IMAM ALI AS. PRA WAFATNYA RASUL ALLAH S.A.W.

Pada hari-hari terakhir hayatnya Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. telah sampai pada puncak

kematangannya, baik secara fisik, mental maupun pemikiran. Ketaqwaan dan imannya yang

kuat telah teruji dalam pengalaman membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ilmu-ilmu

Ilahiyah yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. telah cukup untuk menghadapi

dan menanggulangi berbagai problem yang akan muncul di kalangan umat Islam. Tentang hal

itu Nabi Muhammad s.a.w. sendiri telah menegaskan: "Aku ini adalah kotanya ilmu, sedang Ali

adalah pintunya."

Penegasan Nabi Muhammad s.a.w. tentang kecerdasan dan kematangan fikiran Imam Ali r.a.

kiranya cukup menjadi ukuran sejauh mana ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dituangkan

beliau kepada putera pamannya itu.

 

Pandangan Nubuwwah

Adalah wajar bila Rasul Allah s.a.w. bangga mempunyai seorang keluarga yang telah dibekali

syarat-syarat untuk dapat meneruskan kepemimpinannya atas kaum muslimin. Berkat

ketajaman pandangan nubuwwahnya, Nabi Muhammad s.a.w. telah melihat akan terjadinya

hal-hal yang tidak menggembirakan sepeninggal beliau di masa mendatang.

Mengenai hal yang terakhir ini, Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid X

halaman 182-183 mengatakan: "Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk

menghadapi rongrongan Romawi di Balqa --di bawah pimpinan Usamah bin Zaid-- Nabi

Muhammad s.a.w. berziarah ke makam Buqai'. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan:

'Assalamu 'alaikum, ya ahlal-qubur'. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang

daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi

seperti datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir."

Setelah memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat:

"Biasanya Jibril menghadapkan Al Qur'an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini

menghadapkan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat."

Keesokan harinya Rasul Allah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema'ah para sahabat.

Beliau berkata: " Hai orang-orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari tengah-tengah kalian.

Barang siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan kembali

kepadanya. Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera

kulunasi. Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau urusan

apa pun yang dapat mendatangkan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal perbuatan.

Janganlah ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi

Allah yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan

selain amal perbuatan disertai cinta-kasih. Seandainya aku berbuat durhaka aku pun pasti

tergelincir. Ya Allah ..., amanat-Mu telah kusampaikan!"

Dari ucapan-ucapan Rasul Allah s.a.w. malam hari di makam Buqai' dan dari khutbah beliau

yang diucapkan keesokan harinya, jelaslah bagi kaum muslimin kesukaran-kesukaran yang bakal

dihadapi sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Kesukaran-kesukaran yang hanya dapat ditanggulangi

dengan amal perbuatan yang disertai cinta-kasih, sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Secara tidak langsung pun beliau memperingatkan, bahwa barang siapa berbuat durhaka, ia

pasti akan tergelincir ke jalan yang tidak diridhoi Allah s.w.t.

Jatuh sakit

Canang dan peringatan Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya itu diucapkan di kala kaum

muslimin di seluruh jazirah Arab sudah dalam keadaan mantap. Hanya dalam waktu 10 tahun,

jazirah yang seluas itu telah bernaung di bawah kibaran panji-panji agama Allah. Untuk

pertama kalinya dalam sejarah, jazirah yang dihuni oleh qabilah-qabilah, suku-suku dan puakpuak

yang saling bertentangan, bersaingan dan bercerai-berai itu, kini telah berhasil

dipersatukan dalam satu agama, satu aqidah dan satu pimpinan. Agama Islam aqidahnya ialah

tauhid dan pimpinannya ialah Rasul Allah s.a.w.

Atas kehendak Allah s.w.t. dan rakhmat-Nya serta berkat kebijaksanaan Rasul-Nya, perjuangan

mengakhiri paganisme (agama keberhalaan) telah mencapai prestasi yang luar biasa besarnya.

Missi suci menyebarkan agama Islam, praktis telah diselesaikan dengan sukses oleh Nabi

Muhammad s.a.w.

Sekembalinya dari ibadah haji wada', Rasul Allah s.a.w. mengangkat Usamah bin Zaid bin

Haritsah sebagai panglima pasukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa,

sebelah utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru berusia 22 tahun itu,

menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih

terdapat panglima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk

jabatan itu. Namun Rasul Allah s.a.w. tetap berpegang teguh pada kebijaksanaan yang telah

ditetapkan.

Secara psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda yang

cerdas dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang kecil dalam

jajaran pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu'tah sebagai pahlawan syahid dalam

pertempuran melawan pasukan Romawi. Karena itu diharapkan Usamah akan mendapat

kesempatan baik untuk menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pada waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga, tibatiba

Rasul Allah s.a.w. jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya. Beliau

menderita penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan

di jalan Allah s.w.t., kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat resah melihat

penyakit beliau yang tampak gawat.

Meskipun demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang

manusia utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit. Lebihlebih

karena di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresahan fikiran sementara

sahabat yang kurang bisa menerima pengangkatan Usamah.

Mengenai Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil tak

dapat ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin

ekspedisi ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda. Muhammad

Husein Haikal dalam bukunya "Hayat Muhammad" tentang hal itu mengatakan: "Timbul

keyakinan di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat.

Kebijaksanaan beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri

memikul beban tanggung jawab yang besar dan berat."

Makin hari penyakit yang diderita-Rasul Allah s.a.w. makin gawat. Semula beliau tetap

berusaha agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami shalat jama'ah. Akan

tetapi ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash

Shiddiq r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu. Perintah Nabi

Muhammad s.a.w. kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diartikan orang

sebagai petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan

ummat Islam sepeninggal Rasul Allah s.a.w.

Wasiyat

Dalam keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasul Allah s.a.w. menyampaikan

pesan kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga

hubungan baik dengan kaum Anshar. "Mereka itu", yakni kaum Anshar, kata Nabi Muhammad

s.a.w., "adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi

perlindungan kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan

memaafkan mereka bila ada yang berbuat salah."

Imam Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadits, dengan sanad Ubaidillah bin

Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasul Allah s.a.w. sedang

mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara mereka

itu terdapat Umar Ibnul Khattab r.a. Nabi Muhammad s.a.w. berkata:

"Marilah…, akan kutuliskan untuk kalian suatu kitab (secarik surat wasyiat) dengan mana kalian

tidak akan sesat sepeninggalku."

Mendengar itu Umar bin Ibnul Khattab r.a. berkata kepada sahabat-sahabat lainnya: "Nabi

dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur'an. Cukuplah Kitab Allah itu

bagi kita."

Menanggapi perkataan Umar r.a. itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya

segera disediakan alat tulis agar Rasul Allah s.a.w. menuliskan wasiyatnya yang terakhir. Ada

pula yang sependapat dengan Umar r.a. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasul Allah

s.a.w. akhirnya menghardik: "Nyahlah kalian!"

Hadits itu tidak perlu lagi dipersoalkan kebenarannya. Sebab Al-Bukhari sendiri meriwayatkan

hadits tersebut di berbagai tempat dalam Shaihnya. Juga Muslim dalam Shahihnya pada bagian

"Wasiyat terakhir" meriwayatkan hadits tersebut dari Sa'ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu

Abbas pula.

At-Thabrani dalam "Al-Ausath" mengemukakan: "Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menghadapi

ajal, beliau berkata: "Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang

dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya."

Mendengar ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wanita yang menunggu di belakang tabir

(hijab) berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: "Tidakkah kalian

mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Allah ?"

Umar Ibnul Khattab r.a. segera menyahut: "Kukatakan, kalian itu sama dengan wanita-wanita

yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasul Allah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika

beliau sehat kalian menunggangi lehernya!"

Mendengar ucapan Umar r.a. itu Rasul Allah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan: "Biarkan

mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian."

Hadist yang diketengahkan oleh At-Thabrani itu terdapat dalam "Kanzul 'Ummal", jilid III, hlm

138.

Penyakit Rasul Allah s.a.w. mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Sitti

Maimunah r.a., salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta

supaya dibawa ke tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. Dengan berikat kepala, beliau keluar dan

berjalan sambil bertopang pada Imam Ali r.a. dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat

kediaman Sitti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali.

Beberapa hari kemudian, di saat banyak orang sedang menunaikan shalat jama'ah yang diimami

oleh Abu Bakar r.a., tiba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka dengan

bertopang pada Imam Ali r.a. serta Al Fadhl bin Abbas. Shalat subuh berjama'ah itu hampir saja

tertunda karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasul Allah s.a.w.

memerintahkan supaya shalat dilanjutkan.

Abu Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam shalat

kepada beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap

setengah berbisik: "Teruskan mengimami shalat". Beliau kemudian mengambil tempat di

samping kanan Abu Bakar r.a. dan menunaikan shalat sambil duduk.

Seusai shalat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap kebelakang dan bertatap-muka

dengan jama'ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasul Allah s.a.w.

berangsur sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata: " Hai kaum muslimin, api neraka

sudah bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku tidak

akan menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur'an. Aku pun tidak akan

mengharamkan sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur'an. Terkutuklah orang yang

menggunakan pekuburan sebagai tempat bersujud (Masjid)."

Kesehatan Rasul Allah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat tersiar

luas dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. Usamah bin Zaid, yang semula

sudah siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasul Allah s.a.w. sakit keras, kemudian

menghadap beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a.

sendiri pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kembali menjalankan tugas sehari-hari. Begitu

pula Umar Ibnul Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak

meninggalkan masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing.

 

Wafat

Akan tetapi kondisi kesehatan beliau yang seperti itu ternyata hanya semu belaka. Beberapa

saat kemudian penyakitnya berubah menjadi gawat kembali. Detik-detik terakhir hayatnya tiba

dikala beliau berbaring di pangkuan isterinya, Sitti Aisyah r.a.

Agak lain dari itu, menurut Imam Ahmad bin Hanbal dalam Masnadnya jilid II, halaman 300, dan

menurut At-Thabariy dalam Dzakha'irul'Uqba' halaman 73, beliau wafat di atas pangkuan Imam

Ali r.a. Ucapan terakhir yang keluar pada detik kemangkatan beliau ialah "Ar Rafiqul A'laa.

minal jannah…"

Ada yang mengatakan beliau wafat pada bagian akhir bulan shafar tahun 11 hijriyah. Ada pula

sejarawan yang menyebut permulaan Rabi'ul Awwal sebagai hari wafat beliau. Kaum Syi'ah,

misalnya, mengatakan bahwa beliau wafat dua hari terakhir bulan shafar. Tetapi banyak

penulis sejarah lainnya mengatakan pada permulaan bulan Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyah,

atau tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi.

Tentang hari dan tanggal wafatnya Rasul Allah s.a.w. bukanlah suatu masalah yang perlu

dipersoalkan. Yang penting dan yang sangat perlu ditekankan, bahwa pada saat-saat terakhir

hayatnya, beliau tidak mengatakan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan atas

ummatnya. Hal ini di belakang hari akan menjadi titik perbedaan pendapat tentang

kepemimpinan ummat di kalangan kaum muslimin.

Rasul Allah s.a.w pulang keharibaan Allah Rabbul'alamin hanya meninggalkan Kitab Allah yang

berisi firman-firman-Nya, dan ajaran serta tauladan beliau yang kemudian dikenal sebagai

Sunnah Rasul Allah s.a.w. Beliau mangkat meninggalkan Islam sebagai buah risalah suci dalam

keadaan lengkap dan sempurna, yang kehadirannya di permukaan bumi akan melahirkan

peradaban baru dalam kehidupan manusia.

Nabi Muhammad s.a.w. wafat meninggalkan keluarga dan para sahabat, yang ketangguhan Iman

dan kesetiaannya kepada Islam bisa diandalkan untuk menjamin kelestarian agama Allah dan

mengembang-luaskan manusia pemeluknya. Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap.

Itulah motto perjuangan ummat Islam yang mau tidak mau harus diperhitungkan oleh kekuatankekuatan

kuffar di Barat dan kekuatan-kekuatan musyrikin di Timur.

Kemangkatan Rasul Allah s.a.w. merupakan peristiwa yang tidak diduga akan secepat itu.

