Back Next

Ketergesa-gesaan yang ditunjukkan oleh mereka yang berinisiatif untuk melangsungkan pemilihan khalifah ialah untuk mengisi kekosongan yang bakal terjadi pasca wafat Nabi. Bila ketergesa-gesaan ini menunjukkan satu hal, niscaya perilaku ini menunjukkan bahwa ada teks-teks dan persiapan yang telah diupayakan oleh Nabi yang masih harus diperkuat untuk memerintah. Namun, agar teks-teks yang berhubungan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib tidak efektif bila dibiarkan mengikuti alur alamiahnya, perlu dilakukan sebuah penetrasi. Oleh karenanya, ketika Umar melakukan bait kepada Abu Bakar, ia sempat berkata: “Pembaiatan ini adalah kejadian yang tidak pernah direncanakan dan terjadi begitu saja. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya dan keburukannya. Barang siapa yang melakukan hal seperti ini lagi, maka kalian harus membunuhnya”.[28]

2.  Baiat tidak mencakup semua ahlul halli dan aqdi (tokoh-tokoh kaum muslimin) yang menjadi syarat utama untuk menghasilkan kesepakatan dan untuk mendapatkan legitimasi dalam pemilihan. Pada peristiwa Saqifah, tidak diikutsertakannya kelompok dan para tokoh dari sahabat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas, Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, Khuzaimah bin Sabit, Abu Dzar Al-Ghiffari, Abu Ayub Al-Anshari, Zubeir bin ‘Awwam, Thalhah, Ubai bin Ka’ab dan yang lain-lain.

3.  Penggunaan kekerasan dan pemaksaan dalam mengambil baiat. Sebagian besar kaum muslimin dipaksa untuk melakukan baiat kepada Abu Bakar. Di sini, peran Umar dalam rangka sosialisasi dengan kekerasan, membuat masalah pembaiatan kepada Abu Bakar menjadi sangat penting.

4.  Peristiwa Saqifah telah membentuk beberapa pengertian yang menyesatkan umat Islam, seperti:

a.  Superioritas penguasa atas umat dan meremehkan pentingnya umat lewat semboyan, “Siapa yang berani menentang kami yang memegang kekuasaan Muhammad?”

b.  Penyimpangan terma kenabian dan kekhalifahan menjadi sebuah pengertian yang rendah sebagai kekuasaan kekeluargaan yang kekuatan dan legitimasinya berasaldari pemilihan putra mahkota dari keluarga. Legitimasi kekhalifahan tidak lagi berasal teks-teks wahyu suci.

c.  Membuka lebar-lebar kesempatan kepada kaum muslimin untuk memunculkan konsep pluralitas kekuasaan Islam dan terbukanya kesempatan bagi setiap orang untuk bersaing dengan orang yang secara tegas telah mendapat legitimasi dari teks-teks wahyu. Di sisi lain, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk membangkang pemerintah dan penguasa yang telah mendapat mandat dari Allah lewat teks-teks wahyu, yaitu dengan mengatakan: “Dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian seorang pemimpin”.

d.  Pertemuan Saqifah menyiapkan kondisi yang tepat untuk sekali lagi melanggar hak-hak umat dalam bersuara dan memilih pemimpin politik, sebagaimana yang terjadi dalam penetapan Umar bin Khatthab sebagai khalifah. Dan yang ketiga kalinya adalah ketika Umar menjelang kematiannya. Sebelum meninggal Umar menyiapkan enam kandidat untuk menjadi penggantinya yang hanya dipilih oleh keenam kandidat tanpa melibatkan suara umat. Siapa yang terpilih harus diterima oleh kaum muslimin.

