Hadis tentang Ali as adalah hakim bagi para malaikat

Berdasarkan ajaran agama, kita meyakini bahwa para malaikat tidak akan pernah melakukan kesalahan dan penentangan dalam menjalankan tugas-tugas mereka.

Allah Swt, dalam mendeskripsikan para malaikat, berfirman, "Para malaikat tidak akan pernah melakukan kesalahan dalam menjalankan perintah Tuhan dan apa yang diperintahkan kepada mereka akan ditunaikan secara sempurna; artinya para malaikat, menerima pelbagai titah dan perintah Ilahi serta patuh dalam menjalankannya. Jelas bahwa berdasarkan hal ini maka tidak akan didapatkan pertengkaran mulut di antara mereka.

Karena itu, yang terdapat di antara para malaikat hanyalah tanya jawab atau dialog dan bukan percekcokan dan pertengkaran mulut.

Adapun riwayat yang dikemukakan pada pertanyaan di atas terdapat masalah dari sisi matan maupun sanadnya. Karena dalam kitab Rijal Syiah (biografi) kebanyakan perawi-perawinya (Ahmad bin Abdullah, Abdullah bin Muhammad 'Abasi, Himad bin Salma, A'masy bin Wahab dan Ziyad bin Wahab) tidak dipandang sebagai tsiqah (terpercaya). Hadis ini juga tidak disebutkan pada salah satu kitab standar di antaranya kutub al-Arba'ah melainkan hanya disebutkan pada kitab al-Ikhtishâsh, Syaikh Mufid dan Bihâr al-Anwâr karya Allamah Majlisi. Di samping itu, redaksi kalimat ta-syâ-ja-ra (yang disebutkan terkait dengan para malaikat dalam hadis) umumnya bermakna pertengkaran dan percekcokan dan telah kami sampaikan bahwa terkait dengan para malaikat hal ini tidak benar adanya.

Kesimpulannya, hal ini tidak dapat dihukumi berdasarkan aturan-aturan ilmu Rijal (biografi para perawi hadis) dan hadis terkait dengan riwayat yang disebutkan.

Pertanyaan disampaikan dalam dua bagian dan kami akan membaginya menjadi beberapa bagian lebih besar untuk menjawabnya secara tepat dan sempurna:

1. Dengan memperhatikan bahwa para malaikat itu maksum dan tidak memiliki hawa nafsu apakah mungkin mereka bercekcok dan bertengkar?

Berdasarkan ajaran-ajaran agama kita meyakini bahwa para malaikat tidak akan pernah melakukan kesalahan dan penentangan dalam menjalankan tugas-tugas mereka.

Allah Swt dalam mendeskripsikan para malaikat berfirman: "Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Qs. Al-Tahrim [66]:6) artinya bahwa para malaikat menerima segala titah dan perintah Ilahi serta patuh dalam menjalankannya.[1]

Namun harus diperhatikan bahwa ketaatan dan meninggalkan maksiat para malaikat merupakan satu jenis ketaatan takwini bukan ketaatan tasyrii. Dan ketaatan takwini senantiasa ada. Dengan kata lain, mereka diciptakan sedemikian rupa untuk menjalankan perintah Ilahi dengan penuh gairah dan semangat serta pada saat yang sama tetap memiliki ikhtiar.[2] Untuk telaah lebih jauh ihwal Kemaksuman Para Malaikat, silahkan lihat Pertanyaan 1740 (Site: 2139).

Dan juga taklif para malaikat tidak seperti dengan taklif kita manusia. Mereka memiliki zat-zat suci dan nurani yang tidak berkehendak kecuali apa yang dihendaki Tuhan. Dan tidak mengerjakan sesuatu apa pun kecuali apa yang menjadi tugas mereka, sebagaimana firman Allah Swt, "Bal 'ibadun mukramun laa yasbiquna bilqaul wa hum biamrihi ya'malun," (Sebenarnya [malaikat-malaikat itu] adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya," Qs. Al-Anbiya [21]:27) Atas dasar ini, pada alam malaikat tidak terdapat upah dan pahala, di dalamnya tidak ada ganjaran apapun. Dan pada hakikatnya, para malaikat memiliki taklif berupa taklif-taklif takwini, bukan perintah dan larangan tasyri'i. Taklif-taklif takwininya juga dikarenakan perbedaan derajat mereka.[3] Jelas, berdasarkan hal ini, para malaikat tidak boleh dan tidak mungkin bercekcok.

