulullah saw menyikapi Fatimah binti Asad seperti ibunya sendiri, dan ketika ia meninggal dunia, Rasulullah saw memfungsikankan bajunya sebagai kafan Fatimah seraya mengiringi jenazah dan menangisinya.
Amirul Mukminin di Masa RasulullahMasa kanak-kanak dan pertumbuhan Ali as berlalu di rumah Nabi Muhammad saw.[5] Banyak sekali cerita menarik seputar pengalaman hidup beliau di dalam rumah Rasulullah saw. Semua data tentang hal ini telah dikumpulkan dengan rapi oleh Ibn Abil Hadid di dalam bukunya, Syarah Nahjul Balaghah. Salah satunya adalah riwayat dari Zaid bin Ali bin Husain as bahwa pada masa itu Nabi Muhammad saw senantiasa mengunyah dan melembutkan daging dan korma di mulutnya agar dapat dengan mudah dikonsumsi, lantas beliau menyuapkannya ke mulut Ali as.[6] Dan kedekatan ini telah menjadi salah satu faktor bagi beliau untuk menjadi orang pertama yang memeluk agama Islam dan beriman kepada ajakan Rasulullah saw. Beliau sendiri berkata, "Tak seorang pun yang mendahuluiku dalam menunaikan ibadah shalat kecuali Rasulullah saw."[7] Begitu banyak bukti dan kesaksian akan hal ini sehingga tidak tersisa lagi keraguan sedikitpun bagi orang-orang yang netral dan tidak sentimen atau fanatik. Diceritakan bahwa nabi Muhammad saw sendiri yang maju melangkah dan mengajak Ali as untuk menerima risalahnya. Dengan demikian, hal itu menunjukkan kematangan intelektual Ali as pada saat itu.[8] Sebab, jika tidak demikian, maka itu adalah satu hal yang negatif bagi Rasulullah saw mengajak orang di bawah umur dan belum dewasa dalam menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah ….
Al-Mas'udi berkata, "Sebagian orang menyebutkan bahwa usia Ali as masih dini saat memeluk agama Islam sampai akhirnya terlontar pernyataan bahwa beliau masuk Islam di saat masih anak-anak."[9]
Pengorbanan Ali as di jalan Islam merupakan salah satu faktor utama mengapa Rasulullah saw sering mengutarakan keutamaan-keutamaannya. Ahmad bin Hanbal berkata, "Begitu banyak hadis sahih dan bisa diterima sampai kepada kita tentang keutamaan Ali as, dan sama sekali tidak ada hadis sebanyak itu yang sampai kepada kita tentang sahabat yang lain."[10] Ia juga berkata, "Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib as tidak bisa dibandingkan dengan siapapun."[11]
Abu Sa'id al-Khudri berkata, "Ali as senantiasa pulang dan pergi mengunjungi Rasulullah saw dan tak seorang pun ikut serta bersamanya. Begitu pula Rasulullah saw selalu keluar dan masuk mendatanggi Ali as dan tak seorang pun bersama mereka berdua …."[12]
Zaid Bin Tsabit pernah berkata kepada beliau, "Posisimu di sisi Rasulullah saw tidak tertandingi oleh siapa pun."[13] Perlu dicatat bahwa dia mengeluarkan pernyataan ini ketika dia betul-betul gigih mendukung Utsman bin Affan. Inilah yang menjadi faktor mengapa ia as mengenali Rasulullah saw jauh di atas pengenalan orang lain kepada beliau.[14]
Satu lagi bukti perhatian spesial Rasulullah saw terhadap Ali as adalah mengawinkan putri tercintanya, wanita terpilih alam semesta dengannya, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah datang melamar Fatimah as dan tertolak. Akan tetapi, ketika Ali as melangkah maju dan melamarnya, ia diterima dengan senang hati.[15]