Sikap Ali dan Pertemuan Saqifah

Ali bin Abi Thalib as. tidak rakus menjadi khalifah, juga tidak berusaha untuk mendapatkannya seperti yang dilakukan oleh sebagian sahabat. Keinginannya hanya satu; yaitu menguatkan sendi-sendi Islam, menyebarkan agama, membuat Islam dan pengikutnya menjadi mulia, menjelaskan keagungan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. tanpa lupa mengungkapkan sejarah kehidupannya dan mengajak manusia untuk mengikuti cara hidupnya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin memasukkan pikiran-pikiran dalam hati mereka yang berbeda dengan apa yang diwasiatkan Nabi di perang Uhud dan Hunain. Mereka rakus akan kekuasaan tanpa dasar. Mereka meninggalkan Nabi sebelum dikuburkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan semasa hidup Nabi, ketika menghadapi kesulitan dan mara bahaya.

Kabar pertemuan di Saqifah sampai juga ke rumah Nabi yang di sana berkumpul Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim dan beberapa sahabat yang benar-benar ikhlas mengelilingi jasad Nabi. Abbas, paman Nabi, berkata kepada Ali: “Wahai anak saudaraku! Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu. Pasti apa yang kulakukan ini akan disebarkan bahwa paman Rasulullah saw. telah membaiat anak paman Rasulullah sendiri, Ali. Setelah itu, aku pastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan berselisih mengenai masalah ini”. Ali menjawab: “Wahai paman! Apakah engkau merasa ada orang yang begitu rakus ingin meraih kekuasaan selainku? Abbas berkata: “Kau akan tahu nanti”.

Padahal Ali tahu betul persekongkolan yang dilakukan pada waktu itu. Oleh karenanya, ia dengan transparan berkata: “Aku tidak senang kekuasaan ini direbut lewat pintu yang terkunci”.[29]

Sikap Abu Sufyan

Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan tiba di depan pintu rumah Rasulullah saw, sementara Ali dan Abbas berada di dalam. Abu Sufyan berkata: “Apa yang terjadi tidak akan berlangsung lama dalam kehidupan Quraisy. Demi Allah! Seandainya aku ingin, akan kupenuhi mereka dengan kuda-kuda dan orang laki-laki”. Ali menjawab: “Wahai Abu Sufyan! Pulanglah! Sudah sejak lama engkau memusuhi Islam dan umatnya namun kau tidak pernah berhasil sedikit pun mencelakainya”.

Diriwayatkan juga bahwa ketika kaum muslimin mengadakan pertemuan untuk memilih Abu Bakar, Abu Sufyan maju ke depan sambil berkata: “Demi Allah! Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Wahai keturunan Abdi Manaf! Apa yang bisa diperbuat Abu Bakar untuk menyelesaikan masalah-masalah kalian? Di mana orang-orang lemah, Ali dan Abbas?” Kemudian ia melanjutkan: “Abu Hasan (panggilan Ali bin Abi Thalib), ulurkan tanganmu! Aku ingin membaiatmu!” Ali menolak mengulurkan tangannya seraya berkata: “Demi Allah! Aku tahu bahwa yang engkau inginkan adalah terjadinya fitnah. Sudah sejak lama engkau memusuhi Islam dan menginginkan kejelekannya. Kami tidak butuh nasihatmu!”[30] Ketika Abu Bakar dibaiat, Abu Sufyan berkata: “Apa yang ada di antara kami dan keberuntungan hanyalah Bani Abdi Manaf!”

Dikatakan kepadanya: “Ia telah menjadikan anakmu sebagai penguasa”. Abu Sufyan menjawab: “Aku hanya melakukan silaturahmi”.

Ketidaksetujuan Abu Sufyan terhadap peristiwa Saqifah tidak berarti keyakinannya akan kebenaran Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim. Itu hanyalah sebuah manuver politik yang pada dasarnya adalah tipuan untuk merusak citra Islam. Hubungan Abu Bakar dan Abu Sufyan sangat kuat dalam rangka mencapai tujuan yang dicita-citakan.[31]

Para Penentang Saqifah

Pada peristiwa Saqifah, sangat alamiah bila ada kelompok-kelompok. Hal itu diperkuat dengan ketidaklayakan sikap orang yang terpilih sebagai khalifah. Dalam peristiwa Saqifah ada tiga kelompok:

1.  Anshar. Kaum Anshar termasuk kelompok politik yang berpengaruh. Dari sisi kuantitas, mereka memiliki jumlah yang tidak kecil. Oleh karenanya, kaum Anshar perlu mendapat perhitungan yang serius sebagai kandidat dalam pemilihan. Mereka tidak setuju dengan khalifah terpilih dan pendukungnya di Saqifah Bani Saidah. Sempat terjadi adu mulut yang cukup alot yang berakhir dengan kemenangan Quraisy.