Kejadian yang terasa sangat mengejutkan itu, mengakibatkan banyak kaum muslimin

terombang-ambing antara percaya dan tidak. Bahkan sahabat terdekat beliau sendiri, yaitu

Umar Ibnul Khattab r.a. masih juga tidak mau percaya mendengar berita tentang wafatnya

Rasul Allah s.a.w. Hingga saat ia sendiri menyaksikan jenazah suci terbaring di rumah Sitti

Aisyah r.a., masih tetap berseru kepada semua orang: "Rasul Allah tidak wafat! Beliau hanya

menghilang dan akan kembali lagi!"

Umar Ibnul Khattab r.a. tetap membantah, bahkan mengancam-ancam setiap orang yang

mengatakan bahwa Rasul Allah telah wafat. Apa yang diperlihatkan oleh Umar Ibnul Khattab

r.a. itu hanya menunjukkan betapa hebatnya goncangan kaum muslimin mendengar berita

tentang wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.

Seorang sahabat lainnya, Al-Mughirah, berusaha meyakinkan Umar r.a. bahwa Rasul Allah

s.a.w. benar-benar wafat. Dengan geram Umar r.a. menuduhnya sebagai pembohong. Umar

r.a. menjawab: "Beliau hanya pergi menghadap Allah, sama seperti Musa bin Imran yang

menghilang dari tengah-tengah kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi kepada

mereka."

Banyak orang yang dituduh oleh Umar r.a. sebagai munafik, hanya karena memberitakan

kemangkatan Rasul Allah s.a:w. Kepada orang-orang yang sedang berkerumun di masjid

Nabawi, Umar r.a. meneriakkan ancaman: "Barang siapa berani mengatakan Rasul Allah telah

wafat, akan kupotong kaki dan tangannya!" Ancaman Umar r.a. yang seperti itu cukup

menambah bingungnya kaum muslimnin yang sedang dirundung duka cita.

Abu Bakar r.a. yang baru saja datang dari Sunh, ketika mendengar Umar r.a. melontarkan katakata

sekeras itu, berusaha meyakinkan dengan mensitir ayat 144 Surah Ali Imran, yang dalam

bahasa Indonesianya: "Muhammad itu tiada lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah

berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik

ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang ia tak dapat mendatangkan mudharat

kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang

bersyukur."

Mendengar itu sadarlah Umar Ibnul Khattab atas kekhilafannya.

 

Pemakaman

Pada saat wafatnya Rasul Allah s.a.w. Imam Ali r.a. adalah orang pertama yang segera turun

tangan untuk merawat dan mempersiapkan pemakaman jenazah manusia terbesar di dunia,

yang paling dicintai dan dikaguminya. Untuk pertama kali kaum muslimin menghadapi cara

pemakaman jenazah orang yang paling mereka hormati dan mereka cintai sebagai pemimpin

agung.

Seorang manusia pilihan Allah, Nabi dan Rasul-Nya. Seorang besar yang tak akan pernah ada

bandingannya dalam sejarah. Seorang arif bijaksana yang telah berhasil mengubah tatakehidupan

bangsanya. Seorang yang telah menunjukkan kesanggupan merombak secara

menyeluruh nilai-nilai lama dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang mulia dan luhur,

yaitu Islam. Seorang manusia agung yang jauh lebih mulia dibanding dengan kepala-kepala

qabilah, pemimpin-pemimpin golongan, bahkan raja-raja sekalipun. Seorang yang hanya dalam

waktu kurang lebih dua dasawarsa sanggup mengubah wajah dunia Arab dan mengangkat

derajat satu bangsa yang tadinya dipandang rendah menjadi sangat disegani oleh kekutankekuatan

raksasa seperti Romawi dan Persia. Jauh lebih besar lagi, karena Nabi Muhammad

s.a.w. datang ke tengah-tengah ummat manusia membawa agama besar untuk menegakkan

kebenaran dan keadilan di permukaan bumi.

Tata-cara yang direncanakan untuk memakamkan jenazah suci itu ternyata banyak

menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, terutama mengenai problema:

siapa yang berhak memandikan, siapa yang berhak menurunkan ke liang lahad dan lain

sebagainya.

Tentang di mana jenazah suci akan dikebumikan juga menimbulkan perbedaan pendapat di

kalangan para sahabat. Sebagian menuntut supaya jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan di

Makkah. Sebagai alasan dikatakan, di kota itulah beliau dilahirkan. Sebagian lain menuntut

supaya jenazah beliau dimakamkan di Madinah, di pemakaman Buqai', dengan alasan agar

beliau bersemayam bersama-sama pahlawan syahid yang gugur dalam perang Uhud. Akhirnya

perbedaan pendapat ini dapat disudahi, setelah Abu Bakar r.a. mengumumkan, bahwa ia

mendengar sendiri penegasan Rasul Allah s.a.w.: "Semua Nabi dimakamkan di tempat mereka

wafat". Berdasarkan itu bulatlah mereka memakamkan jenazah Nabi Muhammad s.a.w. di

rumah beliau di Madinah.

Tentang masalah siapa yang akan mengimami shalat jenazah secara berjama'ah juga terdapat

pertikaian. Pertikaian itu terjadi karena hal itu dipandang suatu kehormatan yang sangat tinggi

bagi seorang yang bertindak selaku Imam shalat jenazah bagi manusia agung seperti Nabi

Muhammad s.a.w. Karena tidak tercapai kesepakatan, akhirnya tiap orang melakukan shalat

jenazah sendiri-sendiri. Sementara itu terdapat riwayat lain yang mengatakan, bahwa di kala

itu Imam Ali r.a. mengusulkan shalat jenazah secara berjema'ah. Usul tersebut diterima oleh

kaum muslimin, bahkan disepakati ia bertindak sebagai imam.

Begitu pula, tentang siapa yang akan mendapat kehormatan menurunkan jenazah suci ke liang

lahad. Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasul Allah s.a.w. mengusulkan supaya Abu Ubaidah

bin Al Jarrah saja yang menurunkan ke liang lahad. Sebagai alasan dikemukakan, bahwa dia

sudah biasa menggali lahad dan mengembumikan orang-orang Makkah. Imam Ali r.a.

berpendirian lain. Ia mengusulkan agar Abu Thalhah Al-Anshariy saja yang turun ke liang lahad.

Alasannya senada dengan paman Rasul Allah s.a.w. di atas, hanya kotanya lain: "Ia sudah biasa

menggali lahad dan memakamkan orang-orang Madinah."

Setelah melalui pertukaran pendapat beberapa lamanya, akhirnya terdapat saling pengertian

dan Abu Thalhah mendapat kehormatan menggali liang lahad. Kemudian timbul pula problema

baru. Siapa yang akan menyertai Abu Thalhah dalam melaksanakan tugas terhormat itu?

Problema-problema seperti di atas timbul, karena tidak ada seorang pun yang diakui

otoritasnya untuk mengatur dan menentukan tata-cara pemakaman. Juga karena tidak ada

wasiyat apa pun dari Rasul Allah s.a.w. tentang sesuatu yang perlu dilakukan kaum muslimin

pada saat beliau wafat. Soal-soal yang bagi orang zaman sekarang dianggap kurang penting,

pada masa itu benar-benar dipandang sebagai satu soal yang besar. Lebih-lebih karena yang

dihadapi kaum muslimin ialah jenazah Rasul Allah s.a.w. Hal itu wajar. Rasanya tidak ada

kehormatan yang lebih tinggi dari pada memperoleh kesempatan memberikan pelayanan

terakhir kepada jenazah suci itu.

Akhirnya Imam Ali r.a. dengan terus terang dan tegas berkata: "Tidak ada orang yang boleh

turun ke liang lahad bersama Abu Thalhah selain aku sendiri dan Abbas."

Sungguh pun sudah ada ketegasan seperti itu dari Imam Ali r.a., namun dalam praktek ia

membolehkan juga Al-Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid turun ke liang lahad. Hal itu

menimbulkan rasa kurang enak di kalangan kaum Anshar. Mereka menuntut agar ada seorang

dari kaum Anshar yang ikut. Tuntutan yang adil itu akhirnya disepakati dan ditunjuklah

orangnya, Aus bin Khauliy. Aus dulu pernah ikut aktif dalam perang Badr melawan kaum

musyrikin Qureiys.

Dalam semua kegiatan membenahi pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. benarbenar

memainkan peranan yang sangat dominan. Bahkan waktu memandikan jenazah beliau,

Imam Ali r.a.lah satu-satunya orang yang menjamah jasad manusia agung itu. Hal itu

dimungkinkan karena sebelumnya banyak orang yang sudah mendengar, bahwa Rasul Allah

s.a.w. sendiri pernah menyatakan, hanya Imam Ali r.a. saja yang boleh melihat aurat beliau.

Kesan Imam Ali r.a. yang sangat mendalam dan selalu terkenang dari peristiwa memandikan

jenazah suci itu ialah: "…kubalikkan sedikit saja, jasad beliau sudah menurut. Sama sekali tidak

kurasakan berat. Seolah-olah ada tangan lain yang membantuku, bukan lain pasti tangan

Malaikat."

Riwayat lain mengatakan, bahwa yang memandikan jenazah Rasul Allah s.a.w. bukan hanya

Imam Ali r.a., tetapi juga Abbas bin Abdul Mutthalib serta dibantu oleh dua orang puteranya

yang bernama Al-Fadhl dan Qutsam, di samping Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid dan Syukran,

yang sampai saat terakhir menjadi pembantu Rasul Allah s.a.w., dua-duanya menuangkan air.

Jasad jenazah suci dimandikan tetap dalam mengenakan pakaian. Di saat memandikan Imam

Ali r.a. tertegun oleh keharuman bau semerbak dan sambil bergumam mengucapkan: "Demi

Allah, alangkah harumnya engka.u di waktu hidup dan setelah meninggal!"

Sementara riwayat mengatakan pula, hahwa pemakaman jenazah suci itu dilakukan pada

malam hari di bawah cahaya gemerlapan bintang-bintang di langit hening. Di tengah

keheningan malam itu terdengar detak-denting suara orang menggali lahad, bercampur suara

saling berbisik, seolah-olah jangan sampai mengusik ketenangan jenazah agung yang sedang

menuju ke pembaringan terakhir. Tidak jauh dari tempat pamakaman terdengar suara haru

para wanita tertahan mengendap-endap rintihan duka. Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun…

 

 

 

KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

Di saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasul Allah s.a.w.,

sejumlah kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk

memperbincangkan masalah penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. Ikut serta bersama

mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah.

Di dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis Al-Jauhary

mengetengahkan riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan)

Bani Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah,

dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan

tersebut.

Karena tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin Sa'ad,

supaya meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara lantang

Qeis meneruskan kata-kata ayahnya:

"Kalian termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya dimiliki

oleh satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun di

tengah-tengah kaumnya, Rasul Allah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah

dan meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang beriman

kepada beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasul Allah s.a.w. Mereka tidak

mampu memperkokoh agama Allah . Tidak mampu membela beliau dari serangan musuhmusuhnya.

"Kemudian Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan

kemuliaan kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah

melimpahkan nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang

melawan musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi

siapa pun juga yang menentang Rasul Allah s.a.w. Kalian juga merupakan orang-orang yang

lebih ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan

Allah, suka atau tidak suka.

"Dan orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam, sampai tiba

saatnya Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab di

bawah pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad s.a.w. keharibaan-

Nya dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah

kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling

afdhal untuk memegang urusan itu!"

Kata-kata Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir

memenuhi Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu

memperoleh dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak mereka

hampir serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami merasa

puas terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!"

Setelah menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan pendapatpendapat

tentang kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah

yang harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak atas

kepemimpinan ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasul

Allah dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai kerabat

Nabi dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian menentang

kami memegang kepemimpinan sepeninggal Rasul Allah? Bagaimana kalau timbul problema

seperti itu?

Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul pertanyaanpertanyaan

seperti itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan

menyarankan: Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga

dan merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah yang

melindungi dan membela Rasul Allah s.a.w. Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama

bernaung di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat

menghitung-hitung jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk

mengungkit-ungkit mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan

mereka pun mempunyai pemimpin sendiri!"

"Inilah awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah mendengar usul

kompromi dari kaumnya.