Ketika ia menikahi Fatimah as, Rasulullah saw menyuruhnya untuk mendapatkan rumah, dan ia berhasil mendapatkannya. Tapi rumah itu terletak jauh dari tempat tinggal Nabi. Lalu beliau meminta mereka berdua untuk tinggal lebih dekat di sisinya, dan hal itu dapat terwujud dengan pengorbanan Haritsah bin Nu'man yang memasrahkan rumahnya kepada mereka.[16] Mungkin inilah alasan kenapa Abdullah bin Umar berkata, "Apabila kalian ingin tahu kedudukan Ali as di sisi Rasulullah saw, maka lihatlah posisi rumahnya dari rumah beliau saw."[17]
Saat kejadian akad persaudaraan di tengah masyarakat Islam pada zaman Rasulullah saw, beliau memilih Ali as sebagai saudara.[18] Saat Rasulullah saw berceramah, Ali as mengulangnya untuk orang-orang yang duduk jauh dari beliau dan sulit mendengarnya secara langsung.[19] Saat Rasulullah saw marah, tak seorang pun berani berbicara dengan beliau kecuali Ali as.[20] Masyarakat senantiasa menjadikan Ali as sebagai perantara kepada beliau untuk mendapatkan solusi atas problema mereka.[21] Data-data sejarah Ahlusunah sendiri mencatat pernyataan 'Aisyah, "Orang yang paling dicintai Rasulullah saw dari kaum pria adalah Ali, dan orang yang paling dicintai beliau dari kaum wanita adalah Fatimah."[22] Di salah satu hadis yang paling akurat dan benar, yaitu hadis Manzilah (kedudukan), Rasulullah saw menegaskan bahwa kedudukan Ali di sisi beliau seperti kedudukan Nabi Harun as di sisi Nabi Musa as.[23] Setiap kali muncul problem yang perlu mengutus seseorang untuk memperbaikinya, Rasulullah saw mengirim Ali as untuk mengemban tugas tersebut.[24]
Pernah seorang bertanya kepada Sayidina Ali as, "Bagaimana Anda bisa lebih banyak meriwayatkan hadis dari pada sahabat yang lain?" Beliau menjawab, "Karena ketika aku bertanya kepada beliau, beliau mengajariku, dan apabila aku diam, maka beliaulah yang memulai pembicaraan denganku."[25] Ali as juga berkata, "Aku tidak pernah mengalami kebodohan kecuali aku menanyakannya kepada Rasulullah saw, kuserap jawabnya dan kusimpan baik-baik dalam memoriku."[26] Ia juga berkata, "Apapun yang kudengar dari Rasulullah saw senantiasa kuingat dan tak pernah kulupakan."[27] Di salah satu surat beliau menuliskan, "Aku dan Rasulullah saw seperti dua tangkai dari satu pohon, dan seperti tangan dan lengan."[28]
Ali as berkata, "Aku mengikuti jejak Rasulullah saw seperti anak unta yang mengikuti jejak induknya."[29] Beliau juga berkata, "Sesaatpun aku tak pernah melawan Allah SWT dan sesaatpun aku tak pernah menentang Rasulullah saw."[30] Dalam proklamasi pembebasan diri (bara'ah), Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw agar beliau sendiri yang menyampaikan kepada khalayak umum, atau jika tidak, maka harus orang dari beliau yang melakukan hal itu. Oleh karena itu, Rasulullah saw memberhentikan Abu Bakar di tengah jalan dan menyerahkan surat pembebasan diri itu kepada Ali as untuk disampaikan di hari besar haji.[31]
Di dalam ceramahnya yang berjudul "al-Qashi'ah", Ali as mengungkapkan kedekatannya dengan Rasulullah saw dalam untaian kata-kata yang sangat indah.[32] Begitu dekatnya beliau dengan Rasulullah saw sehingga Ali as berkata, "Sumpah demi Tuhan! Tidak ada satu pun dari ayat Al-Al-Qur’an yang turun kecuali aku tahu tentang apa dan di mana turunnya."[33]
