Next

RINGKASAN KEHIDUPAN ALI BIN ABI THALIB (1)

Silsilah

Nasab Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lua’iy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhir bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Iyaas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

Kakek

Abdul Mutthalib dikenal sebagai “Syaibah Al-Hamd” (orang tua yang suka bersukur). Namun, ia juga biasa dipanggil dengan Abu Al-Harts. Nasab Ali bin Abi Thalib bertemu dengan nasab Rasulullah saw pada Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib beriman kepada Allah swt dan tahu persis bahwa Muhammad saw akan menjadi seorang nabi.[1]

Ketika mendekati ajalnya, Abdul Mutthalib ia memanggil anaknya; Abu Thalib dan berkata: “Wahai anakku! Engkau tahu betul betapa aku mencintai Muhammad. Aku ingin mengetahui pendapatmu. Bagaimana engkau akan menjaganya sepeninggalku?”  Abu Thalib menjawab: “Wahai ayah! Jangan mewanti-wantiku tentang pengasuhan Muhammad saw. Ia telah kuanggap sebagai anakku sendiri, walaupun ia adalah anak saudaraku”.[2]

Ayah

Ayah Ali bin Abi Thalib bernama Abdi Manaf. Ada dua nama yang disebutkan berkenaan dengan nama ayah Ali bin Abi Thalib bin Abi Thalib; Imran dan Syaibah. Ayah Ali bin Abi Thalib lebih dikenal dengan sebutan Abu Thalib. Abdi Manaf adalah saudara sekandung Abdullah ayah Nabi Muhammad saw. Abu Thalib dilahirkan di Mekkah sekitar tiga puluh lima tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Abu Thalib adalah pemimpin bagsa Quraisy sepeninggal ayahnya; Abdul Mutthalib. Tugasnya antara lain memberi minum semua peziarah ke Mekkah. Tugas ini dalam sejarah disebut siqayatul haj. Abu Thalib adalah orang yang menyembah Allah dan mengesakan-Nya tanpa pernah menyembahnya. Pada masanya, ia melarang perkawinan sesama muhrim, membunuh anak wanita yang baru lahir, berzina, meminum minuman keras dan melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sambil telanjang.[3]

Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menjadi pengasuh Rasulullah saw. Ia mencintai Muhammad lebih dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Setiap hendak tidur, Muhammad selalu ditidurkan di sisinya. Bila ia keluar, senantiasa Muhammad saw dibawa bersamanya. Makanan Muhammad saw., pun disisihkan olehnya secara khusus.

Diriwayatkan bahwa Abu Thalib pernah mengumpulkan sanak keluarga Abdul Mutthalib dan berkata: “Kalian senantiasa mendengar bahwa Muhammad selalu melakukan kebajikan, sayangnya kalian belum mengikutinya. Ikutilah dia, bantu dia, niscaya kalian akan menemukan kebenaran”. Sepeninggal Abu Thalib, bangsa Quraisy senantiasa berada di belakang Rasulullah saw membantunya.[4]

Abu Thalib meninggal dunia tiga tahun sebelum hijrah dan setelah terbebasnya Bani Hasyim bersama Nabi dari As-Syi’b. Ketika meninggal, Abu Thalib berusia delapan puluh tahunan lebih.[5] Nabi Muhammad saw. juga memiliki kecintaan yang dalam kepada Abu Thalib. Sejak berumur delapan tahun (sepeninggal kakeknya Abdul Mutthalib), ia hidup bersamanya. Sekitar 43 tahun ia merasakan kasih sayang sang paman tercinta.

Jelas, Abu Thalib adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya. Ia memiliki keyakinan yang dalam akan kebenaran Islam hingga maut menjemputnya. Selama hidupnya, iamenyembunyikan keimanannya agar tetap dapat melakukan hubungan dengan orang-orang kafir Mekkah dan mencari informasi tentang tipu daya dan makar yang akan dilakukan terhadap Muhammad saw. Semasa hidupnya, ia melakukan taqiyyah (menyembunyikan iman). Ia bagaikan ‘Ashabul Kafi’ yang menyembunyikan imannya dari masyarakat sekitarnya. Ia merupakan  seorang mukmin yang akan mendapat dua pahala karena keimanan yang digenggamnya dan taqiyyah yang dilakukannya.[6]

Ibu

Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Nasab ibu dan ayahnya bertemu pada Hasyim. Ia memeluk Islam dan berhijrah bersama Nabi dan termasuk dari orang-orang pertama yang beriman. Di mata Muhammad, Fathimah bagaikan seorang ibu[7] yang telah bersusah payah membesarkannya. Oleh karenanya, ketika Fathimah meninggal dunia, Nabi Muhammad saw memasuki kamar tempat ia dibaringkan, lalu duduk di bagian atas kepalanya dan berkata: “Semoga Allah merahmatimu wahai ibu! Engkau kuanggap ibuku sendiri sepeninggal ibuku. Engkau sering rela untuk menahan lapar untuk tidak membiarkan aku tanpa makanan. Engkau tidak memiliki banyak pakaian untuk senantiasa aku kau pakaikan pakaian. Engkau menahan diri untuk tidak menikmati makanan yang lezat dan membiarkannya untukku. Kutahu apa yang kau perbuat hanya karena mengharap pahala dari Allah di Hari Akhirat”.