Abu Bakar dan pendukungnya mendapat keuntungan dalam menghadapi Anshar dari dua sisi:

a.  Mengkristalnya pemikiran pewarisan agama dalam benak bangsa Arab. Dan hal itu dapat ditelusuri dari ucapan yang mengatakan bahwa Quraisy masih serumpun dengan Nabi dan lebih dekat dibandingkan dengan suku lainnya. Dengan alasan ini, mereka merasa lebih layak ketimbang kaum muslimin yang lain dan selanjutnya, yang paling layak menjadi khalifah adalah dari Quraisy.

b.  Kaum Anshar sendiri tidak memiliki satu pendapat. Suara mereka terpecah antara yang mendukung Abu Bakar dan yang menentangnya. Alasan perpecahan mereka dapat ditafsirkan dengan mengakarnya pemikiran kesukuan dan kedengkian antara satu dengan yang lain, atau sebuah upaya untuk lebih dekat dengan khalifah terpilih dari Quraisy. Pemikiran ini tampak dalam ucapan Usaid bin Hudhair di Saqifah: “Bila kalian menjadikan Saad sebagai khalifah, kekhalifahan akan senantiasa bersama kalian, demikian pula dengan keutamaan. Namun diperhatikan! Bahwa Saad tidak akan membagi-bagikan kekuasaan ini dengan kalian selama-lamanya. Sekarang, bangkitlah dan Baiatlah Abu Bakar!”[32]

Pertemuan Saqifah sendiri memberi kekuatan kepada Abu Bakar dari dua sisi:

a.  Melemahnya peran Ali bin Abi Thalib dalam mengarahkan suku-suku karena  Anshar adalah kekuatan yang tidak mungkin berada di barisan Ali bin Abi Thalib pasca Saqifah, apa lagi membela dan membantu Ali untuk merebut kekhalifahan.

b.  Munculnya Abu Bakar sebagai satu-satunya pembela hak-hak kaum Muhajirin secara keseluruhan dan Quraisy secara khusus di tengah-tengah kaum Anshar. Kondisi saat itu memang sangat mendukung, karena tidak adanya kelompok dari Muhajirin sendiri yang dapat mencegah mereka meraih tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

2.  Bani Umayyah. Keturunan Umayyah memiliki ambisi yang luar biasa besar akan kekuasaan. Dari kejadian ini mereka berharap dapat memperoleh posisi dan mengembalikan segalanya seperti di zaman Jahiliyah. Bani Umayyah dipimpin oleh Abu Sufyan. Abu Bakar dan kelompoknya telah melakukan kerja sama dengan Bani Umayyah, karena tahu betul keinginan-keinginan mereka, baik secara politis maupun materi. Sangat mudah bagi Abu Bakar untuk kemudian tidak mengindahkan sebagian prinsip dan hukum-hukum syariat lalu memberikannya kepada Abu Sufyan. Abu Bakar memberikan kepada Abu Sufyan sebagian harta dan hasil zakat kaum muslimin yang dikumpulkannya sejak ia ditugaskan oleh Nabi.

Pada sisi yang lain, kelompok yang menang di Saqifah tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Bani Umayyah dan tidak menekan Abu Sufyan atas apa yang diucapkannya sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib .as. dan Bani Hasyim.

Tidak itu saja. Abu Bakar dan kelompoknya malah memanfaatkan Bani Umayyah untuk melemahkan peran Bani Hasyim, mulai sejak itu hingga masa-masa yang akan datang. Abu Bakar dan kelompoknya memberikan posisi-posisi penting dalam pemerintahan kepada Bani Umayyah.