Ibn Abbas mengatakan, "Allah SWT tidak mengirimkan surat Al-Qur’an kecuali Ali as adalah amir dan tuannya. Allah SWT pernah menghardik sahabat Rasulullah saw, akan tetapi Ia tidak pernah berfirman tentang Ali kecuali secara baik."[34]
Ahmad bin Hanbal memberikan jawaban kepada orang yang merasa aneh dan terkejut bagaimana Ali as menjadi pembagi surga dan neraka seraya berkata, "Bukankah diriwayatkan pula dari Rasulullah saw yang bersabda kepada Ali as, 'Tak seorang pun yang mencintaimu kecuali orang yang beriman, dan tak seorang pun yang membencimu kecuali orang yang munafik?'" Mereka menjawab, "Iya." Lalu Ahmad melanjutkan penjelasannya, "Oleh karena tempat orang beriman adalah surga dan tempat orang munafik adalah neraka, maka Ali as adalah pembagi surga dan neraka."[35]
Umar Bin Abdulaziz mengatakan, "Andaikan masyarakat yang bodoh ini tahu akan apa yang kita ketahui tentang Ali, niscaya tidak lebih dari dua orang yang akan mengikuti kita."[36]
Salman berkata, "Apabila Ali as pergi dari sisi kalian, niscaya tidak ada orang lagi yang mengungkapkan rahasia-rahasia Rasulullah saw kepada kalian."[37] Tepat sekali apa yang dikatakan Ibn Abil Hadid, "Tidak seorang pun setara dengan Abu Thalib dan anak-anaknya, Ali dan Ja'far, dalam menolong Rasulullah saw."[38]
Ketika seorang datang mengadukan Ali as kepada Rasulullah saw karena satu permasalahan, beliau tiga kali menjawab, "Jangan ganggu Ali, sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku dari Ali, sesungguhnya Ali adalah pemimpin (wali) semua orang yang beriman."[39]
Ali as telah menyelamatkan nyawa Rasulullah saw di malam hijrah.[40] Sekitar 30 orang musyrik yang terbunuh di tangan Ali as di perang Badar. Di saat sejumlah besar sahabat Nabi lari meninggalkan medan perang Uhud, Ali as tetap tinggal di sisi Rasulullah saw dan menjaga serta menyelamatkan nyawa beliau dari serangan musuh. Tebasan pedang Ali as di perang Khandak yang menimpa Amr Bin Abdi Wud dinilai Rasulullah saw lebih tinggi dari pada ibadahnya jin dan manusia. Dan pukulan inilah yang mendesak musuh untuk menarik mundur pasukan mereka.[41] Di mayoritas peperangan Nabi saw, Ali as adalah pengibar bendera pasukan Islam.[42]
Tanpa ragu bisa dikatakan bahwa tiada seorang pun dari sahabat Nabi saw yang menandingi ilmu Ali as. Hal ini terbukti oleh sabda Rasulullah saw sendiri dan juga sahabat, dan di samping itu pula, sejarah menjadi saksi nyata atas hal tersebut. Sabda Nabi saw, "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya" adalah sebaik bukti atas hal di atas. Begitu pula dengan perkataan Ali as, "Tanyalah aku sebelum kalian kehilangan diriku."[43] Ini adalah tantangan yang—menurut pengakuan Sa'id Bin Musayyib—tak ada sahabat selain Ali berkata demikian.[44] Rasulullah saw selalu menugaskan Ali as untuk mengajarkan wudhu dan sunah kepada masyarakat.[45] 'Aisyah, yang sejak zaman Nabi saw selalu memusuhi Fatimah dan Ali as, berkata, "Ali adalah orang paling pintar tentang sunah".[46] Atha', salah seorang tabi'in yang populer, berkata, "Ali adalah orang yang paling faqih di antara para sahabat Nabi saw."[47] Umar Bin Abdul Aziz menyebut Imam Ali as sebagai orang yang paling zuhud di antara para sahabat.[48]