Setelah mendoakannya, Nabi kembali menutupnya dan memerintahkan untuk memandikan jenazahnya dengan air tiga kali. Ketika sampai pada mandi dengan air yang dicampur dengan kapur, Nabi sendiri yang menuangkan air dengan tangannya. Kemudian Nabi melepaskan baju gamisnya dan memakaikannya ke tubuh Fathimah binti Asad ibu Ali bin Abi Thalib, kemudian mengafankannya lalu memanggil Usamah bin Zaid (budak Nabi yang telah dimerdekakannya), Abu Ayub Al-Anshari, Umar bin Khatthab dan seorang budak hitam untuk menggalikan kuburannya. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, Nabi dengan tangannya sendiri menggali tempat persemayaman terakhir ibu yang telah membesarkannya dan mengangkat tanahnya sendiri. Setelah itu, beliau masuk lagi dan berbaring di dalam kuburan sambil berkata: “Allah, Zat yang menghidupkan dan mematikan, Zat yang selalu hidup tak pernah mati. Ya Allah! Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad bin Hasyim. Beritahu bahwa ia telah menemukan kebenarannya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku, luaskan kuburan ini baginya. Sesungguhnya Engkau Maha pengasih Maha Penyayang”. Setelah berdoa, Rasulullah saw., dengan bantuan Abbas dan Abu Bakar, memasukkan jasad Fathimah ke dalam kubur.[8]

Disebutkan bahwa ada yang bertanya tentang penguburan Fathimah binti Asad: “Wahai Rasulullah! Kami melihat engkau meletakkan sesuatu di kuburan Fathimah, padahal engkau tidak pernah melakukan hal ini untuk siapa pun sebelumnya?” Beliau menjawab: “Aku memakaikannya pakaianku sendiri agar kelak ia memakai pakaian para penghuni surga. Aku juga sempat berbaring di kuburannya agar Allah meringankan tekanan kuburan atasnya. Ia adalah salah satu ciptaan Allah yang terbaik bagiku setelah Abu Thalib. Semoga Allah meridhai keduanya”.[9]

Periode Kehidupan

Ali bin Abi Thalib a.s. dilahirkan sepuluh tahun sebelum bi’tsah (pengangkatan Muhammad saw sebagai Nabi). Ia hidup dan mengalami semua kejadian mulai dari bi’tsah hingga seluruh pergerakan risalah selama di Mekkah, yaitu periode pembentukan umat Islam dan pengukuhan prinsip-prinsip risalah. Ia juga mengikuti seluruh pergerakan Islam di Madinah, yaitu periode dimana pemerintahan Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw, dibangun secara sempurna. Ali memiliki saham besar dalam keberadaan Islam hingga muncul dan dikenal oleh dunia.

Sesuai perintah Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib bertanggung jawab membawa obor hidayah ilahiah dan kepemimpinan Islam pasca Nabi. Di sisi lain, para sahabat melakukan pembangkangan terhadap teks-teks yang telah diucapkan Rasulullah saw. untuk menjadikan Ali sebagai pemimpin mereka. Para sahabat berusaha sedemikian rupa agar Ali tidak menjadi pemimpin sepeninggal Nabi. Akan tetapi, Ali bin Abi Thalib tetap berjalan mengemban risalah di tengah kondisi yang sulit. Ia hidup bersama para khalifah, padahal ia tahu siapa sebenarnya yang layak menduduki kursi kepemimpinan. Ali mampu menahan kesabarannya sedemikian rupa selama dua puluh lima tahun hingga kesabarannya membuahkan hasil. Akhirnya, umat Islam mengetahui sejumlah penyimpangan yang telah mereka lakukan atas nasihat dan garis yang telah ditentukan oleh Nabi.

Memahami akan kesalahan yang terjadi, kemudian umat mendatangi Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Itu setelah menjalani segala kesulitan yang panjang yang pada akhirnya ia harus mengemban tanggung jawab berat ini. Semua nilai kebaikan yang dimilikinya hanya dapat diterapkan selama lima tahun. Setelah berjuang selama lima tahun, akhirnya beliau menyerahkan darahnya di jalan Allah demi membela nilai-nilai risalah yang diperjuangkannya agar merasuk kuat ke dalam hati nurani masyarakat Islam dan kemanusiaan.

Secara umum, perjuangan Ali bin Abi Thalib telah membagi kehidupannya menjadi dua periode.

Periode pertama   , kehidupannya mulai dari lahir hingga   wafatnya Rasulullah saw.

Periode kedua, kehidupannya sejak wafatnya Nabi, memegang tampuk kepemimpinan hingga menemui kesahidannya di mihrab masjid.

Namun, dengan melihat beragamnya vase kehidupan Ali bin Abi Thalib, akan lebih tepat bila periode pertama dibagi menjadi tiga bagian agar lebih memudahkan dalam memahami sejarah kehidupannya:

Periode pertama   : Sejak lahir hingga bi’tsah.