3.  Bani Hasyim dan beberapa sahabat pengikut mereka seperti Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghiffari dan Miqdad r.a. dan sejumlah besar sahabat yang memandang keluarga Hasyim sebagai yang layak memiliki legitimasi dari syariat untuk menjadi khalifah. Bani Hasyim adalah pewaris Rasulullah saw. dengan dukungan teks wahyu di peristiwa Ghadir Khum.

Mereka tidak tunduk pada argumentasi-argumentasi lemah yang disampaikan para pendukung Saqifah. Mereka melihat para pendukung Saqifah bagaikan kumpulan kepentingan-kepentingan yang mencoba untuk menguasai dan mengeksploitasi kekuasaan demi memenuhi hasrat dan kerakusan, dan sebagai sebuah upaya untuk menyesatkan perjalanan dan eksperimen Islam dari jalannya yang sah dan benar.

Hasil-hasil Saqifah

Abu Bakar dan kelompoknya telah menjadi pemenang dalam menghadapi Anshar dan Bani Umayyah. Kekhalifahan telah jatuh di tangan mereka. Namun, kemenangan ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena setelah itu muncul masalah yang lebih besar tentang pertikaian. Tentunya ini bermula dari argumentasi mereka untuk meraih kursi kepemimpinan yang bertumpu pada kesukuan dan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Atas dasar inilah tidak salah bila pasca Saqifah muncul mazhab rasialis dan keturunan dalam kepemimpinan agama.

Keberadaan Bani Hasyim sebagai kelompok yang menentang proses Saqifah mampu membalikkan situasi. Mereka berargumentasi dalam menghadapi kelompok Saqifah dengan alasan yang sama yang dipakai Abu Bakar dan kelompoknya ketika menghadapi kaum Anshar. Argumentasi itu demikian; bila Quraisy merasa lebih layak dan dekat dengan Rasulullah saw. dari sekian kabilah-kabilah Arab, maka Bani Hasyim lebih tepat dan layak untuk memegang tampuk kekhalifahan dibandingkan dengan kelompok Quraisy lainnya.

Argumentasi inilah yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib ketika ia berkata: “Kaum Muhajirin berargumentasi dengan kedekatan mereka dengan Rasulullah saw. Ini juga argumentasi kami terhadap kaum Muhajirin. Bila argumentasi yang dipakai adalah kedekatan hubungan kekeluargaan, maka itu dapat benar ke atas yang lain, tidak ke atas kami; Bani Hasyim. Bila argumentasi mereka juga berlaku atas kami, maka kaum Anshar tetap kuat dengan klaimnya”.

Abbas juga menjelaskan hal yang sama dalam obrolannya dengan Abu Bakar: “Ucapanmu ketika di Saqifah bahwa kami serumpun dengan Rasulullah saw, sesungguhnya kalian hanya tetangga sedangkan kami kami adalah rantingnya”.[33]

Pada intinya, Ali bin Abi Thalib a.s. adalah sumber ketakutan bagi mereka yang bermain di Saqifah. Ali adalah satu-satunya penghalang yang mampu melenyapkan semua ambisi yang selama ini terpendam. Ali mampu menahan tangan-tangan yang bermain di Saqifah, dan jumlah mereka sangat banyak; yaitu orang-orang yang pada umumnya ikut ke mana angin bertiup tanpa memiliki identitas, ikut berteriak bersama mereka yang menjual suaranya di bursa kekuasaan politik. Merka adalah orang-orang yang ingin mengenyangkan perut-perut mereka sepeninggal Nabi dengan harta khumus (seperlima) dan hasil perkebunan Madinah, begitu juga tanah subur Fadak (tanah milik Nabi yang diwariskan kepada Fathimah).

Ali bin Abi Thalib enggan menjadi khalifah dengan tujuan-tujuan hina semacam itu atau demi ketenaran pribadi. Dari sisi lain, ia berusaha untuk berargumentasi di hadapan tokoh-tokoh penting Saqifah dengan prinsip yang sama; yaitu kedekatan keluarga. Argumentasi yang pada gilirannya menjadi koin keberuntungan di tangan Ali dengan ucapannya: “Mereka berargumentasi dengan pohon (kedekatan dengan Nabi), namun pada saat yang sama mereka lupa akan buah dari pohon itu”.