2. Apakah mungkin terdapat perbedaan keinginan dan pendapat di antara para malaikat?

Dengan memperhatikan beberapa persoalan yang mengemuka di atas, sejatinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna berbantah-bantahan dan percekcokan di antara para malaikat. Paling maksimal yang dapat kita terima sebagai perbedaan dan perselisihan hanya dalam pendapat. Allah Swt berfirman: "Ma kana liya min 'ilm bilmala'i al-'ala idz yakhtashimun." (Aku tiada mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang malaikat di alam atas itu ketika mereka berbantah-bantahan (tentang penciptaan Adam)." (Qs. Shad [38]:69) Jelas bahwa apabila yang dimaksud i-kh-ti-shâm pada ayat ini sebagaimana yang disebutkan pada hadis-hadis,[4] diskusi dan dialog di antara para malaikat, tanya-jawab di antara mereka bukan bercekcok dan bertengkar,[5] hal ini dapat menjadi bukti atas klaim kami.[6]

3. Dengan memperhatikan bahwa para malaikat adalah ruh dan manusia adalah jasmani (dan ruh), dengan perantara apa mereka bertengkar dan bercekcok?

Berdasarkan ajaran-ajaran agama dan al-Qur'an meski para malaikat adalah ruh namun dengan izin Allah mereka memiliki kekuatan untuk muncul dalam pelbagai bentuk termasuk manusia.

Sebagai contoh:

A. Berdasarkan sebagian riwayat dari literatur-literatur hadis dan tafsir Ahlusunnah dan Syiah, Jibril datang menghadap kepada Rasulullah Saw dalam sosok Duhiya Kalbi.[7]

B. Para malaikat yang turun kepada Nabi Daud untuk ujian, berbentuk dua manusia dan menunjukkan bahwa mereka berselisih paham dan datang kepada Daud untuk menjadi hakim bagi mereka.[8]

C. Para malaikat yang turun kepada Nabi Ibrahim dan Luth datang kepada mereka sebagai tamu.[9]

D. Harut dan Marut dua malaikat yang turun untuk mengajarkan kepada masyarakat cara bersihir supaya mereka dapat menjinakkan dan mengalahkan sihir.[10]

Karena itu, dengan memperhatikan beberapa pendahuluan yang telah dijelaskan bahwa tidak ada halangan dan kemustahilan bahwa manusia mendatangi para malaikat untuk menyelesaikan percekcokan mereka (dengan asumsi hal ini terjadi) sehingga sebagaimana pada awal penciptaan Tuhan manusia memberitahukan kepada malaikat tentang nama-nama dan rahasia-rahasia seluruh makhluk,[11] kemudian pada waktu yang lain, manusia sempurna lainnya datang kepada malaikat untuk menyelesaikan percekcokan di antara mereka. Akan tetapi semua ini merupakan sebuah kemungkinan adapun apakah hal ini benar-benar terjadi atau tidak, tidak terdapat dalil definitif tentangnya.

Kajian Hadis dari Sisi Petunjuk dan Sanad

Ahmad bin Abdullah dari Abdullah bin Muhammad 'Abasi dari Himad bin Salmah dari A'masy dari Ziyad bin Wahab mengabarkanku bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata, "Saya datang kepada Fatimah As dan bertanya di manakah suamimu? Beliau menjawab: "Jibril membawanya ke langit. Aku berkata, "Untuk keperluan apa?" Sabdanya: "Beberapa malaikat berbantah-bantahan tentang sebuah persoalan dan mereka meminta kepada Tuhan untuk mendatangkan seorang hakim dari kalangan manusia. Allah Swt berfirman: 'Silahkan kalian pilih.' Mereka memilih Ali bin Abi Thalib."[12]

Hadis ini sarat dengan pelbagai problem dari sisi sanad dan dalâlat.

Dari sisi petunjuk (dalâlat)

Kalimat ta-syâ-jar (terkait dengan malaikat) umumnya bermakna bertengkar dan bercekcok.[13] Dan telah dijelaskan bahwa masalah ini tidak benar adanya terkait dengan para malaikat. Dengan demikian, hadis ini tidak memiliki petunjuk (dalâlat) atas klaim yang disampaikan bahkan hadis ini dapat digugurkan dan dianulir.

