Kenabian Dalam Nahjul Balaghah

Imam Ali Khamenei

Pengantar

Dewasa ini semakin banyak orang memposisikan kenabian sebagai sesuatu yang biasa, bukan yang istimewa. Karena menganggap biasa, pada akhirnya penyikapan terhadap nabi dan rasul terakhir, Muhammad al-Mustafa, menjadi profan. Misalnya, orang tak segan menjadikan Nabi saw sebagai bahan olok-olok dalam kartun, film, dan sebagainya. Tak ada teladan yang perlu diikuti karena Nabi telah mengalami profanisasi. Mungkin ada baiknya kita menyimak hal-ihwal kenabian dengan mengikuti dedahan Imam Ali Khamenei ketika mengupas Nahjul Balaghah, sebuah kompilasi pidato, surat, dan aforisme Imam Ali as. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menyingkirkan awan kegelapan mengenai kenabian dalam person Muhammad saw dari masyarakat manusia.

KENABIAN termasuk sekian tema yang telah dibahas dalam Nahj al-Balâghah dan suatu diskusi tentangnya bisa membantu kita memahami salah satu prinsip fundamental Islam. Pada dasarnya, ia bukan hanya subjek yang dapat diikuti di sepanjang Nahj al-Balâghah melainkan satu prinsip terpenting dan paling asasi ideologi Islam. Berkali-kali saya telah menjelaskan dalam berbagai pembahasan bahwa untuk menganalisis dan memahami berbagai persoalan pemikiran dan ideology Islam, prinsip kenabian adalah poros yang di sekitarnya persoalan-persoalan ini dapat didiskusikan juga. Mengenai prinsip tauhid, kita percaya bahwa dimensi sosial dan revolusionernya hanya dapat diverifikasi ketika kita mendedahnya dalam spektrum yang luas dari persoalan-persoalan mengenai kenabian.

Dengan demikian, metode kita dalam bab ini adalah menunjukkan dan menganalisis berbagai dimensi kenabian dan untuk mendukung pembahasan kita, kami kutipkan suatu penjelasan dari ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib setiap kali diperlukan. Dalam hal ini, dua tujuan akan terpenuhi, yakni sejumlah pasal penting dari Nahj al-Balâghah akan diterjemahkan dan ditafsirkan, dan isu-isu di antara prinsip-prinsip pokok Islam akan diperjelas.

Telah disebutkan di awal pembahasan dalam pembahasan tentang kenabian, wahyu dan masalah-masalah yang relevan dengannya tidak akan didiskusikan. Alih-alih, kenabian akan dipandang sebagai realitas sejarah dan peristiwa yang tak perlu dipertanyakan.

Tak syak lagi, kenabian telah ada sebagai suatu fenomena dalam sejarah kemanusiaan. Tidak ada perbedaan pandangan dalam hal ini di antara kita dan mereka yang tidak percaya kepadanya. Akan tetapi, perbedaan terletak pada interpretasi atas peristiwa ini dan pesan-pesan yang disampaikan. Sebenarnya, tak seorang pun menolak figur- figur seperti Musa, Isa, dan para nabi lainnya baik sejarah kehidupan mereka diketahui ataukah tidak, atau malah samara. Sejarah melaporkan bahwa mereka semua hidup.

Karena itu, kenabian akan dipandang sebagai peristiwa sejarah dalam diskusi kita dan pertanyaan-pertanyaan berikut akan dijawab dengan analisis berikut:

1. Apakah latar belakang sosial (situasi sosial, temporal, dan historis) ketika peristiwa ini terjadi?

2. Di manakah peristiwa ini bersumber? Apakah itu muncul di antara para raja, orang-orang tertindas, para sarjana, dan para pemikir… atau kelas masyarakat manakah?

3. Posisi apakah yang dinikmati? Apakah itu merupakan keuntungan bagi kelas masyarakat tertentu? Apakah itu ditujukan untuk keuntungan-keuntungan material? Apakah itu diarahkan pada aspek-aspek kehidupan mistis dan spiritual? Ataukah, itu ditujukan untuk kehidupan sosial dan intelektual?

4. Apakah pro kontra yang terjadi ketika Nabi saw pertama kali mengabarkan risalahnya? Siapakah mereka yang menentangnya dan termasuk kelas masyarakat manakah mereka? Apakah motif-motif dan sarana penentangan mereka? Siapakah yang mengikuti Nabi saw dan termasuk kelas masyarakat yang manakah mereka? Apakah motif-motif mereka dan bagaimana mereka membantu Nabi saw?