Sebagian besar masyarakat Islam masih menguduskan Ahlul Bait Nabi dan menghormati mereka, karena mereka adalah buah dari pohon kenabian yang pada gilirannya, kekuasaan politik memasuki masa paling kritis yang tidak ada jalan keluarnya. Untungnya, Ali adalah seorang pribadi yang lebih mulia dari sekedar perebutan kekuasaan. Ia lebih mengedepankan maslahat umat Islam ketimbang kepentingan pribadinya sebagai penguasa yang sah yang mendapat legitimasi langsung dari Nabi.

Untuk mengantisipasi kemungkinan Ali bin Abi Thalib menggoyahkan rencana yang telah dijalankan, kelompok Saqifah berada dalam keraguan di antara dua sikap:

1.  Meninggalkan prinsip kedekatan kekeluargaan sebagai argumentasi utama untuk menjadi khalifah. Namun ini sama dengan mengabaikan legitimasi wahyu atas kekhalifahan Abu Bakar yang telah direbutnya sejak peristiwa Saqifah.

2.  Memperkuat dan menegaskan kembali prinsip-prinsip yang telah diperjuangkan sejak Saqifah (kedekatan kekeluargaan) dalam menghadapi kelompok-kelompok penentang. Sosialisasi harus dilakukan sehingga hak Bani Hasyim sekaitan dengan kepemimpinan dan kekhalifahan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting, sekalipun kekerabatan mereka termasuk yang paling dekat dengan Nabi. sekalipun kekhalifahan masih merupakan hak Bani Hasyim, namun itu tidak pada saat-saat masyarakat menyepakati pemerintahan yang telah terbentuk.

Tampaknya, kemungkinan kedua menjadi pilihan yang lebih menguntungkan pemerintahan yang ada.[34]

Ali bin Abi Thalib a.s. di Zaman Abu Bakar

Siasat Penguasa Menghadapi para penentang

Jelas, kelompok yang berhasil menguasai kekuasaan tidak mungkin mundur kembali. Kondisi ini menjadi lebih sulit setelah rencananya telah disiapkan sebelumnya. Kelompok ini menegaskan pandangan-pandangan yang telah disosialisasikan di Saqifah dengan berbagai cara terlepas dari legitimasi yang dimilikinya sah atau tidak dalam rangka melindungi Islam. Oleh karenanya, dapat ditemukan sebagian kejadian dan agenda-agenda politik yang diusung oleh kelompok ini. Mereka senantiasa berusaha menjauhkan keluarga Nabi Muhammad saw. dari kekuasaan secara total bahkan lebih dari itu, mereka berusaha untuk melenyapkan prinsip-prinsip yang menguatkan Bani Hasyim secara politis. Hal itu tidak saja untuk masa itu, namun sebelumnya mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang akan datang. Kemungkinan-kemungkinan tersebut seperti:

1.  Penguasa baru menganggap mereka yang menentang sebagai kekuatan/ oknum penyulut fitnah di tengah-tengah kaum muslimin, dan hukum menciptakan fitnah adalah haram dalam Islam. Hal itu ditambah dengan stabilitas negara yang mapan, di samping musuh-musuh di luar teritorial Islam yang senantiasa menanti kesempatan melemahnya pemerintahan Islam untuk kemudian mencaploknya. Di sisi lain, munculnya gejala pemurtadan sebagian kaum muslimin sepeninggal Rasulullah saw. di dalam kawasan Islam sendiri.

2.  Tindak-tindak kekerasan yang dipakai oleh khalifah terpilih dan kronixnya terhadap Ali bin Abi Thalib a.s. dan orang-orang yang masih setia dengannya, persis dengan cara yang dipakai untuk membungkam Saad bin Ubadah di Saqifah. Kekerasan yang ditunjukkan oleh penguasa nampak sekali pada perilaku Umar bin Khatthab yang sesumbar akan membakar rumah Ali, sekalipun Fathimah, putri Rasulullah, berada di dalamnya.[35] Sikap Umar menunjukkan bahwa Fathimah, keluarga Muhammad saw., tidak lagi memiliki hak-hak untuk dihormati oleh pemerintah, karena kebijakan mereka sama.