Nyata sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin

'Ubadah sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasul

Allah s.a.w. Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Konon yang

menyampaikan berita tentang hal itu kepada Umar r.a. ialah seorang yang bernama Ma'an bin

'Addiy. Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasul Allah s.a.w.

Pada mulanya Umar r.a. menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari orang

banyak yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. Tetapi karena Ma'an terus

mendesak, akhirnya Umar r.a. menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab r.a. Ma'an

memberitahukan segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan

dan kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar r.a. Akhirnya ia bertanya:

"Coba, bagaimana pendapat anda?"

Tanpa menunggu jawaban Umar r.a. yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih lanjut:

"Sampaikan saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian pilih

sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah sudah

ternganga. Semoga Allah akan segera menutupnya."

Umar r.a. sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar berita

itu. Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu Bakar

Ash Shiddiq r.a. yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah Rasul

Allah s.a.w. Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar r.a. menjawab: "Aku sedang sibuk. Rasul

Allah belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?"

Umar r.a. terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar r.a. ia berkata: "Tidak boleh

tidak, engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a tidak dapat

mengelak dan menuruti ajakan Umar r.a.

 

Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah

Sambil berjalan Umar Ibnul Khattab r.a. menceritakan semua yang didengar tentang pertemuan

yang sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar r.a. merasa cemas dengan

terjadinya perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman

jenazah Rasul Allah s.a.w. Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk bersama-sama

berangkat menuju Saqifah Bani Sa'idah.

Setibanya di Naqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di

tengah-tengah mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang

sakit. Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar r.a.

yang terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar r.a. yang sudah

mengenal tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti. Dengarkan

dulu apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar r.a. Umar r.a.

diam, tak jadi bicara.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara.

Setelah mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata

dengan tegas dan lemah lembut.

"...Allah Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang

benar. Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah

membukakan hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita

semua, kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.

Barulah kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita.

"Kami orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Kami adalah orang-orang Arab dari

keturunan yang tidak berat sebelah.

"Kalian (kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam agama

dan selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang paling

kami cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima takdir

Allah, dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian kaum

Muhajirin. Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati terhadap

mereka. Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka

dalam keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam

tidak sampai mengalami kerusakan."

Demikian Abu Bakar r.a. menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam buku

Syarh Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12.

Orang-orang Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri hati

terhadap kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang

yang lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat

seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi dengan

syarat, apa bila ia sudah tiada lagi --karena meninggal dunia atau lainnya-- tiba giliran kami

untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila ia

sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin dari kaum

Muhajirin. Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada.

"Itu merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat

Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai

menyeleweng sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan

menjaga diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang

Anshar."

Mendengar pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar r.a. tampil lagi berbicara: "Pada waktu Rasul

Allah s.a.w. datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak meninggalkan

agama nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah

mentakdirkan kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan

beriman kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasul Allah dan bersama

beliau dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya

sendiri.

"Mereka tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah

manusia-manusia pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah.

Merekapun orang-orang pertama yang beriman kepada Rasul Allah. Mereka adalah orang-orang

kepercayaan dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan

sepeninggal beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang

dzalim."

"Sesudah kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk

Islam selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi pemimpin-pemimpin dan

kalian menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan

mengistimewakan orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa

kalian."

Mendengar penjelasan Abu Bakar r.a. tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir

bersitegang-leher. Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa

yang ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah orang-orang yang

berada di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia menjalankan

sesuatu, selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan membela

Rasul Allah s.a.w. Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan Iman.

Demi Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah kalian dan di

negeri kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di masjid-masjid

kalian. Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang kalian. Oleh

karena itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah dari kita

seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!"

Sekarang tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab r.a. berbicara. Dengan nada keras tertahan-tahan

ia berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin berada dalam satu

sarung! Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka

bukan berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan diserahkan

kepada golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka.

"Itulah alasan kami," kata Umar r.a. selanjutnya, "yang sangat jelas bagi orang-orang yang tidak

sependapat dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang

menentang pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai

kepemimpinan Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah

bahwa kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah orang-orang

yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka sajalah

orang-orang yang celaka!"

Hubab bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar, jangan kalian

dengarkan perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika

mereka tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari negeri

kalian, dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah orang-orang

yang paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan

persoalan ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku

sering berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup pengalaman

dan pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah, jika masih ada

orang yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan

pedang ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya.

 

Abu Bakar r.a. di Bai'at

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah

Bani Sa'idah itu sebagai berikut:

"Pada waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat mengangkat

Sa'ad bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang dari

qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah.

Berkatalah Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini

memeluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk

memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak berteletele,

dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi.

Muhammad Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak

mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku

untuk menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah.

Janganlah kalian menentang atau membelakangkan mereka!"

Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a.

berkata lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!"

Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menyahut dengan tegas: "Demi Allah, kami

berdua tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling

afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasul Allah di dalam gua, dan

engkau jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau sakit.

Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau kubai'at."

Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu -- yakni

Umar r.a. dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda

membai'at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah.

Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau memecah belah!

Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu," yakni

Sa'ad bin 'Ubadah.

Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar r.a., seorang

terkemuka dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut

menyatakan bai'atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari

qabilah Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa'ad bin

Ubadah terbaring tak mereka hiraukan.

Sampai hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at kepada Abu

Bakar r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a. berusaha

hendak menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a.

bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau menyatakan

bai'atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras

dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: "Kalau sampai Sa'ad mati terbunuh,

anggota-anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau

gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan

berpangku tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj

diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang Khazraj."

 

Pendapat Imam Ali r.a.

Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sebagai Khalifah untuk

meneruskan kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut

terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w.

Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali r.a. pada

waktu mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai

Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap terus terang,

sukar menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra

r.a. berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus

kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya.

Pendirian Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali r.a. adalah satusatunya

kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih

berhak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali r.a. juga

sangat dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan

kekeluargaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan

menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran

dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu merupakan

syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan

Rasul Allah s.a.w. atas ummatnya.

Dengan gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu

malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at

Abu Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi

tuntutan Sitti Fatimah r.a. dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasul Allah s.a.w., pembai'atan

Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam Ali r.a.)

datang kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang

lain."

Imam Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan:

"Patutkah aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…,

hanya untuk mendapat kekuasaan?"

Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk

antara Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a. dan

Umar r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai

akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah berlangsung

secara baik.

Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali r.a. tidak

meyakini tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu

Bakar r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang

diterimanya dari Rasul Allah s.a.w.

Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam

kelestarian dan kesentosaan ummat.

Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya

perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama

dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang

menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin

dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:

"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan

Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama

Muhammad s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan

terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar

dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain

hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah

ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya

awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir

musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"

Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin,

terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a.

Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan

kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuanketentuan

Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah),

maupun judikatif (qadha'iyyah).

 

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a.

Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan

suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah.

Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar

simpatinya kepada Bani Hasyim.

"Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib. "Pada waktu

Rasul Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya

rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah

kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil.

Padahal waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku ragu-ragu

menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah

s.a.w. Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orangorang

Qureiys."

"Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu.

Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani

Sa'idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai Khalifah."

"Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al-

Jarrah dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang

baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan

dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar

sebagai tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.

"Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul

Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan

musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar

oleh Abu Bakar dan Umar."

"Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin

Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu

Bakar berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi

kepada kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul

Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-

Nya."

"Rasul Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa yang

akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku

untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Pilihan

mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah

dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak

ada taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal,

kepada-Nya jualah aku akan kembali."

"Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan

kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya. Orang

itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah

kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang

banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak

mereka."

"Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami

tahu bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin

mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu

mereka pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orangorang

Bani Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga."

Menurut Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnul Khattab menukas perkataan Abu Bakar r.a. dengan

cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: "Kami datang

bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian

yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu

bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersamasama

kaum muslimin."

Menanggapi ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu itu

Abbas menjawab:

"…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w.

sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan

karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi

kehendak-Nya. Rasul Allah s.a.w. telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan

sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin

mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa

nafsu.

"Jika atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian,

sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum

muslimin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka."

"Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak

mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya

persoalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum

muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya."

"Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang

menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda katakan

kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak

anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang

menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri.

Namun jika hal itu menjadi hak kami,

kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali

bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda

terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan penjelasan."

"Adapun ucapan anda yang mengatakan 'Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga', maka beliau

sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian

adalah tetangga-tetangganya."

"Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan

diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak

kalian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan."

Kekhalifahan Abu Bakar r.a.

Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang

singkat itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan

perkembangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di

utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai

macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja

kehilangan pemimpin agungnya.

Dekat menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencanakan sebuah pasukan ekspedisi untuk

melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi

belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat.

Setelah Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah dilanjutkan.

Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan

pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih

ingusan. Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya

dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan

Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula

merebut kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke

tangan orang-orang Persia.

Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada

amanat Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya

kebijaksanaan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya

Usamah bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara.

Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya

dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.

Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula

keselamatan ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi". Muncul

pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara

terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta

berbalik haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul Allah

masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau wafat, mereka

memperlihatkan belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya

itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.

Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai

peluang untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.

Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan

kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha

merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang mereka

ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian

terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya

mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.

Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai

seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap

takut kepada Allah…"

Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah s.a.w.,

seperti Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis

tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis,dan

kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti

Imam Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja

kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.

Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan

ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin

keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah

dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah

menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak

segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.

Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba.

Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya

Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah

hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh,

tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada

usia 63 tahun.

 

 

 

KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A.

Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai

orang yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash

Shiddiq r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam

dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain

perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilannya, ditambah lagi dengan

keberaniannya bertindak, membuatnya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat

dihormati dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tauladan yang diberikan

Rasul Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara,

terutama mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin, maka Umar

Ibnul Khattab r.a. dibai'at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan oleh Abu

Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a.

berlangsung selama kurang lebih 10 tahun.

 

Sukses dan Tantangan

Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan kecepatan luar

biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan

Byzantium, seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid.

Penduduk di daerah-daerah luar Semenanjung Arabia berbondong-bondong memeluk agama

Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah rnenjadi

agama berbagai bangsa.

Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi

pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah berkembang. Demikian pula di

bidang hukum. Dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan

memanfaatkan ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam

Ali r.a., sebagai Khalifah ia berhasil menfatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan

perdata, disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan.

Tetapi bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, sekarang kaum rnuslimin sendiri mulai

dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya

wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini menjadi

daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa

lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan hidup

keduniawian.

Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kotakota

gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.

Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang

hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh

lebih berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, mukabelakang.

Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para

sahabat Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil

menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh

kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan

keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap

kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin

yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga

dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya.

Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum

muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan

hidup duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.

Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima

bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual itu,

Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam.

Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para

sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir

meluncur ke arah negatif.

Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat,

terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang

hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anakanaknya

yang kelaparan.

Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang

dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam

melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran,

maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran

itu dilakukan oleh orang lain.

Dengan kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat

mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut

dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak

ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat

hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya

makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan

roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu

juga."

 

Memanggil calon pengganti

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan

ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup

kenegaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil.

Umar Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata

tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan

kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur

bagi pemilihan Khalifah penggantinya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan

kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di

ambang kehidupannya.

Dalam saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan

sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau

memegang pimpinan tertinggi ummat Islam.

Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan.

Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar,

putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak. Ia

mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu.

Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung

resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!" Demikian

kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.

Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum

wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin

Abi Thalib, 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin Al 'Awwam, Sa'ad bin Abi

Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf. "Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "sebaiknya

kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih."

Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya

yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari

aku, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah

dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."

Tanpa menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Khalifah Umar r.a. kemudian

memerintahkan supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil.

Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat pada

saat keenam orang yang dipanggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh

harap menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa

tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan ketenangan. Tiba-tiba ia melontarkan

suatu pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. "Apakah kalian ingin

menggantikan aku setelah aku meninggal?"

Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat

mengejutkan semua yang hadir. Mula-mula mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar

r.a. menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai

perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat sedih melihat pemimpin mereka dalam

kondisi fisik yang begitu merosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu kemana arah

pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang

menjawab, Khalifah Umar r.a. mengulangi lagi pertanyaannya.