Periode kedua      : Sejak bi’tsah hingga hijrah.

Periode ketiga : Sejak hijrah hingga wafatnya Nabi.

Sementara itu, periode kedua juga dapat dibagi menjadi dua kelompok; Pertama ia melakukan perlawanan diam untuk mempertahankan risalah dan rasul. Kedua, ia menjadi pemimpin.

Periode keempat : Zaman pemerintahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Periode kelima      : Selama memerintah hingga kesahidan.

Periode pertama hingga ketiga akan dibahas pada bab ini juga. Sementara periode keempat akan dibahas pada bab tiga. Adapun bab keempat dari buku ini dikhususkan untuk periode kelima dari kehidupan Ali bin Abi Thalib a.s.

Sejak Lahir Hingga Menjadi Imam

Periode Pertama : Sejak Lahir Hingga Bi’tsah (Awal Kenabian)

Kelahiran

Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku dilahirkan di atas fitrah. Aku termasuk orang yang lebih dahulu dalam beriman dan berhijrah”.[10]

Ali bin Abi Thalib dilahirkan di kota Mekkah, tepatnya di dalam Ka’bah pada hari Jumat tanggal 13 bulan Rajab, tahun 30 dari Tahun Gajah, atau dua puluh tiga tahun sebelum hijrah. Dalam sejarah, belum pernah tercatat seorang yang dilahirkan di dalam Ka’bah selain Ali. Tentunya, ini sebagai bentuk keistiewaan yang dimilikinya dari Allah sekaligus sebuah penghormatan dan kedudukannya.[11]

Diriwayatkan dari Yazid bin Qa’nab, ia berkata: “Aku sedang duduk-duduk bersama Abbas bin Abdul Mutthalib dan sekelompok dari keluarga Bani ‘Izza di hadapan Ka’bah. Sementara dalam kondisi demikian, Fathimah binti Asad mendekati Ka’bah. Ia dalam keadaan hamil sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan. Di hadapan Ka’bah, ia mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, Aku beriman kepada-Mu dan kepada yang datang dari sisi-Mu, baik itu Rasul atau Kitab. Aku membenarkan apa yang diucapkan oleh kakekku, Ibrahim Al-Khalil, bahwa ia yang membangun Ka’bah. Demi hak yang membangun Ka’bah, dan demi bayi yang berada dalam kandunganku, permudahkan kelahiran bayiku ini”.

Yazid melanjutkan: “Kemudian aku melihat Ka’bah terbuka menganga dan Fathimah melangkah masuk ke dalamnya. Kami tidak mengetahui lagi apa yang terjadi karena dinding yang seakan-akan dipecah itu kembali menutup seperti sediakala. Kami berlari mengambil kunci Ka’bah untuk membuka pintu, namun pintu tidak dapat terbuka. Akhirnya, kami mencoba memahami bahwa kejadian yang baru kami lihat tadi adalah kuasa Allah. Pada hari keempat semenjak masuk ke dalam Ka’bah, Fathimah keluar dari Ka’bah sambil menggendong seorang bayi kecil. Bayi kecil itu adalah Ali bin Abi Thalib a.s”.[12]

Kabar gembira ini secepatnya disampaikan kepada Abu Thalib dan keluarganya. Kegembiraan tampak di wajah mereka. Semuanya berebut ingin lebih dahulu melihat bayi. Muhammad Rasulullah adalah yang paling terdepan. Ia mengambil bayi itu kemudian menggendongnya. Ia membawa bayi yang baru lahir itu ke rumah Abu Thalib. Pada masa itu, Nabi telah menikah dengan Khadijah, namun masih tetap tinggal di rumah pamannya. Abu Thalib melihat bayinya dan memberinya nama Ali. Abu Thalib mengadakan perayaan menyambut kelahiran anaknya dan menyembelih banyak hewan.[13]

Julukan dan Kunyah

Ali bin Abi Thalib memiliki laqab (julukan) dan kunyah (semacam nama panggilan nasab) yang sangat banyak sehingga sulit untuk menentukan berapa jumlah pastinya. Semuanya itu adalah pemberian dari Rasulullah saw terkait dengan kejadian yang bermacam-macam demi menyebarkan dan mempertahankan Islam dan Nabi.