3.  Abu Bakar dan pendukungnya tidak memberikan bagian posisi pun dalam pemerintahannya kepada satu dari keluarga Bani Hasyim. Sikap ini kepanjangan dari prinsip pertama agar suatu saat jangan sampai Bani Hasyim dapat mengambil kembali kekhalifahan yang menjadi hak mereka.[36] Bahkan lebih dari itu, tidak satu pun dari Bani Hasyim yang kemudian ditunjuk untuk menjadi gubernur di sebuh kawasan Islam.

4.  Mempersiapkan front politik besar sebagai rival keluarga Muhammad saw. agar dapat meraih kepemimpinan dan menguasai posisi-posisi penting di pemerintahan. Di sini, terlihat bahwa Bani Umayyah memiliki garis yang jelas dalam sikap politiknya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis di zaman Abu Bakar dan Umar. Di samping itu,  prinsip Syura’ yang dikembangkan Umar secara pasti untuk memunculkan Utsman bin Affan sebagai kandidat akan terpilih oleh mayoritas kandidat yang ada.

Front ini digambarkan akan bertahan lama bahkan akan semakin meluas dan membesar, karena ia tidak terbentuk secara perseorangan, namun mengambil bentuk sebuah insitusi besar. Pada gilirannya, front ini tidak memberikan kesempatan kepada keluarga Muhammad saw. untuk dapat meraih kekuasaan. Seandainya hal itu mungkin, maka tidak akan didapatkan dengan mudah.

5.  Menyingkirkan semua unsur pendukung Bani Hasyim. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar telah menyingkirkan Khalid bin Said bin Al-Ash. Semula, ia adalah komandan tentara yang dipersiapkan menguasai Syam (Syiria). Namun, Umar membisikkan dan memperingatkan Abu Bakar bahwa Khalid bin Said dari keluarga Bani Hasyim dan condong kepada Ali bin Abi Thalib. Tidak cukup itu saja, Umar mengingatkannya juga bahwa Khalid termasuk orang yang menentang mereka sepeninggal Nabi.[37]

6.  Melemahkan kekuatan ekonomi Ali bin Abi Thalib. Sebab, kekuatan ekonomi yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk membiayai pergerakannya guna meraih kembali haknya yang terampas sebagai khalifah. Untuk itu, Khalifah memulai usahanya dengan memblokir dan merampas tanah Fadak dari Fathimah a.s. Abu Bakar tahu bahwa Fathimah bagi Ali adalah kekuatan utama yang senantiasa mengiringinya untuk menuntut haknya. Selain itu, kekuatan-kekuatan politik yang ada telah menjual suaranya kepada pemerintah. Sangat mungkin sekali pemerintah  akan membatalkan kontrak dagang dengannya, sekalipun mendatangkan keuntungan yang besar. Sebagaimana diketahui juga, bahwa Abu Bakar sendiri menggunakan politik uang sebagai alat untuk mendapatkan dukungan masa.[38]

Di samping data di atas, Fathimah, putri Rasulullah saw., adalah bukti terbesar yang sering diandalkan oleh pendukung Ali bin Abi Thalib untuk menjelaskan kebenaran; bahwa kekhalifahan adalah hak Ali. Di sisi lain, khalifah akan dianggap benar-benar sukses dalam usaha-usahanya yang bersifat politis bila mampu membuat Fathimah, pendukung Ali, mengambil sikap netral. Cara paling ampuh adalah dengan tidak langsung memahamkan kaum muslimin bahwa Fathimah hanyalah seorang wanita yang tidak pantas untuk didengar omongannya dalam pengaduannya tentang masalah Fadak yang jelas-jelas merupakan masalah sederhana, apa lagi tentang masalah yang lebih penting seperti masalah khilafah. Bila Fathimah menuntut tanah yang bukan haknya, maka sangat mungkin sekali ia menuntut[39] pemerintahan Islam untuk suaminya. Sementara Ali tidak memiliki hak sama sekali, sebagaimana yang diklaim oleh para sahabat yang menjadikan dirinya sebagai kandidat untuk menjadi khalifah Rasulullah saw.