Dari sisi sanad

Pertama, dalam kitab-kitab Rijal (biografi para perawi hadis) Syiah, bukan hanya tidak menuliskan silsilah sanad hadis ini pada riwayat di atas namun juga tidak disebutkan bahkan umumnya perawi hadis ini tidak dipandang sebagai tsiqah.[14]

Kedua, hadis ini tidak disebutkan pada salah satu kitab standar hadis di antaranya kutub al-arba'ah melainkan hanya dinukil pada kitab al-Ikhtishâsh karya Syaikh Mufid dan Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi dimana Allama Majilisi juga menukilnya dari Syaikh Mufid, al-Ikhtishâsh.

Kesimpulannya hadis ini tidak dapat dihukumi shahih berdasarkan aturan-aturan ilmu Rijal dan Hadis karena standar riwayat yang disebutkan. [IQuest]


[1]. Abu Abdillah Muhammad bin Umar, Fakhruddin Razi, Mafâtih al-Ghaib, jil. 30, hal. 573, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, cetakan ketiga, 1420.

[2]. Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 24, hal. 288.

[3]. Muhammad Husain Thabthabai, Tafsir al-Mizân , terjemahan Persia, Sayid Muhamad Baqir Musawi Hamadani, jil. 19, hal. 561-562, Daftar Intisyarat-e Islami, Jame’e Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, cetakan kelima, 1374 S.

[4]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 18, hal. 375, Muassasah al-Wafa, Beirut Libanon, 1404 H. Rasulullah Saw bertanya kepada salah seorang sahabatnya. Apakah engkau para malaikat alam atas berbicara dan berdialog tentang apa? Ia berkata, “Tidak.” Rasulullah Saw bersabda: “Mereka berbicara tentang kaffarah (beberapa perbuatan yang menebus dosa) dan derajat (yang menaikkan derajat manusia). Adapun tentang kaffarah, berwudhu di musim dingin, melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah, menanti satu shalat setelah selesainya shalat yang lain. Adapun ihwal derajat, banyak menyampaikan salam, memberi makan, shalat malam tatkala orang-orang terlelap.

[5]. Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 19, hal. 333.

[6]. Namun di sini juga terdapat orang-orang yang meyakini bahwa yang dimaksud dengan dialog para malaikat dengan Tuhan bukan sesama mereka. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat kitab-kitab tafsir yang berkaitan dengan ayat ini.

[7]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 587, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1365 S; Shahih Muslim hadis No. 2451 http://www.al-islam.com. Site Maktaba Syamilah; Tafsir Ibnu Katsir, jil. 6, hal. 406, Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarasyi al-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, Dar Tayyibah lin Nasyr wa al-Tau’zi, cetakan kedua, 1420 H (1999 M).

[8]. “Daud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat (dan bersahabat) itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhan-nya lalu menyungkur sujud dan bertobat.” (Qs. Shad [38]:24)

[9]. “Dan sesungguhnya utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, “Selamat.” Ibrahim menjawab, “Selamatlah.” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala ia melihat tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat) yang diutus kepada kaum Luth…” (Qs. Hud [11]:69 & 79-83)

[10]. “Dan mereka (orang-orang Yahudi) mengikuti apa yang dibaca oleh seta-setan pada masa kerajaan Sulaiman (untuk masyarakat dan mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu). Oleh sebab itu, janganlah kau kafir (dan jangan kau menyalahgunakan pelajaran ini).” (Akan tetapi), mereka (menyalahgunakan hal itu dan) hanya mempelajari dari kedua malaikat itu apa dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mendatangkan mudarat dengan sihir itu bagi seorang pun kecuali dengan izin Allah. Mereka (hanya) mempelajari sesuatu yang dapat mendatangkan mudarat bagi (diri) mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka meyakini bahwa barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, ia tidak akan mendapatkan keuntungan di akhirat, dan amat jeleklah perbuatan mereka menjual diri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. “(Qs. Al-Baqarah [2]:102)

[11]. “Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama (dan rahasia) ciptaan para makhluk ini.” (Qs. Al-Baqarah [2]:33)

[12]. Syaikh Mufid, al-Ikhtishâsh, hal. 213, Intisyarat-e Kungre Jahani Syaikh Mufid, Qum, 1413 H.

[13]. Tharihi, Majma’ al-Bahrain, jil. 3, hal. 343, Kitab Purusyi Murtadhawi, Teheran, cetakan ketiga, 1375 S.

[14]. Silahkan lihat kitab-kitab Rijal terkait dengan nama “Ahmad bin Abdullah, Abdullah bin Muhammad ‘Abasi, Himad bin Salmah, A’masy bin Wahab, Ziyad bin Wahab.