Setelah itu barulah Zubair bin Al-'Awwam menanggapi. Ia menjawab: "Anda telah menduduki

jabatan itu dan telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya

kami ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah dibanding dengan anda. Sedangkan dari

segi keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak berada di

bawah anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?"

Tampaknya kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair karena menyadari bahwa tokoh yang

berbaring di hadapannya itu sudah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari

komentar sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al

Jahidz. Ia mengatakan: "Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan

matanya, pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan berani

mengucapkan sepatah kata pun."

Kata-kata Zubair bin Al 'Awwam itu tidak langsung ditanggapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakanakan

kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a.

melanjutkan perkataannya: "Bisakah kuajukan kepada kalian penilaianku tentang diri kalian?"

Kembali Zubair menukas dengan nada sinis: "Katakan saja. Tokh kalau kami minta supaya kami

dibiarkan, anda akan tetap tidak membiarkan kami!"

 

Penilaian

Kata-kata Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yang sabar itu.

Sambil memandang tajam ke arah Zubair, Umar r.a. berkata: "Tentang dirimu, Zubair…, kau itu

adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai

hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak

kausukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain

engkau adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika

engkau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang."

Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolaholah mengambil nafas untuk

mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah

engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang

pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang

kemarahan?"

Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh kearah Thalhah bin Ubaidillah,

yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu.

Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu

lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya

bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan

suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul Khattab

r.a

Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau

diam saja?"

"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Tokh anda tidak akan berkata baik

mengenai diriku!"

"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a.

kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasul

Allah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang

kauucapkan ketika ayat Al-Hijab turun."

Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang

dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai

juga ke telinga Rasul Allah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasul Allah s.a.w.)

sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!"

Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi

Waqqash. Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda

perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata

yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat

untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin."

Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf, yang rupanya

sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang

dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi

kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Qabilah

Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu."

Abdurrahman tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia

membiarkan Khalifah berbicara lebih lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. "Ya Allah, alangkah

tepat dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!" kata Khalifah Umar r.a. dengan nada suara

yang agak meninggi. Kemudian dengan suara merendah dikatakan: "Seandainya anda nanti yang

akan memimpin ummat, anda pasti akan membawa mereka menuju kebenaran yang terang

benderang."

Imam Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yang sangat

dikaguminya. Juga ia tidak memberikan tanggapan terhadap penilaian yang positif atas dirinya.

Khalifah Umar r.a. akhirnya dengan serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya

sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri untuk

menilai orang keenam yang ada di hadapannya itu. "Aku merasa seakan-akan orang Qureiys

telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda," kata Khalifah dengan suara lembut, "karena

besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda."

Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, seolah-olah sedang menahan perasaan

getir yang menyelinap ke dalam kalbu. "Tetapi aku melihat nantinya anda akan mengangkat

orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu'aith di atas orangorang lain. Kepada mereka anda akan

menghamburkan harta ghanimah yang tidak sedikit." Suara Khalifah meninggi pula: "Akhirnya

akan ada segerombolan 'serigala' Arab datang menghampiri anda, lalu mereka akan membantai

anda di atas pembaringan."

Dengan nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya:

"Demi Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan 'srigala' itu

pasti akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar terjadi,

ingatlah kepada kata-kataku ini! Semua itu akan terjadi"

 

Cara Pemilihan

Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz

juga mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari Ibnu

Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah dikatakan

Umar Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: "Jika kalian saling

membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat

kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki,

saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu akhirnya

akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!".

Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah

beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala

daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan

oleh Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan.

Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu

Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada didekat

pembaringannya, berkatalah Khalifah Umar r.a. dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang

melepaskan sisa tenaganya yang terakhir:

"Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50

orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka (6

orang Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di antara

mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah

rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka

bermusyawarah untuk memilih salah seorang di antara mereka.

"Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang menentang

itu! J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika

tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang

yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga

orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja leher tiga

orang yang bersikeras itu!.

"Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan

urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri

memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !".

Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya rasa

tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan

terperinci, sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan caracara pengangkatan

seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka

tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat

Islam sebaik-baiknya.

 

 

 

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A.

Setelah jenazah Umar Ibnul Khattab r.a. dimakamkan, Abu Thalhah Al Anshariy segera

mengumpulkan 6 orang Ahlu Syuro yang ditunjuk Umar r.a., di sebuah rumah. Sesuai dengan

wasiyat Khalifah Umar r.a. maka 50 orang Anshar lengkap dengan pedangnya rnasing-masing,

ditugaskan menjaga pintu-pintu rumah. Kepada 6 orang itu dipersilakan berunding untuk

memilih siapa di antara mereka yang akan ditetapkan sebagai Khalifah pengganti Umar Ibnul

Khattab r.a.

 

Pelaksanaan Pemilihan

Tentang pelaksanaan pemilihan Khalifah pengganti Umar r.a. terdapat beberapa riwayat.

Menurut Abu Utsman Al-Jahidz, pelaksanaannya sebagai berikut:

Keenam Ahlu Syuro itu mulai bermusyawarah dan berdebat. Thalhah bin Ubaidillah tampil

sebagai pembicara pertama. Ia langsung saja mengatakan mendukung Utsman bin Affan sebagai

calon Khalifah. Alasan yang diajukannya untuk bersikap demikian, karena ia yakin tidak akan

ada seorang pun yang akan mencalonkan dirinya (Thalhah) sebagai Khalifah, selama Imam Ali

r.a. dan Utsman bin Affan r.a. masih ada.

Kemudian tampil Zubair bin Al 'Awwam. Ia menentang pencalonan Utsman bin Affan r.a.,

seperti yang diajukan Thalhah. Ia memberikan dukungan kepada Imam Ali r.a. Orang

memperkirakan bahwa Zubair mencalonkan Imam Ali r.a. karena hubungan kekeluargaan.

Seperti diketahui Zubair adalah anak lelaki bibi Imam Ali Shafiyyah binti Abdul Mutthalib, dan

ayah Imam Ali r.a. sendiri adalah saudara ibu Zubair.

Setelah ini muncul usul ketiga, yang datangnya dari Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia mengajukan

misanannya sendiri, anak pamannya, yaitu Abdurrahman bin 'Auf sebagai Khalifah. Usul Sa'ad ini

pun masih berbau fikiran kekerabatan. Kedua-duanya berasal dari qabilah Bani Zuhrah. Selain

itu Sa'ad sendiri pun sudah merasa kecil kemungkinannya untuk terpilih sebagai Khalifah.

Sekarang tinggal 3 orang yang belum mengajukan usul pencalonan. Abdurrahman kemudian

bertanya kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a.: "Siapa di antara kalian berdua yang

bersedia mengundurkan diri sebagai calon? Sebab, masalah pemilihan sekarang ini hanya

bergantung kepada kalian berdua."

Ternyata tak seorang pun di antara dua tokoh itu yang menanggapi pertanyaan Abdurahman bin

Auf. Setelah beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dan semua mata tertuju kepada Imam

Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Abdurrahman bin Auf berkata lagi: "Sekarang aku menyatakan

menarik diri dari pencalonan." Seterusnya ditambahkan: "Dengan demikian aku dapat memilih

salah seorang di antara kalian berdua."

Pernyataan Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi, baik oleh kedua orang calon, maupun orang

lainnya. Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa untuk melancarkan jalannya

pemilihan. Kepada Imam Ali r.a. ia bertanya: "Bagaimana kalau aku membai'at anda untuk

bekerja berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah

yang lalu?"

Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Imam Ali r.a. menjawab:

"Tidak! Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul

s.a.w. dan ijtihadku sendiri."

Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Imam Ali r.a., Abdurrahman bin Auf

mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas

Utsman bin Affan r.a. menjawab: "ya!"

Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan

pertanyaan yang sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula. Akhirnya

Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini

sebagai tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa

Abdurrahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk

menggantikan Khalifah Tlmar r.a. yang telah wafat.

Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah

Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan

penjajagan, akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin

supaya berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan menggunakan sorban yang dahulu pernah

dipakai oleh Rasul Allah s.a.w., dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat Rasul

Allah s.a.w. dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara lirih.

Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan

hadirin. Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum pernah

berbuat demikian.

Sambil memandang ke tempat Imam Ali r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh

wibawa: "Hai Ali, majulah engkau!"

Imam Ali r.a. segera memenuhi permintaan Abdurrahman bin Auf. Sebelum Imam Ali r.a.

mengetahui benar apa yang menjadi maksud sahabatnya itu, tiba-tiba Abdurrahman memegang

tangannya sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras. Isi kata-katanya sama dengan

apa yang telah dikemukakan oleh Abu Utsman Al-Jahidz di dalam bukunya. Begitu pula proses

seterusnya.

Hanya dalam versi ini ditambahkan, bahwa Abdurraman bin Auf menyambut kesanggupan

Utsman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu dengan berkata : "Ya Allah, saksikanlah! Ya

Allah, saksikanlah!"

Imam Ali r.a., para sababat Rasul Allah s.a.w. lainnya, dan semua yang hadir dalam masjid itu

tanpa ragu-ragu menerima Usman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu sebagai

pemimpin tertinggi mereka yang baru.

Pembai'atan seorang Khalifah melalui pemilihan salah satu di antara 6 orang Ahlu Syuro,

merupakan kejadian pertama dalam sejarah kekhalifahan ummat Islam. Khalifah Abu Bakar r.a.

dibai'at langsung oleh kaum muslimin. Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. ditetapkan berdasarkan

wasiyat Kahlifah Abu Bakar r.a.

Akan tetapi sejalan dengan pembai'atan Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah, banyak sekali

orang bertanya-tanya tentang jawaban yang diberikan Imam Ali r.a. kepada Abdurrahman bin

Auf. Mengapa ia mengatakan "Tidak?"

Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban pasti. Imam Ali r.a. sendiri tidak

pernah mengemukakan secara terbuka alasan apa yang melandasi jawabannya. Yang pasti,

Imam Ali r.a. tidak pernah menyesal karena ia gagal menjadi Khalifah disebabkan jawabannya

itu. Dengan ikhlas ia menerima Utsman bin Affan r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Sementara itu ada yang menafsirkan, bahwa perkataan "Tidak!" itu bukan ditujukan kepada

pertanyaan Abdurrahman bin Auf yang berkaitan dengan keharusan berpegang kepada Kitab

Allah dan Sunnah Rasul Allah, melainkan tertuju kepada keharusan mengikuti jejak Khalifah

Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.

Imam Ali r.a. tidak dapat membenarkan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar r.a. dalam

mengambil keputusan tentang tanah Fadak. Yaitu tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w. yang

dicabut oleh Khalifah Abu Bakar r.a. sepeninggal beliau dan dijadikan hak milik kaum muslimin

(Baitul Mal). Demikian juga terhadap kebijaksanaan Khalifah Umar r.a. yang mengadakan

penggolongan-penggolongan dalam membagi-bagikan kekayaan Baitul Mal kepada kaum

muslimin.

 

Terbuka Kesempatan

Peristiwa yang berlangsung secara wajar menurut norma kaum muslimin pada masa itu,

ternyata ditanggapi secara lain oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah. Peristiwa terbai'atnya Utsman

bin Affan r.a. sebagai Khalifah, diartikan oleh mereka, sebagai awal kemenangan Bani Umayyah

atas orang-orang Bani Hasyim.

Padahal Rasul Allah s.a.w. sendiri tidak pernah memandang ummatnya dari kaum apa atau dari

keturunan mana. Semua kaum muslimin adalah saudara. Prinsip yang mulia itu nampaknya

tidak mudah direalisasi, karena adat istiadat dan tradisi kuat yang berabad-abad bercokol di

kalangan orang-orang Arab.

Waktu Utsman bin Affan r.a. terpilih sebagai Khalifah, penyakit sukuisme dan keqabilahan

muncul kembali dan malah dibesar-besarkan oleh orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. dan

orang-orang dari Bani Hasyim lainnya, mereka nilai sebagai mengalami kekalahan dalam

persaingan melawan Utsman bin Affan r.a.; yang berasal dari Bani Umayyah.