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar berkuasa, ia mengutus kepada wakil Fathimah Zahra yang menjaga Fadak, kemudian mengusirnya dari tanah Fadak lali ia menguasainya. Ia berargumentasi dengan sebuah hadis yang tidak pernah didengar oleh sahabat lain selain dirinya. Ia mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kami para Nabi tidak mewariskan apapun, dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”. Dengan alasan hadis ini Nabi tidak mewariskan apapun. Seandainya ada, itu menjadi milik kaum fakir miskin.[40]

Argumentasi para Penentang Khalifah Terpilih di Saqifah

Sejumlah sahabat, pendukung Ali bin Abi Thalib yang menuntut hak Ali sebagai khalifah berargumentasi dengan argumen yang kuat, jelas dan atas dasar teks-teks wahyu dengan memakai metode yang menunjukkan antusiasi mereka akan menangnya kebenaran dan terjaganya pemerintahan Islam dari penyesatan. Mereka berkumpul di masjid Nabi. Salah satu dari mereka bernama Khuzaimah bin Sabit dan berkata: “Wahai kaum muslimin! Apakah kalian tidak tahu bahwa Rasulullah saw. menerima kesaksianku seorang  diri?” Mereka berkata: “Ya! Kami tahu”. Khuzaimah melanjutkan: “Saksikanlah bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ahlul Baitku adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Mereka adalah para imam yang harus diikuti. Aku telah mengucapkan apa yang kutahu, seorang utusan tugasnya hanyalah menyampaikan”.

Ammar bin Yasir berargumentasi dengan ucapannya: “Wahai Quraisy! Wahai kaum muslimin! Bila kalian telah mengetahui, maka biarkan itu yang berlaku. Namun, bila kalian belum mengetahui, ketahuilah bahwa Ahlul Bait Nabi lebih utama dan lebih berhak atas warisan Nabi. Ahlul Bait Nabi lebih tangguh dalam urusan agama dan lebih tepercaya bagi orang mukmin, lebih menjaga umat Islam dan lebih memperhatikan umat Islam dan menginginkan kebaikan mereka. Perintahkanlah tuan kalian, Abu Bakar, agar ia mengembalikan hak yang diambil dari pemiliknya sebelum urusan-urusan kalian melemah, berpecah belah dan sebelum fitnah membesar di tengah kalian”.

Sahl bin Hanif berdiri dan berkata: “Wahai Quraisy! Bersaksilah atas Rasulullah saw! Aku telah melihatnya di tempat ini (masjid). Nabi mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib seraya berkata: “Wahai manusia! Ini adalah Ali; Imam kalian setelahku, penerus wasiatku ketika aku hidup dan setelah matiku, hakim agamaku, bukti janjiku. Dialah orang pertama yang menjabat tanganku di telaga Kautsar pada Hari Kiamat. Sangat beruntung orang yang mengikuti dan menolongnya. Celakalah orang yang mengingkari dan menghinakannya”.

Abu Al-Haitsam bin At-Tihan tidak mau ketinggalan. Ia berdiri dan berkata: “Aku bersaksi atas Rasulullah saw. bahwa beliau pernah mengangkat Ali pada Hari Hadir Kaum. Kaum Anshar pada waktu itu berkata: “Nabi mengangkat Ali dalam urusan kekhalifahan. Sebagian lain berucap: “Nabi melakukan hal itu tidak lain agar manusia tahu bahwa Ali adalah pemimpin bagi siapa yang menjadikan Rasulullah saw sebagai pemimpinnya. Banyak suara-suara yang mencoba menafsirkan hal itu, akhirnya kami mengutus seseorang menemui Rasulullah untuk menanyakan masalah ini. Nabi menjawab: “Ali adalah wali dan pemimpin kaum mukminin sepeninggalku dan orang yang paling peduli menasihati umatku. Dan aku, Abu Haitsam, bersaksi dengan Zat yang menciptakanku, terserah kalian untuk memilih percaya atau tidak, sesungguhnya azab Hari Kiamat sangat pedih”.