Sejumlah laqab Ali adalah: Amir Mu’minin, Ya’sub Ad-Din wa Al-Muslimin, Mubir As-Syirk wa Al-Musyrikin,[14] Qatil (penghancur) An-Nakitsin wa Al-Qasithin wa Al-Mariqin, Maula Mukminin (pemimpin kaum mukminin), Syabih Harun (menyerupai Harun), Al-Murtadha (yang direlai), Nafs Ar-Rasul (jiwa Rasul), Akhu Rasul (saudara Rasul), Zauj Al-Batul (suami Fathimah), Saif Allah Al-Maslul (pedang Allah yang tangkas), Amir Al-Bararah (pemimpin orang-orang baik), Qatil Al-Fajarah (pembasmi orang-orang yang berlaku jahat), Qasim Al-Jannah wa An-Nar (pemisah antara surga dan neraka), Shahib Al-Liwa’ (yang memiliki bendera), Sayyid Al-‘Arab (pemimpin Arab), Khashif An-Na’l (penjahit sandal), Kassyaf Al-Kurb (penyingkap kesulitan), As-Shiddiq Al-Akbar (pembenar yang terbesar), Zulqarnain, Al-Hadi (petunjuk), Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan batil), Ad-Da’i (pendakwah), As-Syahid (penyaksi), Bab Al-Madinah (gerbang kota ilmu), Al-Wali (pemimpin), Al-Washi (pemegang wasiat), Qadhi Din Rasulilllah (hakim agama Rasulullah), Munjiz wa’dahu (pelaksana janjinya), An-Naba’ Al-‘Azhim (kabar agung), As-Shirat Al-Mustaqim (jalan lurus) dan Al-Anza’u Al-Bitthin.[15]

Sementara kunyah-nya antara lain: Abu Al-Hasan, Abu Al-Husein, Abu As-Sibthain, Abu Ar-Raihanatain, Abu Turab.

Nabi Mempersiapkan Ali

Nabi sering hilir mudik ke rumah pamannya Abu Thalib, sekalipun ia dan Khadijah telah hidup sendiri. Nabi senantiasa menumpahkan perhatian yang lebih kepada Ali bin Abi Thalib. Nabi begitu menyayanginya dan sering menggendongnya. Nabi sering menggoyang tempat tidur Ali hingga tertidur. Begitu besar perhatian Nabi kepada Ali bin Abi Thalib.[16]

Sebuah nikmat ilahi yang meliputi kehidupan Ali bin Abi Thalib ketika pada masa itu bangsa Quraisy tertimpa krisis ekonomi yang cukup besar. Abu Thalib terkenal dengan keluarga besar. Ia termasuk yang paling menderita dengan kondisi ini. Melihat kenyataan itu, Rasulullah saw mengusulkan kepada Abbas, dan orang-orang kaya di kalangan Bani Hasyim, untuk meringankan beban Abu Thalib. Nabi berkata: “Wahai Abbas! Saudaramu Abu Thalib memiliki keluarga banyak. Di sisi lain, bukankah engkau tahu apa yang tengah menimpa masyarakat. Mari kita bersama-sama meringankan tanggungannya. Aku akan mengambil salah satu dari anak-anaknya dan menjadi tanggunganku dan engkau mengambil yang lainnya sebagai tanggunganmu”. Abbas menjawab: “Baiklah!”

Keduanya segera menemui Abu Thalib dan berkata: “Kami berdua ingin meringankan beban dari tanggungan yang berat atas keluarga besarmu agar masyarakat mengetahui apa yang harus mereka kerjakan. Abu Thalib menyambut usulan keduanya dan berkata: “Kalian boleh mengambil yang mana saja yang kalian kehendaki, tapi biarkan ‘Aqil bersama kami”. Rasulullah saw. dan Abbas setuju. Nabi mengambil Ali bin Abi Thalib dan langsung mendekapnya. Pada waktu itu Ali bin Abi Thalib berumur enam tahun. Sementara Abbas mengambil Ja’far. Semenjak itu, Ali bin Abi Thalib senantiasa bersama Muhammad saw sampai beliau diangkat sebagai nabi. Ketika telah menjadi nabi, Ali kemudian mengikuti, beriman dan membenarkan kenabian Muhammad. Ja’far hidup bersama Abbas, pamannya, hingga ia masuk Islam dan ketika telah dewasa dan mampu mampu ia berpisah dengan Abbas.[17]

Setelah memilih Ali bin Abi Thalib, Rasulullah berkata, “Aku telah memilih seseorang yang dipilihkan Allah untukku, yaitu Ali”.[18]

Demikianlah telah tiba saat-saat Ali bin Abi Thalib hidup sejak kecil bersama Muhammad, Rasulullah saw. Ia dibesarkan di bawah naungan akhlak Nabi yang mulia. Ia minum dari sumber-sumber kecintaan dan kasih sayang Nabi. Muhammad saw membimbingnya sesuai dengan cara pendidikan yang diajarkan Allah kepadanya. Semenjak itu, Ali tidak pernah terpisah dari Muhammad saw. Nabinya.

Ali bin Abi Thalib a.s. sendiri menyebutkan sisi-sisi edukatif yang dipelajarinya dari sang guru dan pendidiknya Muhammad saw. Bagaimana pendidikan yang diterimanya memiliki dampak yang dalam dan sangat membekas dalam dirinya. Itu disampaikannya dalam khotbahnya yang terkenal dengan “Al-Qashi’ah”. Ia berkata:

“Bukankah kalian telah mengetahui bagaimana hubungan dan kedekatanku dengan Muhammad, Rasulullah saw. dan posisi serta kekhususanku di sisinya. Ia meletakkanku di kamarnya pada usiaku yang masih kecil. Ia sering merengkuh dan menarikku dalam dekapannya. Ia senantiasa menjagaku di pembaringannya. Tubuhku sering bergesekan dengan tubuh Nabi. Ia memberiku kesempatan untuk mencium bau badannya yang wangi dari dekat. Nabi biasanya mengunyah makanan hingga halus kemudian menyuapkannya ke dalam mulutku. Ia tidak pernah menemukan aku berkata bohong dan melakukan perbuatan salah karena tidak tahu.