Padahal Utsman bin Affan r.a. sendiri pada saat terbai'at sebagai Khalifah, sama sekali tidak

menyimpan fikiran seperti yang diteriakkan oleh kaum kerabatnya. Utsman bin Affan r.a.

seorang sahabat terdekat Rasul Allah s.a.w., bahkan sampai dua kali ia

menjadi menantu Nabi. Pertama kali ia nikah dengan Roqayah binti Muhammad Rasul Allah

s.a.w. Kemudian setelah Roqayah r.a. meninggal, ia nikah lagi dengan Ummu Kaltsum binti

Muhammad Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu Utsman bin Affan r.a. terkenal dengan sebutan

"Dzun Nurain" (pemilik dua cahaya). Ia memeluk Islam di tangan Abu Bakar r.a. dan setelah

menjadi orang beriman, ia sangat besar taqwanya kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Dalam perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin Affan

r.a. tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta benda dan

jiwanya diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan amal

perbuatannya, yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir Romah"

untuk kepentingan semua kaum muslimin.

Utsman bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar

masjid Rasul Allah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung jemaah

yang bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada

saat mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan

guna menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uang dari

koceknya untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang

hartawan dan hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Pada saat menerima tugas dan tanggung jawab sebagai Khalifah, Utsman bin Affan sudah lanjut

usia. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah yang ada di

sekelilingnya. Dalam hal ini yang paling menonjol peranannya ialah Marwan bin Al Hakam,

misanannya, yang menjadi pembantu utama paling dipercaya. Demikian juga Muawiyyah bin Abi

Sufyan, seorang Gubernur atau Kepala Daerah Syam, daerah yang sangat makmur dan subur di

sebelah utara jazirah Arab. Kedua tokoh Bani Umayyah itu mempergunakan peluang secara

maksimal ketika usia Khalifah Utsman r.a. makin lanjut dan tidak lagi aktif sepenuhnya

mengatur kehidupan negara, pemerintahan dan ummat. Secara pandai orang-orang itu merebut

hati Khalifah, menanamkan pengaruh dan memperkuat posisi mereka di bidang kekuasaan.

Gejala individualisme, mementingkan diri sendiri dan golongan, yang pada masa Khalifah Umar

r.a. berhasil dipangkas tunas-tunasnya, ternyata tumbuh kembali dengan suburnya, terutama

pada masa-masa terakhir Khalifah Utsman r.a. Sistem pemerintahan yang sangat demokratis

yang telah dirintis oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.

setapak demi setapak digantikan dengan sistem oligarki (pemerintahan keluarga) oleh para

pembantu Khalifah Utsman r.a. Harta Baitul Mal yang seharusnya digunakan untuk

kemaslahatan ummat Islam, mulai banyak disalahgunakan. Muncullah penguasa-penguasa

hartawan yang mempunyai ratusan ekor unta, kuda dan hamba sahaya, serta rumah-rumah

indah di Bashrah, Kufah dan Iskandariyah.

Melihat perkembangan ummat meluncur ke bawah ini, Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam diri.

Sebagai sahabat baik, dengan tulus ikhlas, diminta atau tidak diminta, ia menyampaikan saransaran,

nasehat-nasehat serta gagasan-gagasan kepada Khalifah Utsman r.a. Tentu saja sikap

dan tindakan yang diambil Imam Ali r.a. menimbulkan rasa tidak senang, bahkan sikap

permusuhan, dari mereka-mereka yang sedang menikmati hasil perjuangan ummat Islam untuk

kepentingan diri mereka sendiri.

Cara hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan para penguasa pemerintahan

Khalifah, dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan

rasa tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam, khususnya di kalangan qabilahqabilah

tertentu yang hidup merana.

Khalifah Utsman r.a. sendiri dalam batas kemampuan yang ada pada dirinya, telah berusaha

untuk mengatasi keadaan yang semakin kritis itu, karena ia menyadari bahayanya bilamana

dibiarkan begitu saja. Akan tetapi karena usianya yang telah lanjut

ia tidak berdaya menghadapi "permainan" Marwan bin Al-Hakam dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Khalifah Utsman praktis sudah tidak dapat lagi mengendalikan aparaturnya.

 

Dikorbankan

Apa yang di ramalkan oleh Khalifah Umar r.a. pada saat menjelang ajalnya, ternyata memang

benar-benar terjadi. Beberapa waktu setelah terbai'at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan r.a.

mengangkat orang-orang dari kalangan Bani Umayyah dan di tempatkan pada kedudukankedudukan

penting atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisiposisi

penting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai

Kepala Daerah atau Gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau

diserahi tanah-tanah yang sangat luas.

Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman r.a., ummat lslam berhasil membebaskan

Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan

(ghanimah) yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang

dihadiahkan oleh Khalifah Utsman r.a. kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al

Hakam. Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu.

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah

mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. yang dikendalikan oleh Marwan dan kawankawannya,

yang sangat meresahkan kaum muslimin.

Diantara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada

Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman r.a. juga merehabilitasi dan membolehkan Al-

Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh

Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bahkan

oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah68

khalifah yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil oleh

Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.

Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman

r.a. atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yang

menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat

perdagangan di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama "Mazhur", oleh Khalifah

Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal

tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai

milik umum.

Begitu pula daerah Fadak, yang dahulunya berupa tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w.; oleh

Khalifah diserahkan kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini menurut hukum di

bawah kekuasaan pribadi Rasul Allah s.a.w.

Dalam sejarah Islam, daerah Fadak ini menjadi sangat terkenal, karena tuntutan dan gugatan

yang diajukan oleh Sitti Fatimah r.a. kepada Khalifah Abu Bakar r.a., untuk memperoleh hak

atas tanah yang dahulu berada di bawah kekuasaan ayahandanya.

Khalifah Utsman r.a. juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk

Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang secara

tradisional sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi

ternak milik orang-orang Bani Umayyah.

Lebih dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan wilayah-wilayah

Marokko, Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya

kepada Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Abdullah adalah saudara sesusuan

dengan Khalifah. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di

daerah itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.

Kepada Abu Sufyan bin Harb, yang dahulu terkenal peranannya sebagai salah seorang tokoh

paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru terpaksa masuk Islam setelah jatuhnya

kota Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman r.a. diberi hadiah sebesar 200.000

dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut

sebagai menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman r.a.

membekalinya lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal.

Sebenarnya semua kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah Utsman r.a. merupakan pelaksanaan

imla (dikte) yang disodorkan para pembantu yang diberi kepercayaan penuh. Khalifah Utsman

r.a. menyadari bahwa pribadinya ditunggangi sedemikian rupa dan sedang digiring ke

marabahaya yang sangat fatal oleh orang-orang kepercayaannya. Seorang Khalifah yang kurang

lebih berusia 80 tahun itu, oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah dikorbankan untuk kepentingan

pribadi-pribadi, golongan dan qabilah.

Penyalahgunaan harta Baitul Mal seperti tersebut di atas, sudah tentu menimbulkan

kegelisahan masyarakat muslimin pada masa itu. Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah

Utsman r.a. mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada

menantunya, Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal bernama Zaid bin Arqam,

menghadap Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal.

Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: "Mengapa engkau

menangis? Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?"

"Tidak", jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. "Aku menangis karena

aku menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yang

dahulu anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah

s.a.w. masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan itu

sungguh terlampau banyak."

"Hai Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!" hardik Khalifah dengan wajah merah padam. "Kami bisa

mendapatkan orang lain yang tidak seperti engkau."

Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat menyolok

antara kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang

sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan

dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.

Banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan Khalifah

Utsman r.a. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad.

Seorang mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau

golongannya. Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko

dalam berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

 

Abu Dzar dibuang

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai

oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a.,

seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar,

kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka menjadi

sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin

terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu

yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan

da'wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih

oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara

terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah

pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk

agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di

Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul

Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani

Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: "Ghifar…, Allah telah

mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!"

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan

bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan

kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap

penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan

kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai "cahaya terang benderang."

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan

dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau

orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan

ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya,

Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip

sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang

akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi

harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: "Demi Allah, yang

mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!"

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang

bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: "Kutunjukkan cara yang lebih baik

dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!" Rasul Allah

s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada

nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan

oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat

ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum

muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan

masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan r.a.,

penyakit yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim

hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya

karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya

oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya

karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah

seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa

potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin

bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum

muslimin banyak disalah-gunakan untuk

kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para

sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti

ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari

sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak

betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat

menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan

menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang

terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan

orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka

kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di

Syam, ia selalu memperingatkan orang: "Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan

tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan

mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan

orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye

Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsipprinsip

kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam,

memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk

membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi

pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati

Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: "Aku sungguh

heran melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar

menghunus pedang!"

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin

yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah

memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi

lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaranajaran

kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: "Semua

manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…," "Tak ada manusia yang lebih

afdhal selain yang lebih besar taqwanya…", "Penguasa adalah abdi masyarakat," "Tiap orang

dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas

kegembalaannya...." dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah

sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar,

tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan

kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh

Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan

tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di

Makkah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun

ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar

berkata: "Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai penumpuk emas dan perak,

dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!"

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah

bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat

berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis

sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan

tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil

salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar

menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada

Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu,

Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: "Aku tidak membutuhkan duniamu!"

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: "Tinggal sajalah di

sampingku!"

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: "Aku tidak membutuhkan duniamu!"

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan

kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki

supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh

Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang

sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia harus memotong urat nadi para

pembantu dan para penguasa bawahannya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan

para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputusan:

Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun

mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau

mengantarkannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t.

selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a.

ia berkata: "Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di

atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik

bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku

akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan

seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan

berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku."

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang

untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan

yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang

penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan

melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin,

khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya.

Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam

kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat

yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan

Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan

mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani

mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali

r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu

Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: "Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti

bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti,

ketahuilah sekarang!"

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya.

Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: "Pergilah engkau

dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka."

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah,

tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali

menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap

karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota

keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati

Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama

Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa

yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: "Hai Abu Dzar

engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut

kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan

membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi

hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu

Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang

menjengkelkan hatimu selain kebatilan!"

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: "Hai Abu Dzar, apa lagi yang

hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun

tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada Allah,

sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati.

Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain

sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa."

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: "Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat

jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera

pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus

berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu.

Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah

perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa

mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar

ridho kepadamu."

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: "Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa

mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan

kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa

butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah

s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama

artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan

kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!"

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: "Allah tidak akan membuat senang orang

yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu.

Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang

mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang

merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong

kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh

karena itu banyak orang "menghadiahkan" agamanya masing-masing kepada mereka, dan

sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan

berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu

suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!"

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: "Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu

Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di

Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku

merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudarasaudaraku

di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang

ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t.

Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut

menghadapi kesulitan…"

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali r.a.

segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah

bertanya dengan hati gusar: "Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku --yakni

Marwan-- dan meremehkan perintahku?"

"Tentang petugasmu," jawab Imam Ali r.a. dengan tenang "ia mencoba menghalang-halangi

niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya."

"Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu

Dzar?" ujar Khalifah dengan marah.

"Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?"

tanggap Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

"Kendalikan dirimu terhadap Marwan!" ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a.

"Mengapa?" tanya Imam Ali r.a.

"Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya" jawab Khalifah.

"Mengenai untanya yang kucambuk," Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan

Khalifah Utsman r.a., "bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal

memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang

sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!"

"Mengapa dia tidak boleh memakimu?" tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. "Apakah

engkau lebih baik dari dia?!"

"Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!" sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis

mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum

Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia

menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara

menasehatkan: "Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik."

"Aku memang menghendaki itu," jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari

pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali

r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali

r.a. mereka bertanya: "Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk

meminta maaf?"

"Tidak," jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. "Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak

akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau

datang kepadanya."

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang

bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah

s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: "Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu

aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang

keputusanmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu

Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang

telah diberikan Allah 'Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalanghalangi

Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku

kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku,

yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya."

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata

dengan nada lemah lembut: "Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan

apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun

mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguhsungguh

dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu....!"

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan

dilekatkan pada dadanya.

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama

isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa

turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan,

dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari

sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak

isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan. Keberangkatan mereka berdua

diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak

menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara

sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik.

Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: "Mengapa engkau menangis?"

"Bagaimana aku tidak menangis," jawab isterinya yang setia itu, "kalau menyaksikan engkau

mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk

dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus

pemakamanmu!''