Kemudian secara berturut-turut berdiri Abu Ayub Al-Anshari, Utbah bin Abi Lahab, An-Nu’man bin ‘Ajalan dan Salman Al-Farisi menyampaikan argumentasinya di hadapan kaum muslimin.[41]

Upaya Pemaksaan Baiat atas Ali

Keengganan Ali bin Abi Thalib untuk berbaiat kepada Abu Bakar dan protes sejumlah sahabat besar secara terang-terangan dan tuntutan untuk mengembalikan kekuasaan kepada pemiliknya yang sah, memiliki pengaruh efektif dalam menggerakkan emosi kaum muslimin untuk bergabung dengan barisan Ali. ditambah dengan adanya sebagian kelompok muslim nomaden yang tinggal di pinggiran kota Madinah seperti: Asad, Fazarah[42], Bani Hanifah dan selainnya yang menyaksikan secara langsung pembaiatan di Hari Ghadir Khum yang dilakukan oleh Nabi kepada Ali sebagai pemimpin kaum mukminin sepeninggal dirinya. Semua itu membuat mereka enggan berbaiat kepada Abu Bakar. Mereka juga tidak membayar zakat kepada pemerintah terpilih, karena menganggap bahwa pemerintahan ini tidak sah. Namun pada saat yang sama, mereka tetap melakukan shalat dan ibadah lainnya. Semua ini menjadi bahaya laten bagi pemerintahan yang ada. Oleh karenanya, pemerintah merasa terdesak untuk mengambil langkah-langkah guna meminimalkan bahaya tersebut. Cara paling ampuh adalah memaksa pimpinan para penentang,  yaitu Ali bin Abi Thalib, untuk berbaiat kepada Abu Bakar.


[28] . Tadzkirah Al-Khawash, hal 61. Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Hudud, Bab Rajm Al-Hubla.

[29] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 21.

[30] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 449. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 326.

[31] . Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan melewati sekelompok kaum muslimin. Abu Bakar, Salman, Shuhaib dan Bilal berada dalam kelompok tersebut. Sebagian dari mereka berkata: “Mengapa engkau tidak mencabut pedang Allah dari sarungnya untuk membasmi musuh-musuh Allah?” Abu Bakar mencoba menghalangi orang yang berkata dengan menimpali: “Apa yang kalian katakan terhadap tokoh Quraisy dan pemimpinnya? Setelah kejadian itu, Abu Bakar segera menemui Nabi dan melaporkan apa yang dikatakan orang terhadap Abu Sufyan. Nabi menjawab: “Wahai Abu Bakar! Jangan engkau marah pada orang yang berkata tadi! Bila hal itu memang benar, niscaya Allah akan memarahimu pula’. Sahih Al-Bukhari, jilid 2, hal 362.

[32] . Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 331.

[33] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 5.

[34] . Penjelasan detil pada: As-Syahid As-Shadr, Fadak fi At-Tarikh, hal 84-96. Tarikh Ath-thabari, , jilid 2, hal 449 dan 450, peristiwa Saqifah.

[35] . Bihar Al-Anwar, jilid 43, hal 197.

[36] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 618. Muruj Adz-dzahab yang ditulis dipinggir Tarikh Ibnu Al-Atsir, jilid 5, hal 135.

[37] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 586.

[38] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 182. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 133.

[39] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 16, hal 284.

[40] . Sunan Al-Baihaqi, jilid 6, hal 301. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 16, hal 218-224. Al-Mudzaffar, Dalil Ash-shidq, jilid 3, hal 32.

[41] . Tarikh Abu Al-Fida’, jilid 1, hal 156. As-Shaduq, Al-Khishal, hal 432. Ath-thabarsi, Al-Ihtijaj, jilid 1, hal 186.

[42] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 476.

Back Next