“Aku mengikuti jejak Nabi bak anak unta yang terus mengikuti ke mana induknya pergi. Setiap hari ia mengangkat derajatku dengan menunjukkan akhlaknya yang mulia dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun, Nabi pergi menyepi ke gua Hira. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali aku. Pada masa itu,  tidak ada satu rumah pun yang meyakini Islam kecuali rumah Rasulullah saw. Di rumah ini Nabi, Khadijah dan aku sebagai orang ketiga yang memeluk Islam. Aku melihat cahaya wahyu dan risalah. Aku mencium bau kenabian. Aku dapat mendengar suara setan ketika Nabi diturunkan wahyu untuk pertama kali. Ketika itu aku memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah! suara apa ini? Beliau menjawab: “Itu suara setan yang berputus asa dari orang-orang yang menyembahnya. Engkau mendengar apa yang kudengar. Melihat apa yang aku lihat. Sayangnya engkau bukan seorang Nabi. Akan tetapi engkau seperti seorang menteri. Dan engkau berada di atas kebaikan”.[19]

Periode Kedua : Sejak Bi’tsah hingga Hijrah

Ali orang pertama yang beriman

Oleh Al-Qur’an, Rasulullah saw. disebutkan hidup berdasarkan nilai-nilai ilahiah sebagaimana dalam ayat “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlak yang agung”.[20] Dia seorang contoh pribadi yang berbeda dengan masyarakat jazirah Arab lainnya dari sisi keyakinan, pemikiran, perilaku dan akhlak. Semenjak kecil, Muhammad senantiasa berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai risalah para Nabi, terutama dengan nilai yang dibawa oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s. Dalam masalah kehidupan qana’ah (sifat merasa cukup) yang dicontohkan Nabi, tidak akan ditemukan kesesuaian dengan nilai yang dianut oleh masyarakat Jahiliyah. Atas dasar ini, ia membangun sebuah keluarga mukmin yang terdiri dari dirinya sendiri dan Khadijah serta Ali bin Abi Thalib.

Sesuai dengan ajaran yang dibawanya, Nabi memiliki tugas untuk mengubah sejarah yang ada. Ia harus membuka sebuah jalan alternatif di tengah-tengah aliran global yang berkuasa masa itu. Ia akan berjuang melawan penyimpangan yang berkuasa dengan keluarga yang telah dibangunnya. Ia akan menciptakan gelombang yang menderu-deru, mengubah perlahan-lahan arus penyembahan berhala dan semangat Jahiliyah dari permukaan bumi. Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai orang yang dibesarkan di keluarga wahyu belum pernah menyembah berhala seumur hidupnya. Ia belum pernah melakukan kesyirikan kepada Allah. Ketika wahyu turun kepada Nabi saw., Ali berada di sampingnya. Ia orang pertama yang beriman kepada risalah Nabi sebagaimana buku-buku sejarah menjadi saksi atas fakta agung itu.

Anas bin Malik berkata: “Kenabian diturunkan kepada Muhammad saw. pada hari Senin, dan Ali bin Abi Thalib melakukan shalat pada hari Selasa”.[21]

Diriwayatkan juga dari Salman Al-Farisi dan berkata: “Orang pertama dari umat Islam yang sampai di telaga Kautsar Nabi adalah orang pertama yang memeluk Islam, dan dia adalah Ali bin Abi Thalib”.[22]

Dari Abbas bin Abdul Mutthalib pernah mendengar Umar bin Khatthab berkata: “Jangan membicarakan Ali bin Abi Thalib kecuali tentang kebaikan. Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah berkata: “Pada diri Ali bin Abi Thalib terdapat tiga keistimewaan”. Mendengar sabda Nabi ini, aku ingin sekali memiliki satu dari tiga keistimewaan yang dimiliki Ali itu. Setiap satu keistimewaan bagiku lebih berharga dari bumi dan seisinya. Karena aku, Abu Bakar, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan seorang dari sahabat Nabi menyaksikan Rasulullah saw menepuk pundak Ali sambil berkata: ‘Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang memeluk Islam. Engkau adalah orang yang pertama beriman. Posisimu disisiku seperti posisi Harun di sisi Musa. Pendusta adalah orang yang mengatakan bahwa ia mencintaiku namun dalam hatinya ia membencimu, wahai Ali!”[23]

Bila diyakini bahwa para sejarawan sependapat akan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang memeluk Islam,[24] sayangnya mereka berselisih pendapat pada umurnya ketika menyatakan keislamannya. Mengkaji secara serius untuk memastikan umur Ali ketika memeluk Islam tidaklah menjadi masalah yang begitu penting. Sebab ia belum pernah kafir sehingga kemudian memeluk Islam atau pernah syirik setelah itu beriman. Ali sendiri berkata: “Aku dilahirkan atas fitrah”. Atas dasar ini, ahli hadis sepakat untuk menghormati keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka menyatakan kehormatan ini dengan menambah kata Karramallahu Wajhahu padanya. Islam bersemayam di lubuk hatinya yang paling dalam setelah dibesarkan di kamar risalah. Ia makan dari tangan kenabian. Dan akhlak Nabi membuatnya lebih baik.