5. Apakah tujuan di balik pesan kenabian? Apakah kenabian ditujukan pada kesejahteraan material? Apakah ditujukan pada perbedaan kelas? Apakah ditujukan pada peningkatan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat? Apakah ditujukan pada penentangan atau pembentukan kekuatan di zaman tersebut?

6. Apakah Nabi saw mengajak manusia? Apakah tauhid itu dihubungkan dengan dimensi-dimensi sosial, politik, ekonomi, dan revolusioner?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, sekaitan dengan teks-teks dan dokumentasi-dokumentasi Islam akan menjelaskan berbagai aspek realitas sosial ini dan akan mendekatkan kita pada suatu ranah yang luas dari pemikiran Islam. Tentu saja, Nahj al-Balâghah adalah pusat pembahasan kita, sekalipun berbagai ayat al-Quran suci juga penalaran mental menjadi pertolongan besar baik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan maupun dalam menafsirkan kata-kata Imam Ali.

Pertanyaan pertama yang relevan adalah “Adakah landasan untuk kemunculan kenabian? Apa seting sosial, ekonomi, dan sejarah bagi kemunculan para nabi? Dan, di tengah-tengah kelas masyarakat manakah mereka muncul? Nahj al-Balâghah telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam beberapa kesempatan. Dalam khotbah pertamanya, Imam Ali berbicara tentang tauhid, penciptaan langit dan bumi, para malaikat dan hal-hal lain, kemunculan para nabi, dan latar belakang kenabian secara umum dibahas juga.
Kita membaca kalimat sebelumnya sehingga hubungan dengan masalah ini jelas adanya.

Dari keturunan Adam, Allah memilih para nabi dan mengambil sumpah mereka untuk wahyu-Nya dan untuk menyampaikan risalah-Nya sebagai amanah mereka. Dalam perjalanan waktu, banyak orang menyelewengkan amanah Allah yang ada pada mereka, mengabaikan kedudukan-Nya, dan menjadikan sekutu bagi-Nya. Setan memalingkan mereka dari mengenali-Nya dan menjauhkan mereka dari beribadah kepada-Nya. Kemudian, Allah mengutus para rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka akan nikmat-nikmat-Nya,…

Bagian terakhir dari kutipan ini menyingkapkan sejumlah karakteristik masyarakat di zaman jahiliah, yang di dalamnya para nabi diutus oleh Allah kepada manusia. Karakteristik-karakteristik tadi akan didedah di bawah.
Dikatakan bahwa, “Dalam perjalanan waktu, banyak orang menyelewengkan amanah Allah yang ada pada mereka”.

Al-Quran berbicara tentang perjanjian (‘ahd) pada beberapa kesempatan yang disitir di bawah: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…(QS al-Isra: 23)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (QS Yasin: 60)

Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS al-A’raf: 172)

Ayat-ayat di atas mengimplikasikan bahwa perjanjian Allah (‘ahd) adalah untuk menghalangi (manusia) dari menyembah setan, bahwa penyembahan manusia harus ditujukan kepada Allah semata dan bahwa manusia secara primordial telah mengakui bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah dan harus menyembah dan beribadah kepada-Nya saja.

Inilah pengertian ‘ahd (perjanjian dan amanah) yang dirujuk Amirul Mukminin as dalam Nahj al-Balâghah. Sebenarnya, beliau mengatakan bahwa kebanyakan manusia melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan mendurhakai perintah-perintah-Nya dengan menyembah berhala-berhala, mengambil sekutu (para pemegang kuasa dan harta) di sisi-Nya, memaksakan diri mereka kepada orang lain sebagai berhala-berhala yang pantas disembah dan menyelewengkan titah Ilahi melalui pengabaian atau pengesampingan ketaatan kepada Allah.

Di bawah kondisi-kondisi tersebut, Amirul Mukminin menegaskan bahwa Allah memunculkan kenabian dan menunjuk para nabi-Nya. Hal ini juga ditekankan dalam pernyataan-pernyataan lain dalam khotbah pertama setelah menjabarkan kemunculan Nabi Islam saw dan bukan kemunculan para nabi secara umum, sekalipun kondisi-kondisi sosial dan atmosfer mental yang di dalamnya para nabi, termasuk Ibrahim, Musa, Isa, dan yang lainnya (salam atas mereka semua), telah muncul di saat yang sama. Dan, karena itu, apa yang dikatakan tentang Nabi Islam saw sesuai pula untuk para nabi lainnya.
Penduduk bumi pada saat itu terbagi ke dalam berbagai kelompok, tujuan mereka terpisah, dan jalan-jalan mereka beraneka. Mereka menyerupakan Allah dengan ciptaan-Nya atau menggeser nama-nama-Nya atau berpaling kepada yang selain Dia…