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia

berkata: "Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin

yang lewat!"

"Bagaimana mungkin?" jawab isterinya. "Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang

sudah lenyap!"

"Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat," kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan

yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. "Jika engkau melihat ada orang lewat,

berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak

melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila

kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah

hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!"

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sanake

mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang

mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang

kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat

isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu

melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya,

kemudian bertanya: "Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?"

"Apakah kalian orang muslimin?" isteri Abu Dzar balik bertanya. "Bisakah kalian menolong kami

dengan kain kafan?"

"Siapa dia?" mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

"Abu Dzar Al-Ghifari!" jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa

seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. "Sahabat Rasul Allah?"

tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

"Ya, benar!" sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: "Ya Allah...! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada

kita!"

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar.

Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada

orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

"Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk

membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan

bajuku sendiri atau baju isteriku.....Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari

kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai."

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara

mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: "Hai paman, akulah yang

akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerihpayahku.

Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk

kupergunakan sebagai pakaian ihram…"

"Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!" Sahut

Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia

memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan

tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan

angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat

itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: "Ya

Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud

kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau

mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan

lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati

dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang

membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!"

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan "Aamiin" dengan khusyu'.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah

berkata: "Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku..."

 

Krisis politik dan pemberontakan

Krisis politik yang menggoncangkan pemerintahan Khalifah Utsman r.a. di Madinah prosesnya di

mulai dari Mesir. Dalam bukunya 'Aisyah was Siyasah, halaman 48, Said Al-Afghani, sejarawan

Islam terkemuka, menuturkan proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a.

sebagai berikut:

Abdullah bin Abi Sarah, yang dalam periode kekhalifahan Utsman r.a. menjadi Gubernur atau

Kepala Daerah Mesir dengan kekuasaan penuh, banyak rnelakukan tindakan yang menimbulkan

rasa tidak puas dan jengkel di kalangan penduduk. Keluhan penduduk Mesir itu mendapat

tanggapan baik dari Khalifah Utsman r.a. Tetapi Khalifah sendiri tidak dapat bertindak tegas.

Bahkan orang-orang Mesir yang mengadu kepada Khalifah, sekembalinya dari Madinah dibunuh

oleh Abdullah bin Abi Sarah.

Peristiwa semacam itu mengugah kemarahan rakyat yang semakin memuncak. Hampir 700

orang bersenjata meninggalkan Mesir. Mereka menuju Madinah untuk menghadap Khalifah.

Khalifah didesak supaya bertindak terhadap Abdullah bin Abi Sarah dan memecatnya dari

kedudukan sebagai Kepala Daerah.

Semua sahabat Rasul Allah s.a.w., termasuk Imam Ali r.a. dan Sitti 'Aisyah r.a. turut mendesak

Khalifah Utsman r.a. agar memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Bagaimana pun juga alasannya

tindakan Abdullah bin Abi Sarah itu bertentangan dengan hukum Islam dan tidak dapat

dipertanggung jawabkan oleh Khalifah. Khalifah Utsman. r.a. menyatakan persetujuannya dan

akan bertindak memecat Abdullah bin Abi Sarah.

Sejalan dengan pengangkatan Kepala Daerah baru (yang berangkat langsung dari Madinah ke

Mesir), berangkat juga kurir khusus membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Abdullah

bin Abi Sarah. Dalam surat rahasia itu terdapat tanda-tangan Khalifah Utsman r.a. Isinya

memerintahkan Abdullah bin Abi Sarah supaya segera membunuh Kepala Daerah baru setibanya

di Mesir. Kepala Daerah baru itu ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

Celakanya, kurir yang membawa surat rahasia itu dipergoki di tengah jalan oleh iring-iringan

Kepala Daerah yang baru diangkat dan yang akan melakukan timbang terima jabatan dari

Kepala Daerah yang lama. Terbongkarlah permainan politik yang sangat curang dan kotor itu.

Kemarahan rakyat Mesir tambah meningkat dan mendidih.

Penduduk Mesir menuding bahwa Marwan Al-Hakam-lah biang keladi permainan politik yang

sangat berbahaya itu. Mereka menuntut agar Khalifah Utsman r.a. menyerahkan Marwan

kepada mereka atau menyingkirkan Marwan dari kekuasaan. Tetapi Khalifah bertahan. Banyak

yang memberi nasehat kepada Khalifah supaya Marwan dikeluarkan saja dari pemerintahan.

Nasehat para sahabat ini tidak dapat mengubah pendirian Khalifah yang tetap mempertahankan

Marwan. Ia mengakui, bahwa Marwan memang membikin kesalahan, tetapi tidak usah diambil

tindakan sejauh itu. Inilah yang mendorong timbulnya krisis politik yang dengan hebat akan

melanda kota Madinah.

Sikap Khalifah Utsman r.a. itu seolah-olah katup-lemah dari suasana tertekan yang siap

meledak. Dan benarlah, rasa tidak puas rakyat terhadap kepemimpinan Khalifah Utsman bin

Affan r.a. akhirnya menggelegar dalam bentuk pemberontakan.

Peristiwa penggantian Kepala Daerah Mesir sebenarnya hanya merupakan sinyal saja bagai

pecahnya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. Api dalam sekam sudah lama

membara, menunggu hembusan angin yang bertiup dari kantong seorang kurir yang membawa

surat rahasia ke Mesir.

700 orang dari Mesir, berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar penduduk Madinah.

Dengan senjata di tangan masing-masing, mereka berbondong-bondong menuju tempat

kediaman Khalifah dan dengan ketat mengepungnya. Tindakan pengepungan ini pada mulanya

dimaksud untuk menekan Khalifah supaya cepat-cepat mengambil langkah yang tegas terhadap

orang-orang kepercayaannya, yang selalu menjadi biang keladi timbulnya keresahan dalam

masyarakat.

Pengepungan total dan ketat itu ternyata menimbulkan akibat yang dari hari ke hari makin

buruk bagi kehidupan keluarga Khalifah. Yang paling cepat terasa ialah kekurangan air minum.

Pada suatu hari dalam suasana kepungan rakyat itu masih berlangsung dan tambah keras,

Khalifah Utsman r.a. dari anjungan berteriak kepada kerumunan orang yang sedang gaduh dan

hirukpikuk: "Adakah Ali di antara kalian?"

"Tidak!" dijawab dengan singkat dan dengan nada kesal oleh kerumunan orang yang berada di

bawah anjungan.

"Apakah ada di antara kalian yang mau menyampaikan kepada Ali supaya kami bisa mendapat

air minum?" teriak Khalifah Utsman r.a. pula.

Teriakan Khalifah Utsman r.a. itu bermaksud hendak memberitahu kepada rakyat yang

memberontak, bahwa persediaan air minum bagi keluarganya. sudah habis. Teriakan terakhir

dari Khalifah ini tidak disahuti sama sekali.

Setelah Imam Ali r.a. diberi tahu oleh seseorang, bahwa Khalifah dan keluarganya sangat

membutuhkan air, tanpa ragu-ragu ia memerintahkan supaya kepada keluarga Khalifah yang

sedang terkepung itu dikirim air 3 qirbah (kantong wadah air terbuat dari kulit kambing atau

unta). Guna melaksanakan perintah itu, putera-putera Imam Ali r.a. sendiri, yaitu Al-Hasan dan

Al-Husein membawa air ke rumah Khalifah. Berkat kewibawaan Imam Ali r.a., tidak ada orang

yang berani menghalang-halangi pengiriman air itu.

Suasana yang tegang itu memang sangat menyulitkan kedudukan Imam Ali r.a. Di satu fihak ia

menghormati Khalifah Utsman r.a. sebagai pemimpin ummat yang telah dibai'at secara sah.

Khalifah Utsman r.a. adalah sahabat karibnya dan kawan seperjuangan dalam menegakkan

Islam, dalam waktu yang panjang mereka terikat oleh tali persaudaraan, karena masing-masing

pernah menjadi menantu Rasul Allah s.a.w. Tetapi di fihak lain, Khalifah yang telah lanjut usia

itu tidak berdaya mengendalikan pembantu-pembantunya. Bahkan kepada pembantupembantunya

ia memberikan kepercayaan penuh.

Berfihak kepada Khalifah berarti membela Marwan dan kawan-kawannya yang terang dibenci

oleh kaum muslimin. Berfihak kepada kaum muslimin yang memberontak, berarti melawan

Khalifah yang sah. Usahanya untuk menyadarkan Khalifah tentang gawatnya akibat perbuatan

pembantu-pembantunya, tidak pernah berhasil. Khalifah Utsman r.a. memang terkenal sejak

dulu sebagai orang yang keras dalam berpegang pada pendiriannya.

Pertentangan batin benar-benar bergolak dalam hati Imam Ali r.a. Ia merasa wajib

menyelamatkan keadaan dari bencana fitnah, tetapi apa daya jika fihak yang bersangkutan

sendiri tidak menghiraukan nasehat-nasehat. Bahkan dalam keadaan yang sangat kritis itu

Khalifah Utsman r.a. lebih dekat kepada pembantu-pembantunya. Sementara itu kaum

pemberontak makin hari makin hilang kesabarannya. Blokade terhadap rumah kediaman

Khalifah tidak berhasil mengubah pendirian pemimpin yang sudah lanjut usia itu.

Para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-'Awwam

dan Sa'ad bin Abi Waqqash, posisi mereka hampir sama dengan posisi Imam Ali r.a. Nasehatnasehat

mereka sudah tidak mempan bagi Khalifah. Padahal tuntutan kaum muslimin yang

berontak benar-benar adil dan masuk akal.

Setelah pengepungan makin hari makin berlarut dan Khalifah juga tidak bersedia memenuhi

tuntutan kaum pemberontak, akhirnya kaum pemberontak mengambil jalan pintas. Mereka

merencanakan pembunuhan diam-diam terhadap Khalifah Utsman r.a.

Rencana kaum pemberontak ini cepat tercium oleh Imam Ali r.a. Ia segera memerintahkan dua

orang puteranya, guna melindungi keselamatan Khalifah: "Berangkatlah kalian ke rumah

Utsman. Bawa pedang dan berjaga-jagalah di ambang pintu rumahnya. Jaga, jangan sampai

terjadi suatu bencana menimpa Utsman!

Tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. diikuti oleh para sahabat Nabi

Muhammad s.a.w. yang lain. Thalhah dan Zubair juga memerintahkan puteranya masing-masing

untuk bersama-sama Al-Hasan r.a. dan Al-Husein r.a. melindungi Khalifah Utsman r.a.

Langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh Imam Ali r.a. itu ditulis. oleh Said Al-Afghaniy

dalam bukunya Aisyah was Siyasah. Bahkan kata penulis ini, ketika kaum pemberontak makin

gusar dan menghujani rumah Khalifah dengan anak panah, beberapa putera sahabat Rasul Allah

s.a.w. yang berjaga-jaga itu ada yang terluka, antara lain Al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin

Thalhah. Terlukanya putera-putera para tokoh Islam itu menimbulkan kekhawatiran kaum

pemberontak, yang nampaknya di pimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

"Kalau orang-orang Bani Hasyim datang," kata Muhammad bin Abu Bakar , "dan melihat darah

mengalir dari tubuh Al-Hasan dan Al-Husein, mereka pasti akan bertindak terhadap kita.

Rencana kita akhirnya akan gagal." Berdasarkan jalan fikiran yang demikian, diusulkan kepada

teman-temannya agar Khalifah Utsman dibunuh saja secara diam-diam.

Gugur di tangan pemberontak

Proses terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. ternyata banyak diteliti oleh para

sejarawan, terutama para penulis sejarah Islam. Ada beberapa versi yang muncul mengenai

siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah Utsman r.a. Said Al-Afghaniy, yang bukunya

dianggap autentik oleh para sejarawan menunjuk bahwa Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiqlah

yang merencanakan pembunuhan itu, tetapi yang melaksanakan rencana dua orang

temannya.

Menurut Said Al-Afghaniy, Muhammad bin Abu Bakar bersama dua orang temannya memanjat

dinding belakang kamar Khalifah. Ketika itu Khalifah sedang membaca Al-Qur'an dan hanya

ditemani oleh isterinya yang bernama Na'ilah. Setelah berhasil memasuki kamar Khalifah,

Muhammad langsung menyerbu Khalifah. Lalu janggutnya yang sudah memutih dipegangnya

keras-keras. Khalifah dengan nada sedih berkata: "Lepaskan janggutku, hai putera saudaraku!