Ustadz Al-‘Aqqad berbicara tentang pribadi Ali sebagai berikut:

“Berdasarkan penelitian yang serius, dapat dipastikan bahwa Ali bin Abi Thalib dilahirkan dalam kondisi Islam. Kami melihat kelahirannya dengan pandangan akidah dan ruh. Ia membuka matanya dengan Islam. Ia belum pernah menyembah berhala sebelum memeluk Islam. Ia besar dan dididik di rumah tempat dakwah Islam bermula. Ia memahami bagaimana cara beribadah lewat shalat yang dilakukan oleh Nabi dan istrinya yang suci sebelum mengetahuinya dari shalat ibu bapaknya”.[25]

Ali Orang Pertama yang Melakukan Shalat

Ali bin Abi Thalib hidup bersama Rasulullah dengan segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan Nabi. Ia memandang Nabi sebagai teladan sempurna yang dapat memenuhi tuntutan keingintahuan dan kejeniusannya. Ali mengaplikasikan semuanya dalam perilaku dan pergerakannya. Ia mencontoh perilaku Nabi dan taat padanya terkait dengan perintah maupun larangan. Perilaku ini dilakukan sejak diutusnya Muhammad saw. menjadi nabi hingga akhir hayat beliau. Para sejarawan sepakat bahwa ia belum pernah membantah ucapan Rasulullah saw. seumur hidupnya.

Ali bin Abi Thalib sendiri menjelaskan bahwa ia adalah orang pertama yang melakukan shalat setelah Nabi. Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang mendahuluiku dalam melakukan shalat selain Rasulullah saw”.[26]

Diriwayatkan juga dari Habbah Al-‘Irni, ia berkata: “Pada suatu hari, aku melihat Ali bin Abi Thalib tertawa. Sebelumnya aku belum pernah melihatnya tertawa lebih dari tawanya kali ini hingga terlihat gigi taringnya. Kemudian Ali berkata: “Ya Allah, Aku belum pernah melihat seorang hamba terbaik sebelumku selain nabi umat ini”.[27]

Dalam tafsir ayat “Dan rukukklah kalian bersama orang-orang yang melakukan rukukk”,[28] dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan Rasulullah saw. dan Ali bin Abi Thalib. Mereka berdua adalah orang pertama melakukan shalat dan rukuk.[29]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: “Para malaikat bersalawat kepadaku dan kepada Ali sebanyak tujuh kali. Karena kalimat syahadatain (Asyhadu An Laa Ilaaha Illah Allah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah) tidak akan diangkat ke langit kecuali melaluiku dan Ali”.[30]

Ali Orang Pertama yang Melakukan Shalat Jamaah

Sebelum memulai dakwahnya dan bila hendak melakukan shalat, Rasulullah keluar menuju jalan setapak menuju gunung di Mekkah dengan secara rahasia. Ia membawa Ali bin Abi Thalib bersamanya dan keduanya melakukan shalat sesuai yang diinginkan Allah. Setelah usai melakukan shalat mereka berdua kembali ke kota. Mereka senantiasa melakukan demikian tanpa sepengetahuan Abu Thalib, seluruh paman-paman, dan kabilah. Hingga pada suatu hari, Abu Thalib melewati mereka dan melihat apa yang tengah mereka lakukan. Ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Apa yang aku lihat ini? Sepertinya engkau tengah melakukan perbuatan atas sebuah agama?”

Nabi segera menjawab: “Ini adalah agama Allah, malaikat, agama utusan-utusan sebelumnya dan agama ayah kita; Ibrahim. Allah telah mengutusku sebagai nabi kepada hamba-hambaNya. Wahai paman! Engkau adalah orang yang tepat untuk kuberikan nasihat dan kuajak menuju petunjuk dan kebenaran. Engkaulah orang yang paling tepat menerima seruanku dan yang paling tepat untuk menolongku dalam mengemban agama ini”.

Ali juga ikut berkata: “Wahai Ayah! Aku telah beriman kepada Rasulullah. Aku telah mengikutinya dan shalat bersamanya karena Allah swt”.