Frase itu menyebutkan Nabi ditunjuk pada kenabian pada saat manusia (penduduk bumi) terbagi dalam beberapa kelompok dengan berbagai cara berpikir, yakni suatu mentalitas universal tidak mengatur pikiran semua manusia, yang mengisyaratkan kurangnya kebudayaan yang dapat diterima pada saat itu, perpecahan di antara manusia, dan pada akhirnya, kejahilan.
Frase selanjutnya menyatakan “tujuan-tujuan mereka terpisah”. Hal ini memiliki dua implikasi. Pertama, bahwa di berbagai kelompok masyarakat atau di berbagai pelosok dunia manusia menikmati hasrat-hasrat dan perilaku mereka sendiri. Para anggota setiap masyarakat atau kelompok manusia menikmati dan menggemari sesuatu yang dibenci oleh anggota kelompok masyarakat lainnya. Pada dasarnya, masyarakat tersebut kehilangan tujuan dan cita-cita umum, yang menengarai kejatuhan masyarakat tersebut.

Implikasi kedua adalah tidak lebih dari segelintir kutub kekuasaan seluruh dunia di saat itu, dan mereka adalah raja-raja Sasaniyah, kaisar-kaisar Romawi, para sultan Etiopia, dan tiran-tiran lain, para diktator dan berhala-berhala yang berdiri di puncak masyarakat mereka, memerintah manusia dengan tiranik dan menurut tujuan-tujuan mereka sendiri, hasrat-hasrat dan egoisme. Adanya kekurangan dan penindasan di masyarakat Iran, adanya kelas-kelas masyarakat yang tidak dapat ditembus, kontrol kaum Brahma yang tak terikat, para aristokrat dan tentara atas golongan masyarakat bawah dan adanya tirani moral, kebudayaan, ekonomi, dan kelas, penindasan kepada manusia, semua itu merupakan manifestasi sensualitas dan egoisme para raja yang memiliki kepemimpinan atas masyarakat Iran. Maka itu, dorongan-dorongan dan hasrat-hasrat suatu minoritas mendominasi seluruh urusan mayoritas umat manusia.
“Mereka menyerupakan Allah dengan ciptaan-Nya”. Frase ini mengimplikasikan bahwa mereka, menurut watak dan perasaan-perasaan spiritual mereka, percaya pada eksistensi ketuhanan dan pencipta, menemukannya dalam wujud makhluk dan maujud-maujud kecil, tanpurna (imperfect). Sebagian dari mereka menyembah sapi sebagai tuhan-tuhan mereka. Yang lainnya menyembah patung-patung batu atau kayu. Sesungguhnya, semua orang ini adalah para penyembah Tuhan, dalam satu dan lain cara, karena fitrah mereka menuntut demikian, namun mereka tidak memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai Tuhan. Inilah penyelewengan paling nyata.

“Atau (mereka) menggeser nama-nama-Nya atau berpaling kepada yang selain Dia.” Ini adalah sejenis penyimpangan mental yang menyebar di kalangan pengiman Tuhan. mereka pada dasarnya sedemikian tenggelam dalam Nama Tuhan sehingga mereka tidak bisa mengambil langkah di baliknya. Di zaman dulu, misalnya, mereka yang memiliki pandangan yang samar akan Tuhan dalam pikiran-pikiran mereka, menjadi tidak mampu mengenali Tuhan secara sempurna, berpaling ke Nama-nama Allah, Mannan atau Ilah, dan menyembah mereka. Mereka jahil akan hakikat Tuhan.

Contoh lain dapat diamati pada para ideolog ekstremis hari ini. Para pendukung ideolog-ideolog ini mengklaim percaya kepada Tuhan, namun apabila mereka ditanya apakah Tuhan itu, mereka tak bisa menguraikan konsep sebenarnya berikut pengertian hakikinya atas kata ini. Sebaliknya, mereka menjadikan ‘seluruh eksistensi’, aturan-aturan yang menguasai alam dan sebab serta akibat, berbagai kejadian di alam dan sejarah sebagai tuhan. Mereka tak punya kemampuan untuk mengetahui makna hakiki Tuhan, yakni mengenali-Nya sebagai Wujud Wajib yang independen yang tak syak lagi adalah Pencipta alam semesta ini dan bukan alam semesta adalah Diri-Nya sendiri. Mereka tidak bisa memahami konsep logis dan filosofis ini. Maka itu, mereka kebingungan akan Nama Tuhan dan Wujud Tuhan yang hakiki.

