Usaha-usaha Rasulullah saw Memerkuat Baiat atas Ali

Nabi sangat memahami benar apa yang akan terjadi

pada kaum Muslim sepeninggalnya. Oleh karena itu, beliau

selalu mengawasi dampak-dampak negatif dan penyakitpenyakit

yang menimpa masyarakat Islam. Nabi juga

percaya betul bahwa yang pertama menerima terpaan dan

guncangan adalah garis risalah yang prinsip-prinsipnya

dikuatkan oleh beliau bersama Ali bin Abi Thalib dan

kepemimpinan yang telah dijelaskan oleh Nabi; bahwa

bila umat Islam meninggalkannya, maka telah berpaling

dari garis yang benar dari dakwah Islam. Meninggalkan

wasiat Nabi saw tentang kepemimpinan sangat merugikan

dan merongrong kemaslahatan mayoritas yang ingin

mendapatkan kemuliaan dari Islam dan ingin mendapatkan

berkah yang dapat memuaskan dahaga mereka di bawah

lindungan Islam. Dan meninggalkan kepemimpinan Islam

bukanlah langkah yang menguntungkan Islam, karena itu

melemahkan kebesaran Islam yang telah dibangun oleh

Nabi saw.

Nabi merasa khawatir akan perubahan syariat Islam

menjadi seakan tidak seperti yang diturunkan oleh Allah.

Syariat Islam akan tunduk pada hawa-nafsu dan kepentingan.

Salah satu kekhawatiran yang melanda Nabi adalah kejadian

Harits bin Nu’man yang meragukan bahkan mengingkari;

bahwa apa yang diucapkan Nabi dalam peristiwa Ghadir

Khum bukan wahyu, melainkan hawa-nafsu.

Untuk menanggulangi agar peristiwa semacam Harits

tidak terulang lagi, Nabi berulang kali dan di berbagai

tempat sering mengulangi garis dakwah Islam yang benar.

Seringkali Nabi mengulangi ucapannya, „Bila kalian

menjadikan Ali sebagai khalifah sepeninggalku, dan aku

tidak berpikir bahwa kalian akan melakukannya, niscaya

kalian akan menjumpainya sebagai orang yang memberi

petunjuk dan orang yang mendapat hidayah. Ia akan

mengantarkan kalian kepada tujuan yang jelas.

Diriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Ubadah yang berkata

di depan orang banyak, „Demi Allah! Aku telah mendengar

Rasulullah saw berkata, Bila aku meninggal dunia, hawanafsu

akan semakin menyesatkan, manusia akan kembali

kepada keyakinan sebelumnya.

Pada saat-saat seperti itu, kebenaran bersama Ali.

Hadis Tsaqalain adalah bukti lain atas keharusan

berpegang dan taat kepada Ali bin Abi Thalib. Berjalan

mengikuti petunjuk, jalan dan kepemimpinan Ali adalah

jaminan keselamatan akidah Islam dan pengawal manusia

agar tidak tersesat.

Dengan penuh kesadaran, Nabi mulai memikirkan

cara baru untuk menyelesaikan masalah Ilahiah tentang

penetapan Ali bin Abi Thalib sebagai Amirul-Mukminin

(pemimpin kaum Mukmin). Untuk itu, Nabi saw berusaha

untuk menyiapkan sebuah pasukan besar yang di dalamnya

diikutkan seluruh unsur yang mungkin dapat mengganggu

penetapan Ali sebagai pemimpin Islam sepeninggalnya.

Bila mereka hadir di Madinah dan mampu membelokkan

rencana ini, maka risalah Islam akan menyimpang dari

jalannya yang lurus. Atau, setidak-tidaknya kepemimpinan

Islam dibutuhkan sebagai posisi politis atau pengaturan di

samping struktur pemerintahan. Masalah kepemimpinan

Islam dari unsur-unsur tersebut muncul sebagai sebuah sikap

permusuhan ketika mereka menolak Ali sebagai pemimpin.

Penolakan terhadap Ali menimbulkan banyak masalah

terhadap umat Islam, sementara masalah kepemimpinan

Islam semakin kabur, karena pada saat yang sama, umat

Islam kehilangan Nabi Muhammad saw.