Abu Thalib menjawab: “Wahai anakku! Muhammad yang aku ketahui tidak akan meninggalkanmu kecuali dalam kebaikan. Ikutlah dengannya”.[31]

Contoh lain dari sikap pamannya Abbas yang diriwayatkan oleh ‘Afif Al-Kindi. Ia berkata:

“Aku adalah seorang kaya. Suatu saat aku pergi melakukan haji. Aku menemui Abbas bin Abdul Mutthalib untuk menjual beberapa barang. Demi Allah, Aku berada di sampingnya di Mina, ketika muncul seorang dari kemah yang berdekatan dengan milik Abbas. Orang tersebut menatap ke matahari. Setelah melihat matahari telah tergelincir,  ia pun berdiri melakukan shalat. Saat itu juga keluar seorang wanita dari kemah tadi dan berdiri di belakang sambil ikut melakukan shalat. Muncul juga seorang anak kecil dari kemah tadi dan berdiri di samping lelaki tadi dan ikut melaksanakan shalat bersamanya. Aku bertanya dengan penuh keheranan: “Siapa ini Abbas? “Itu adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Mutthalib”. Kulanjutkan pertanyaanku: “Lalu wanita itu siapa? “Istrinya Khadijah binti Khuwailid”, jawab Abbas. “Anak kecil itu siapa?”, tanyaku lagi. Abbas menjawab: “Itu Ali bin Abi Thalib anak pamannya’. “Apa yang sedang dilakukan oleh Muhammad?’ tanyaku tidak habis mengerti. Lagi-lagi Abbas menjawab: “Ia tengah melakukan shalat. Ia mengaku dirinya sebagai nabi. Sampai saat ini belum ada yang mengikuti ajarannya kecuali istri dan anak pamannya. Ia juga berkata bahwa akan menguasai pundi-pundi kekaisaran Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi)”.[32]

Setelah terbentuknya benih umat Islam yang terdiri dari Rasulullah, Ali dan Khadijah, dan tersebarnya berita tentang agama baru di tengah-tengah masyarakat Quraisy, mulai banyak orang yang mendapat hidayah dari Allah yang pada akhirnya memeluk Islam. Ketika kaum muslimin mulai kuat, ketika berlalu beberapa tahun dan tampak Islam semakin kuat dan mampu untuk menampakkan diri secara terbuka di hadapan masyarakat serta mampu berhadap-hadapan terkait dengan masalah agama dan akidah, Allah swt. memerintahkan Nabi untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Sebelumnya, para sahabat bila hendak melakukan shalat, pergi ke tempat-tempat sepi untuk menunaikannya di sana. Pada suatu ketika, saat sebagian sahabat melakukan shalat di tempat sepi dekat gunung, sebagian dari kaum musyrikin mengetahui perbuatan itu. Di antara mereka adalah Abu Sufyan bin Harb dan Al-Akhnas bin Syirriq dan selainnya. Mereka mencaci maki para sahabat yang tengah melakukan shalat bahkan membunuhmereka.[33]

Ali pada Masa Dakwah Terbuka

Hadis Yaum Al-Indzar

Hadis Yaum Al-Indzar (hari peringatan) adalah peristiwa khusus pertemuan keluarga Nabi dengan undangan dari beliau untuk meminta baiat dari mereka dan menolongnya kelak. Orang pertama yang mengumumkan dirinya dan siap memenuhi ajakan Rasulullah pada hari itu adalah Ali bin Abi Thalib. Para ahli tafsir dan sejarawan, salah satunya adalah Thabari, dalam buku-buku sejarah dan tafsir mereka menuliskan, bahwa ketika ayat Wa Andzir ‘Asyirataka Al-Aqrabin (beri kabar keluarga dekatmu) turun kepada Nabi, ia merasa sulit karena tahu bagaimana permusuhan yang ditunjukkan oleh kabilah Quraisy. Nabi memanggil Ali untuk membantunya menyebarkan agama Allah ini.


[1] . Muhammad bin Saad, Ath-thabaqat, jilid 1, hal 74, cetakan Leiden.

[2] . As-Shaduq, Kamal Ad-Din, hal 170, cetakan Najaf Asyraf. Hal 172, cetakan Tehran dari Ibnu Abbas. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 285.

[3] . Al-Fital, Raudhatul Wa’izhin, hal 121-122 tentang Washiyyah Abi Thalib Li Bani Hasyim.

[4] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 1, hal 75.

[5] . Ibnu Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 90. Lihat: Mausu’ah At-Tharikh Al-Islami, jilid 1, hal 436.

[6] . Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 72. Lihat juga: As-Syeikh At-Thusi, Munyah At-Thalib fi Iman Abi Thalib. As-Syeikh Abdullah Al-Khunaizi, Abu Thalib Mu’minu Quraisy. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 514-517 dan 596-601.

[7] . As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 31.

[8] . Bashair Ad-Darajat, hal 71, hadis dari Imam Shadiq AS. Lihat Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 2, hal 433-437.

[9] . Ibnu As-Shabagh, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 32. Faraid As-Simthain jilid 1, hal 379 : ‘Engkau telah melakukan hal yang tak pernah kau lakukan kepada orang lain’. Para perawi hadis dan penulis banyak mencatat keislaman Fathimah, hijrahnya, cinta dan kasih sayangnya ketika membesarkan Muhammad, kematian dan keutamannya. Ibnu Asakir, Ibnu Al-Atsir, Ibnu Abdi Birr, Muhib Ad-Din Ath-thabari, Muhammad bin Thalhah, Ibnu As-Shibagh Al-Baladzri dan lain-lainnya adalah contoh dari mereka yang mencatat semua itu.