Jika ayahmu melihat perbuatan yang kau lakukan ini… aah, alangkah kecewanya dia!"

Hati Muhammad bin Abu Bakar justru terharu, cair dan luluh. Tanpa disadari, tangan yang

sedang memegang erat janggut memutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi

malang, dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai

hatinya masing-masing. Tombak pendek yang mereka pegang segera dihunjamkan ke lambung

Khalifah Utsman r.a. Seketika itu juga Khalifah gugur. Na'ilah yang menyaksikan adegan itu

melolong dan menjerit-jerit histeris bersamaan dengan melesatnya tiga orang pemuda itu lari

melompat jendela. Na'ilah terus menerus menjerit: "Amirul Mukminin terbunuh! Amirul

Mukminin terbunuh!"

Dalam versi yang sama, tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda, buku yang berjudul Al-

Iqdul Farid, jilid III, halaman 78-82, juga mengungkapkan proses pembunuhan atas diri Khalifah

Utsman r.a. Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman r.a., Imam

Ali r.a. termasuk orang pertama yang menuju ke kamar maut. Duka hatinya yang mendalam

terpancar terang sekali pada wajahnya ketika menyaksikan sahabatnya gugur secara

menyedihkan. Tetapi wajah sendu itu kemudian berubah merah padam waktu ia menoleh

kepada dua orang puteranya. "Bagaimana ia bisa terbunuh? Bukankah kalian berdua sudah

kuperintahkan supaya berjaga-jaga di depan pintu rumahnya?" tegor Imam Ali r.a. kepada dua

orang puteranya dengan suara membentak.

Tampaknya kemarahan Imam Ali r.a. demikian hebatnya, sampai kedua orang puteranya itu

dipukulnya sendiri. Kemudian kepada Na'ilah, janda Khalifah Utsman r.a. yang sedang

dirundung malang ia bertanya tentang siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah.

"Aku tak tahu," jawab Na'ilah. "Yang kulihat ada dua orang tak kukenal masuk bersama

Muhammad bin Abu Bakar…" ujarnya sambil menangis. Lalu diceritakan oleh Na'ilah apa yang

telah dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar.

Ketika Imam Ali r.a. mengecek keterangan Na'ilah kepada Muhammad bin Abu Bakar, putera

Khalifah pertama itu hanya mengatakan: "Wanita itu tidak berdusta. Aku memang masuk ke

kamar itu dengan rencana hendak membunuh Utsman. Tetapi pada saat ia mengingatkan aku

tentang ayahku, aku sadar kembali dan bertaubat."

Dengan nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, putera Khalifah Abu Bakar r.a itu

kemudian melanjutkan kata-katanya: "Demi Allah, aku tidak membunuhnya!"

Menanggapi keterangan Muhammad bin Abu Bakar itu, Na'ilah pada lain kesempatan berkata

kepada Imam Ali r.a.: "Bahwa apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar. Tetapi dialah

yang membawa masuk dua orang pembunuh itu."

Agak berbeda dengan dua riwayat tersebut di atas, versi lain lagi yang ditulis oleh sejarawan

terkemuka juga, At-Thabariy, dalam bukunya Tarikh, jilid III, mengatakan pada halaman 421

sebagai berikut:

Seorang demi seorang memasuki kamar Khalifah yang sedang membaca Al-Qur'an. Tapi orangorang

itu mundur kembali karena ragu-ragu hendak membunuh Khalifah yang sudah lanjut usia.

Kemudian masuklah Qutairah dan Saudan bin Hamran bersama seorang lagi yang dipanggil

dengan nama Al-Gafhiqiy. Dengan sebatang besi yang dibawanya, Al-Gafhiqiy menghantam

Khalifah Utsman. Qur'an yang sedang dibaca oleh Khalifah ditendang sampai jatuh di depan

orangtua itu, kemudian memerah dibasahi cucuran darah yang mengalir dari luka-luka Khalifah.

Saudan segera maju untuk menebas leher Khalifah, tetapi isterinya yang menyaksikan kejadian

itu cepat-cepat bergerak maju untuk menahan pedang yang sedang diayun, sehingga putuslah

jari-jarinya.

Habis melakukan pembunuhan kejam itu, tidak lupa mereka merampas benda-benda berharga

yang ada dalam ruangan. Bahkan mereka mencoba melucuti perhiasan yang sedang dipakai oleh

anak-anak dan isteri Khalifah Utsman. Tetapi ketika mereka mendengar pekik dan jerit para

wanita, terpaksa mereka buru-buru lari keluar. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18

bulan Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82 tahun.

Terbunuhnya Khalifah ketiga ini merupakan alamat buruk yang menandai akan terjadinya krisis

baru yang lebih hebat lagi di kalangan ummat Islam masa itu. Bagi Imam Ali r.a. sendiri,

peristiwa itu menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit. Sebab terbunuhnya

Khalifah berarti terjadinya kekosongan pimpinan yang serius dan tak mudah diatasi. Sedang

wilayah Islam sudah sedemikian luasnya membentang dari barat sampai ke timur.

Tokoh-tokoh seperti Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin Al-Hakam,

Abdullah bin Abi Sarah dan lain-lain, itulah pada hakekatnya yang menggali liang kubur bagi

Khalifah Utsman r.a. Mereka itulah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas terjadinya

malapetaka yang menimpa diri Khalifah itu. Tetapi rasa tanggung jawab itu tidak ada pada

mereka. Malahan setelah pemberontakan terjadi dan Khalifah mati terbunuh, mereka cepatcepat

membersihkan diri dan cuci tangan, serta menjadikan Imam Ali r.a. sebagai kambing

hitam.

 

 

 

DELAPAN HARI TANPA KHALIFAH

Dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. tidaklah terselesaikan persoalan-persoalan

gawat yang dihadapi oleh kaum muslimin. Malahan muncul krisis politik yang sifatnya lebih

gawat, yang menuntut penanggulangan secara tepat dan bijaksana. Beberapa waktu lamanya

kehidupan kaum muslimin tanpa pimpinan tertinggi dan situasi pemerintahan menjadi kosong.

 

Duniawi kontra Zuhud

Dalam situasi mengandung berbagai kemungkinan buruk itu, tokoh-tokoh Bani Umayyah yang

selama ini memperoleh kepercayaan penuh dari Khalifah Utsman r.a., justru tidak mengambil

tindakan apa pun juga. Marwan bin Al-Hakam dan kawan-kawannya lari meninggalkan Madinah.

Amr bin Al-Ash, pada saat-saat Khalifah Utsman r.a. dikepung kaum muslimin yang

memberontak, cepat-cepat pergi ke Palestina. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri,

tidak juga mengambil inisiatif apa pun. Begitu pula Abdullah bin Abi Sarah yang sedang menjadi

penguasa daerah Mesir. Semuanya diam, seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa politik

yang besar dan gawat.

Orang bertanya-tanya: Mengapa para penguasa Bani Umayyah yang berkuasa di Mesir dan di

Syam tidak segera memberi pertolongan kepada Khalifah Utsman r.a.? Kemudian setelah

Khalifah Utsman r.a. terbunuh, mengapa mereka tak segera mengirimkan pasukan untuk

bertindak tegas terhadap kaum pemberontak dan menangkap oknum-oknum yang

merencanakan dan melaksanakan pembunuhan atas diri Khalifah itu? Kenapa mereka berpangku

tangan, padahal mereka mempunyai kekuatan cukup untuk melakukan tindakan hukum,

sebelum Khalifah yang baru di angkat?

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu adalah wajar. Sebab, para penguasa Bani Umayyah dan

tokoh-tokohnya bukan orang-orang yang baru dilahirkan kemarin. Mereka cukup makan garam

politik, terutama pada waktu mereka dulu mengorganisasi dan memimpin orang-orang kafir

Qureiys melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Rasul Allah s.a.w. dan kaum muslimin.

Nampaknya mereka bukan tidak bertindak, tetapi ada perhitungan lain.

Pada masa itu tokoh Bani Umayyah yang paling terkemuka ialah Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan

tetapi sejarah keislamannya tidak memungkinkan dirinya dapat dipilih sebagai Khalifah

pengganti Khalifah Utsman bin Affan r.a. Ia memeluk Islam setelah tidak ada jalan lain untuk

menyelamatkan diri dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin. Ia masuk Islam

kurang lebih dua tahun sebelum wafatnya Rasul Allah s.a.w. Sebelum itu ia sangat gencar

memerangi kaum muslimin dalam usaha memukul Islam.

Dengan kata lain, selama masih ada sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sejak dulu sampai

sekarang masih gigih membela kebenaran agama Allah, seperti Imam Ali r.a. dan lain-lain,

harapan bagi Muawiyah untuk dapat dibai'at sebagai Khalifah penerus Utsman r.a. tidak

mungkin dapat terlaksana.

Usaha merebut atau mewarisi kekhalifahan Utsman r.a. lebih dipersulit lagi oleh dua

kenyataan:

1. Khalifah Utsman r.a. wafat akibat terjadinya konflik politik yang gawat dengan rakyatnya

sendiri.

2. Ia wafat meninggalkan warisan situasi pemerintahan yang sudah tidak disukai oleh kaum

muslimin.

Konflik politik dan warisan situasi yang tidak menguntung kan orang-orang, Bani Umayyah itu

perlu "dibenahi" lebih dulu untuk dapat meraih kedudukan sebagai pengganti Khalifah Utsman

r.a.

Muawiyah harus dapat menciptakan situasi baru, di mana konflik politik yang sedang panas itu

bisa dialihkan kepada sasaran baru. Untuk ini harus pula dicari "kambing hitam" yang "tepat".

Dalam hal ini ialah orang yang mempunyai kemungkinan paling besar akan dibai'at oleh kaum

muslimin sebagai Khalifah. Imam Ali r.a. merupakan seorang tokoh yang paling banyak

mempunyai syarat untuk dibai'at. Ia bukan hanya anggota Ahlu-Bait Rasul Allah s.a.w.,

melainkan juga ia seorang genial, ilmuwan dan pahlawan perang.

Sudah sejak dulu, tokoh-tokoh Bani Umayyah selain Utsman r.a. memandang Imam Ali r.a.

dengan perasaan benci dan murka. Mereka tidak bisa melupakan betapa banyaknya korban kafir

Qureiys, termasuk sanak famili mereka, yang mati di ujung pedang Imam Ali r.a. dalam

pertempuran-pertempuran antara kaum musyrikin dan kaum muslimin di masa lalu.

Mereka juga tahu, bahwa di masa Khalifah Utsman r.a. masih hidup, Imam Ali r.a. satu-satunya

orang yang selalu mengingatkan Khalifah tentang besarnva bahaya yang akan timbul akibat

permainan para pembantunya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a.

jugalah yang selalu menasehati Khalifah Utsman r.a. supaya mencegah berlarut-larutnya

pacuan memperebutkan harta kekayaan secara tidak sah, yang sedang terjadi di kalangan

sementara lapisan ummat lslam. Bahkan Imam Ali r.a. jugalah yang bila perlu melancarkan

kritik-kritik secara terbuka dan jujur terhadap kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a.

Tokoh-tokoh Bani Umayyah tahu benar, bahwa Imam Ali r.a. adalah juru bicara yang paling

mustahak mewakili jeritan sebagian besar kaum muslimin, yang ingin dipulihkan kembali

suasana kehidupan seperti yang pernah terjadi pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w.

Golongan Bani Umayyah memandang Imam Ali r.a. sebagai penghambat dan selalu menjadi

perintang bagi mereka dalam usaha meraih kedudukan dan keuntungan-keuntungan materil.

Seandainya Khalifah Utsman r.a. sebelum wafatnya berwasyiat supaya Imam Ali r.a. dibai'at

sebagai Khalifah penggantinya, golongan Bani Umayyah sudah pasti tidak akan

melaksanakannya.

Pertentangan antara Muawiyah dan pendukung-pendukungnya dengan Imam Ali r.a. dan

pendukung-pendukungnya, pada hakekatnya bukanlah pertentangan antar-golongan, melainkan

pertentangan antara kehidupan yang terangsang oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dengan

kehidupan zuhud. Hal ini akan terbukti kebenarannya pada babak-babak terakhir dari proses

pertentangan antara keduabelah fihak.