Sudah barang tentu, hikmah, cinta, pengetahuan, daya tarik spiritual dan sifat-sifat moral, semuanya ini bersumber dari tauhid dan pengetahuan akan Tuhan tidak berkecambah pada diri mereka. Karena itu, doa-doa, munajat-munajat dari Imam Sajjad as, misalnya, menjadi tak bermakna bagi mereka. Dengan demikian, apa yang disembah sebagai ‘Tuhan’ oleh orang-orang tersebut adalah suatu kata yang tidak terpaut pada pengertian dan konsepnya. Ini adalah tanda kemunduran dan penyimpangan agama juga karakteristik orang-orang yang hidup di zaman para nabi muncul.

Dalam khotbah kedua, Amirul Mukminin mempunyai detail-detail yang lebih mendetil menyangkut latar sosial kemunculan para nabi. Beliau berkata:
Pada waktu itu manusia telah jatuh ke dalam kemungkaran yang dengan itu tali agama telah diputuskan, tiang-tiang keimanan telah tergoncang, prinsip-prinsip telah dicemari, sistem telah jungkir balik, pintu-pintu sempit, lorong-lorong gelap, petunjuk tidak dikenal, dan kegelapan merajalela. Allah tidak ditaati, setan diberi dukungan, dan keimanan telah dilupakan. Akibatnya, tiang-tiang agama runtuh, jejak-jejaknya tak terlihat, lorong-lorongnya telah dirusakkan dan jalan-jalannya telah binasa. Manusia menaati setan dan mengikuti langkah-langkahnya. Mereka mencari air pada tempat-tempat pengairannya. Melalui mereka lambang-lambang setan berkibar dan panjinya diangkat dalam kejahatan yang menginjak-injak manusia di bawah tapak kakinya. Kejahatan berdiri [tegak] di atas jari-jari kakinya dan manusia yang tenggelam di dalamnya menjadi bingung, jahil, dan terbujuk seakan-akan dalam suatu rumah yang baik dengan tetangga-tetangga yang jahat. Alih-alih tidur, mereka terjaga, dan sebagai celaknya, adalah air mata. Mereka berada di suatu negeri ketika orang ilmu terkekang (mulut mereka tertutup) sementara orang jahil dihormati.

Inilah gambaran yang sangat indah dan artistik (dalam bentuk suatu kuliah biasa dari mimbar) ihwal kondisi-kondisi sosial di zaman jahiliah, yang dalam khotbah itu Amirul Mukmini melukiskan kesulitan-kesulitan, kekurangan-kekurangan, dan bayangan-bayangan kekacauan atas kehidupan manusia—orang-orang yang secara mental kebingungan dan keheranan dan tidak mengetahui tujuan dan arah kehidupan.

Kita bisa memahami dengan mudah dan jelas pengertian kata-kata beliau karena kata-kata Amirul Mukminin menyedian kepada kita suatu potret yang tepat atas situasi di zaman kita, ketika bangsa Iran ditindas secara kejam oleh para algojo Pahlevi dan tentara-tentara Amerika. Kenyataannya, apa yang terdapat dalam khotbah ini dan khotbah-khotbah lain telah mengekspresikan latar belakang kemunculan dan kebangkitan para nabi (yang penulis gunakan untuk menafsirkan secara sengaja sekaitan dengan situasi-situasi strangulation di masa Pahlevi membenarkan secara tepat kondisi-kondisi yang di bawahnya kita hidup selama rezim Pahlevi).