[10] . Shubh As-Shaleh, Nahjul Balaghah, khutbah 57, hal 92. At-thusi, Al-Amali, hal 364, nomor 765. Manaqib Alu Abi Thalib, jilid 2, hal 107. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 4, hal 114. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 217.

[11] . Syarif Ar-Radhi, Khashais Amir Al-Mu’minin, hal 39. Al-Amini, Al-Ghadir, jilid 6, hal 22. Al-Hakim An-Naisyaburi, Al-Mustadrak, jilid 3, hal 483. Al-Hafizh Al-Kanji As-Syafi’I, Al-Kifayah. Al-Alusi, Al-Kharidah Al-Ghaibiyah fi Syarh Al-Qashidah al-‘Ainiyah. Al-Mas’udi, Muruj Az-Zahab. As-Sirah An-Nabawiyah. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 306-310.

[12] . As-Shaduq, ‘Ilal As-Syarai’, hal 56. Al-Fital An-Naisyaburi, Raudhah Al-Wa’izhin, hal 67. Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 8. Al-Arbali, Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 82.

[13] . Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 18.

[14] . Ya’sub berarti pemimpin. Mubir artinya penghancur.

[15] . Al-Arbali, Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 93. Laqab lain Imam Ali tercatat dalam buku-buku hadis seperti: Shahih Turmudzi, An-Nasa’I, Al-Khashaish, Al-Hakim An-Naisyaburi, Al-Mustadrak, Al-Ishfahani, Hilyah Al-Auliya, Ibnu Al-Atsir, Usd Al-Ghabah, Az-Zahabi, Tarikh Al-Islam, dan lain lain.

[16] . Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 43.

[17] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 58, cetakan Muassasah Al-A’lami, Beirut. Syarh Ibnu Abi Al-Hadid, jilid 13, hal 198. Yanabi’ Al-Mawaddah hal 202. Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 104. Mausu’ah Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 351-356.

[18] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 15. Menukil dari Al-Baladzri dan Al-Ishfahani.

[19] . Al-Faidh, Syarh Nahjul Balaghah, hal 802, khutbah 234.

[20] . QS. 68: 4.

[21] . Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 41. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 58. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55. Sunan At-Turmudzi, jilid 5, hal 600, hadis ke 3735.

[22] . Ibnu Abd Al-Bar Al-Maliki, Al-Isti’ab bi hamisy Al-Ishabah, jilid3, hal 29. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55. Pada Tarikh Ath-thabari disebutkan, ‘Ali adalah orang pertama yang memeluk islam. Pada Tarikh Dimasyq jilid 1, hal 32, 35,65, disebutkan, ‘Ali orang pertam yang memeluk islam. Tarikh Al-Baghdadi, jilid 2, hal 81, nomor 459.

[23] . Ibnu As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 126. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 331, nomor hadis 401.

[24] . Sumber-sumber buku hadis yang meriwayatkan bahwa Ali adalah orang pertama yang islam: Sunan Al-Baihaqi, jilid 5, hal 206. Musnad Abi Hanifah, nomor hadis 368, hal 173. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55, cetakan Muassasah Al-‘Alami. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 57. Usd Al-Ghabah, jilid 4, hal 16. Tarikh Ibnu Khaldun, juz 3, hal, 715. Badu’ Al-Wahy wa As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 262. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 1, hal 432. Muruj Adz-dzahab,  jilid 2, hal 283. ‘Uyun Al-Atsar, jilid 1, hal 92. Al-Ishabah fi Ma’rifah As-Shahabah, jilid 2, hal 507. Tarikh Baghdad, jilid 2, hal 18.

[25] . Abbas Mahmud Al-‘Aqqad, ‘Abqariah Al-Imam Ali, hal 43. Al-Allamah Al-Amini menyebutkan dalam bukunya Al-Ghadir, jilid 3, hal 220-236 sekitar 66 hadis menyebutkan bahwa Ali adalah orang pertama yang Islam dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

[26] . Al-Faidh, Nahjul Balaghah, hal 397, khutbah 131.

[27] . Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 49, hadis nomor 88.

[28] . QS. 2 : 43.

[29] . Al-Haskani, Syawahid At-Tanzil, jilid 1, hal 85.

[30] . Ibnu Al-Maghazili, Al-Manaqib, hal 14, nomor hadis 19. Syeikh Al-Mufid dalam bukunya Al-Irsyad menukil hadis yang mirip pada hal 30, pasal 1, bab 2. Ibnu Al-Atsir, Usd Al-Ghabah, jilid 4, hal 18, hadisnya sama.

[31] . Ibnu As-Shibagh, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 33. Al-Kamil fi At-Tharikh, jilid 1, hal 58. Thabari memuat hal yang sama dalam buku sejarahnya, jilid 2, hal 58.

[32] . Musnad Ahmad, jilis 1, hal 29. An-Nasa’I, Al-Khashais, hal 3. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 58. Al-Kanji, Kifayah At-Thalib, hal 129. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 57.

[33] . Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 60. As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 315, cetakan Dar Al-Furqan, Beirut.

Next