 

Mencari Calon Pengganti

Dalam situasi tidak menentu, kaum pemberontak dan penduduk Madinah berpendapat, bahwa

hanya salah seorang di antara 5 orang sahabat dekat Rasul Allah s.a.w. yang patut dibai'at

sebagai Khalifah pengganti. Mereka itu ialah yang dulu bersama-sama Utsman bin Affan r.a.

pernah dicalonkan oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebelum wafatnya. Namun dari yang 5

orang itu, hanya 4 orang saja yang masih hidup. Abdurrahman bin A'uf sudah tiada.

Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman r.a. sangat menggoncangkan dan memilukan Sa'ad bin

Abi Waqqash. Karena sebelum itu, Khalifah Umar r.a. juga mati terbunuh, sungguhpun

pembunuhnya bukan seorang muslim (tetapi majusi) dan terjadinya bukan akibat konflik politik

di antara sesama kaum muslimin. Oleh karena itu Sa'ad bin Abi Waqqash mengambil keputusan

untuk menjauhkan diri sama sekali dari kegiatan politik kenegaraan dan kemasyarakatan. Ia

tidak mau melibatkan diri atau dilibatkan dalam proses pembai'atan seorang Khalifah baru.

Dengan demikian dari 4 orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang masih hidup, kini hanya

tinggal 3 orang saja yang dapat dicalonkan.

Jalan mennuju terbai'atnya Khalifah ke 4 ternyata tidak selicin seperti yang diperkirakan orang.

Dalam proses permulaan saja sudah menghadapi kesukaran berat. Karena ketiga orang calon

tersebut sudah tidak ada yang bersedia dibai'at sebagai Khalifah. Usaha pendekatan yang

dilakukan oleh kaum muslimin yang memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a. sukar diterima

oleh tiga orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu. Kemacetan berlangsung selama 8 hari.

Sedangkan kaum muslimin, baik yang tinggal di kota Madinah maupun yang di daerah-daerah,

cemas-cemas gelisah menantikan adanya pimpinan yang baru.

Tragedi pembunuhan kejam terhadap Khalifah Utsman r.a., dikuasainya ibukota oleh kaum

pemberontak, macetnya pemilihan Khalifah baru, semuanya merupakan kerawanan yang amat

berbahaya. Pasukan-pasukan muslimin yang sedang bertugas di luar daerah dengan gelisah

menunggu adanya instruksi-instruksi baru. Jika krisis itu berlarut-larut, mereka sangat khawatir

kalau-kalau musuh Islam akan memanfaatkan krisis kepemimpinan itu sebagai peluang yang

baik untuk melancarkan serangan-serangan.

Di Mesir, seorang Kepala Daerah yang tidak disukai oleh penduduk dan dituntut

pemberhentiannya (Abdullah bin Abi Sarah) masih tetap berkuasa. bersama dengan itu, seorang

Kepala Daerah yang terkenal cakap dan erat hubungannya dengan Khalifah Utsman r.a., yakni

Muawiyah, hanya sibuk dalam kegiatan meningkatkan kedudukannya.

Kaum pemberontak menyadari, tanpa kerjasama dan bantuan aktif kaum Muhajirin dan Anshar,

mereka tidak akan berhasil menentukan pengganti Khalifah Utsman r.a. Setelah mengadakan

pembahasan secara mendalam tentang situasi gawat yang akan timbul akibat tidak adanya

pemerintahan pusat, dan dengan dukungan kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat Rasul

Allah s.a.w., sepakat untuk secepat mungkin mengadakan pemilihan seorang calon, yang akan

dibai'at sebagai Khalifah baru. Calon itu ialah Imam Ali r.a.

 

Imam Ali r.a. di Bai`at

Menurut penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah, jilid IV,

halaman 8, dikatakan, bahwa ketika itu kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di masjid Rasul

Allah s.a.w. Dengan harap-harap cemas mereka menunggu berita tentang siapa yang akan

menjadi Khalifah baru. Masjid yang menurut ukuran masa itu sudah cukup besar, penuh sesak

dibanjiri orang. Di antara tokoh-tokoh muslimin yang menonjol tampak hadir Ammar bin Yasir,

Abul Haitsam bin At Thaihan, Malik bin 'Ijlan dan Abu Ayub bin Yazid. Mereka bulat

berpendapat, bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai'at.

Diantara mereka yang paling gigih berjuang agar Imam Ali r.a. dibai'at ialah Ammar bin Yasir.

Dalam mengutarakan usulnya, pertama-tama Ammar mengemukakan rasa syukur karena kaum

Muhajirin tidak terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman r.a.

Kepada kaum Anshar, Ammar menyatakan, jika kaum Anshar hendak mengkesampingkan

kepentingan mereka sendiri, maka yang paling baik ialah membai'at Ali bin Abi Thalib sebagai

Khalifah. Ali bin Abi Thalib, kata Ammar, mempunyai keutamaan dan ia pun orang yang paling

dini memeluk Islam.

Kepada kaum Muhajirin, Ammar mengatakan: kalian sudah mengenal betul siapa Ali bin Abi

Thalib. Oleh karena itu aku tak perlu menguraikan kelebihan-kelebihannya lebih panjang lebar

lagi. Kita tidak melihat ada orang lain yang lebih tepat dan lebih baik untuk diserahi tugas itu!

Usul Ammar secara spontan disambut hangat dan didukung oleh yang hadir. Malahan kaum

Muhajirin mengatakan: "Bagi kami, ia memang satu-satunya orang yang paling afdhal!"

Setelah tercapai kata sepakat, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat

bersama-sama ke rumah Imam Ali r.a. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan

mendesak agar Imam Ali r.a. keluar. Setelah Imam Ali r.a. keluar, semua orang berteriak agar

ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul Mukminin.

Pada mulanya Imam Ali r.a. menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia

menyatakan : "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir

yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan rela.

Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan fikiran."

Jawaban Imam Ali r.a. yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak kaum

muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau

setengah memaksa, supaya Imam Ali r.a. bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah.

Dengan mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan

pemerintahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika

kekhalifahan jatuh ketangan orang lain…"

Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Imam Ali r.a.

dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan para pemuka kaum Muhajirin dan

Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan

kepemimpinan tertinggi kepada Imam Ali r.a. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang

mereka ajukan Imam Ali r.a. tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti akan

menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat.

Baru setelah Imam Ali r.a. yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat menginginkan

pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima

pembai'atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Imam Ali r.a. bersedia dibai'at, ialah

demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin. Rasa tanggung

jawabnya yang besar atas terpeliharanya nilai-nilai peninggalan Rasul Allah s.a.w.,

membuatnya siap menerima tanggung jawab berat di atas pundaknya. Sungguh pun demikian,

ia tidak pernah lengah, bahwa situasi yang ditinggalkan oleh Khalifah Utsman r.a. benar-benar

merupakan tantangan besar yang harus ditanggulangi.

Keputusan Imam Ali r.a. untuk bersedia dibai'at sebagai Amirul Mukminin disambut dengan

perasaan lega dan gembira oleh sebagian besar kaum muslimin.

Kepada mereka Imam Ali r.a. meminta supaya pembai'atan dilakukan di masjid agar dapat

disaksikan oleh umum. Kemudian Imam Ali r.a. juga memperingatkan, jika sampai ada seorang

saja yang menyatakan terus terang tidak menyukai dirinya, maka ia tidak akan bersedia

dibai'at. Mereka dapat menyetujui permintaan Imam Ali r.a., lalu ramai-ramai pergi menuju

masjid.

Setibanya di Masjid, ternyata orang pertama yang menyatakan bai'atnya ialah Thalhah bin

Ubaidillah. Menyaksikan kesigapan Thalhah itu, seorang bernama Qubaisah bin Dzuaib Al Asadiy

menanggapi: "Aku Khawatir, jangan-jangan pembai'atan Thalhah itu tidak sempurna!" Ia

mengucapkan tanggapannya itu karena tangan Thalhah memang lumpuh sebelah. Orang lain

membiarkan komentar itu lewat begitu saja.

Zubair bin Al-'Awwam segera mengikuti jejak Thalhah menyatakan bai'at kepada Imam Ali r.a.

Sesudah itu barulah kaum Muhajirin dan Anshar menyatakan bai'atnya masing-masing. Yang

tidak ikut menyatakan bai'at ialah Muhammad bin Maslamah, Hasan bin Tsabit, Abdullah bin

Salam, Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Saad bin Abi Waqqash, dan Ka'ab bin Malik.

Tata cara pembai'atan dilakukan menurut prosedur sebagaimana yang lazim berlaku atas diri

Khalifah-khalifah sebelumnya. Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at

Amirul Mukminin Imam Ali r.a. menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain

mengatakan:

"Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan dengan

kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah

datang dari Allah s.w.t. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita seperti

datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan

menahan datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh.

Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan.

"Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kalian, dan

berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak

tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan.

"Ketahuilah bahwa Allah s.w.t. di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini

tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah

mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan)

sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiyamat kelak akan

diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat

hidupnya. Jika waliy itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena keadilannya.

Jika waliy itu seorang yang dzalim, jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyaplah

kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…"

Demikianlah tutur Abu Mihnaf yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah

yang ditulis oleh beberapa penulis lain. Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang

yang tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Imam Ali r.a. supaya menemuinya secara

langsung pada lain kesempatan.

Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak. Ia baru

bersedia membai'at Imam Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat

sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Imam Ali r.a. dan terkenal

sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar

berkata: "Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja

lehernya!"

"Aku tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Imam Ali r.a. dengan tenang

menanggapi ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!"

Setelah Abdullah, datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash atas panggilan Imam Ali r.a. Ketika diminta

pernyataan bai'atnya, ia menjawab supaya dirinya jangan diganggu dulu. "Kalau sudah tidak ada

orang lain kecuali aku sendiri, barulah aku akan membai'at anda."

Mendengar keterangan Sa'ad itu, Imam Ali r.a. berkata kepada seorang sahabatnya: "Sa'ad bin

Abi Waqqash memang tidak berdusta. Biarkan saja dia!" Imam Ali r.a. kemudian

memperbolehkan Sa'ad meninggalkan tempat.

Waktu tiba giliran Usamah bin Zaid, ia mengatakan: "Aku ini kan maula anda. Aku sama sekali

tidak mempunyai persoalan atau niat hendak menentang anda. Pada saat semua orang sudah

menjadi tenang kembali aku pasti akan menyatakan bai'at kepada anda."

Usamah lalu diperbolehkan meninggalkan tempat. Tampaknya Usamah bin Zaid merupakan

orang terakhir yang dipanggil untuk menyatakan bai'at. Sebab, setelah itu tidak ada orang lain

lagi yang dipanggil untuk diminta bai'atnya.

Delapan hari sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan r.a., kini kaum muslimin telah mempunyai

Khalifah baru. Menurut catatan sejarah, jangka waktu 8 hari itu merupakan waktu terpanjang

dalam usaha penetapan seorang Khalifah. Satu keadaan yang cukup menggambarkan betapa

resahnya fikiran kaum muslimin pada saat itu. Delapan hari lamanya kaum muslimin hidup

tanpa pimpinan.

Kota Madinah yang sejak masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. menjadi pusat kepemimpinan agama

dan pemerintahan, selama delapan hari itu berada dalam keadaan serba tak menentu. Tidak

ada kemantapan dan tidak ada ketertiban hukum. Kaum pembangkang yang datang dari luar

Madinah, banyak yang berusaha mengadakan kegiatan pengacauan di kota tersebut. Beberapa

kelompok kaum Muhajirin dan Anshar mengalami berbagai hambatan dalam menentukan sikap.

Sedangkan pemuka-pemuka Bani Umayyah, secara diam-diam mulai "mengkambing-hitamkan"

Imam Ali r.a. Mereka melancarkan tuduhan, bahwa Imam Ali r.a. lah yang "membunuh Utsman"

atau "melindungi kaum pemberontak". Dengan tuduhan itu mereka mengharap Imam Ali r.a.

akan ditinggalkan oleh para pendukungnya dan dengan demikian ia bisa terguling dari

kedudukannya sebagai Amirul Mukminin.