Pada zaman tersebut, khususnya di masa tiga tahun terakhir rezim Pahlevi, orang-orang secara mental ditipu dan disesatkan sehingga mereka dimasukkan ke dalam bus-bus dan truk-truk di berbagai kota, bertepuk tangan, bermain flute dan berteriak ‘Panjang umur untuk Syah’. Sementara itu, kesadaran suatu kelompok yang terjaga dilukai; namun ini bukan kesadaran umum masyarakat kita, karena sekalipun mereka yang mencegah diri berperan serta dalam pawai-pawai seperti itu, baik mereka itu pegawai pemerintah, agamawan dari kelas masyarakat lain, menerima jalan dan prosedur rezim yang berkuasa melalui perilaku ramah dan lembut mereka terhadap situasi yang berjalan. Orang-orang ini pada dasarnya keheranan dan mati. Tak seorang pun menyadari tujuan di balik kerja mereka sehari-hari. Mereka bekerja siang dan malam namun mereka alpa akan tujuan, aspirasi, dan masa depan bagi pencapaian yang dilakukan umat manusia. Tamsil untuk mereka adalah seperti ‘keledai angkut’ yang secara terus menerus bergerak dalam gerakan melingkar dan tidak pernah sampai pada tujuan. Mereka dianugerahi dengan kediaman dan negeri yang baik, memiliki segenap karunia yang dilimpahkan Tuhan, dan teritori kesadaran, fakultas, dan kecantikan yang telah disembunyikan namun kini telah bermekaran di dada para pemuda-pemudi, ayah-ibu revolusioner. Sesungguhnya, latar belakang mulia ada di masyarakat namun ‘tetangga-tetangga jahat’ dalam pernyataan Amirul Mukminin, yakni para penguasa dan pemegang kekuasaan adalah mereka tidak kompeten dan tidak jujur.
Secara umum, di bawah kondisi-kondisi tersebut yang ia sebut dalam penyataan-pernyataan yang dinukil di atas, dan kita mengalami di zaman kita sendiri, para nabi dilantik pada maqam kenabian. Insya Allah, kami akan berusaha merinci lebih jauh latar belakang kenabian, sebagaimana disebutkan dalam perkataan Amirul Mukminin, yang sangat penting sejauh filsafat sejarah diperhatikan, yang disalahpahami oleh sejumlah individu yang menyimpang yang menarik kesimpulan secara keliru berdasarkan analisis tidak benar dalam hal ini.

Soal Jawab

Soal: Apa perbedaan antara kenabian (nubuwwah) dan pengangkatan kenabian (bi’tsah )?

Jawab: Bi’tsah adalah kebangkitan dan kesadaran tiba-tiba pada seseorang atau masyarakat yang telah tenggelam ke dalam tidur kealpaan, kejahilan, dan kebingungan. Kenabian adalah faktor asasi dari pengangkatan, yakni setelah kompentensi penting dan kesiapan ditemukan pada seseorang untuk berhubungan Tuhan dan wahyu Ilahi, maka ia ditunjuk sebagai seorang nabi. Maka itu, pengangkatan adalah konsekuensi kenabian.

Soal: Apakah pandangan Ali suatu pandangan universal, yang dapat diterapkan ke semua komunitas seperti masyarakat Barat yang menyimpang? Apakah komunitas ini tunduk pada penghancuran tanpa seorang pun menyelamatkan mereka?

Jawab: Benar, ia dapat diterapkan ke semua komunitas di sepanjang zaman. Namun ia harus ditambahkan bahwa suatu waktu ketika rantai kenabian berakhir pada Nabi Terakhir dan tak seorang pun diangkat pada kenabian lagi, adalah para ulama sebagai pewaris para nabi yang akan memimpin manusia dan menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Soal: Apakah tanda-tanda yang Imam Ali sebutkan untuk kita tentang kemunculan para nabi adalah tanda-tanda yang sama yang telah kita terima menyangkut kemunculan Imam Mahdi?

Jawab: Mengenai Imam Mahdi, harus disebutkan fakta bahwa sebelum kemunculannya kembali dunia akan mencapai kesempurnaan yang relatif. Pada dasarnya, pemerintahan universal Mahdi merupakan pemerintah adil yang sempurna. Setengah keadilan harus ditegakkan oleh Anda dan generasi mendatang sebelum kemunculannya kembali.

Hari ini, karena tegaknya pemerintahan Islam Iran, yang menyampaikan suatu persentase berharga atas risalah Islam dalam kawasan strategis dunia, kita telah lebih mendekati pada kemunculan kembali Imam Mahdi.

Soal: Adalah benar bahwa semua tanda ini ada dalam revolusi kita dan di seluruh dunia. Apakah kemunculan kembali Imam Mahdi mungkin pada kurun waktu sekarang?

Jawab: Ya, mungkin. Namun hal lain yang sangat mungkin adalah runtuh negara-negara adidaya dunia dan bangkitnya gerakan-gerakan dan kebangkitan baru yang telah kami sebutkan secara berulang-ulang. Hal ini disebabkan dunia telah memasuki suatu periode baru dengan kebangkitan revolusi kita, suatu periode yang di dalamnya bangsa tertindas di dunia dan bangsa-bangsa lemah tidak akan tetap diam terhadap tirani kekuatan-kekuatan besar, yang akan berdiri menentang mereka dan pada akhirnya akan menghancurkan mereka seperti seekor hewan kecil (semut) bisa mengalahkan gajah raksasa dengan menaiki punggungnya kemudian menggigit telinga si gajah.[]