Pendidikan Dalam Nahjul Balaghah

Bagian Pertama: Belajar Dan Mengajar

Pasal Pertama

Nilai Ilmu

1- Keutamaan Ilmu

2- Motifasi Menuntut Ilmu

3- Celaan Terhadap Kejahilan Dan Kebodohan

1- Keutamaan Ilmu

Ilmu Warisan Berharga

: ݘ

Imam Ali as berkata: Ilmu adalah peninggalan yang mulia, adab adalah perhiasan yang selalu baru dan pemikiran adalah kaca cermin yang jernih. (Nahjul Balaghah, Hikmah ke-5.)

Dalam hikmah ini digunakan beberapa metapora:

1- Ilmu diekspresikan dengan warisan, dengan kesesuaian bahwa sebagaimana seorang anak mewarisi harta dan kekayaan dari ayah, maka setiap orang alim juga mewarisi ilmu dan pengetahuan dari gurunya. Karena dalam warisan ilmu terdapat keistimewaan yang tidak ada pada warisan harta benda, maka warisan ilmu didiskripsikan dengan kemuliaan dan kebernilaian (wiratsah karimah). Sumber keistimewaan ini adalah kekekalan ilmu dan kefanaan harta dan kekayaan. Harta benda yang didapatkan anak dari ayahnya akan sirna dan habis, sementara ilmu dan pengetahuan akan kekal dan aman dari bahaya-bahaya yang mengancam harta.

Dalam riwayat-riwatat lain, ilmu juga diungkapkan dengan warisan dan ulama diekspresikan dengan para pewaris:

: ݘ ی Ș Ә ј ј

Amirul Mukminin as berkata: Ilmu adalah warisan yang mulia, adab adalah perhiasan yang baik, pemikiran adalah cermin yang jernih dan pengambilan pelajaran adalah pemberi peringatan yang menasehati dan cukuplah bagi Anda sebagai adab untuk diri sendiri (ketika Anda) meninggalkan apa yang tidak Anda sukai bagi orang lain. (Bihar Al-Anwar, jilid 1, hal. 169. Sayed Radhi juga membawakan riwayat yang seperti ini dalam ucapan-ucapan pendek Nahjul Balaghah, Hikmah ke-365:

ݘ ی Ә Ș ј

Pikiran adalah cermin yang jernih, dan mengambil pelajaran (dari keadaan sekitar) memberikan peringatan dan nasihat. Cukuplah untuk memperbaiki diri Anda bila Anda mengelakkan apa yang Anda anggap buruk pada orang lain.)

ی : ی ی

Dari Abi Abdillah (Imam Jakfar Shadiq as) beliau berkata: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan demikian itu (karena) sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar (sedikitpun) akan tetapi mereka mewariskan hadis-hadis mereka maka barangsiapa mengambil sesuatu darinya maka (berarti) telah mengambil keberuntungan yang besar, maka tengoklah ilmu kalian ini dari siapa kalian mengambilnya, karena sesungguhnya di antara kami terdapat Ahlul Bait yang pada setiap masa terdapat pengganti-pengganti adil yang menafikan penyimpangan para ekstrimis, bidah para perusak dan takwilan orang-orang dungu. (Muhammad bin Yaqub Kulaini, Ushul al-Kafi, jilid 1, hal. 32)

2- Adab dan akhlak terpuji diekspressikan dengan perhiasan-perhiasan yang selalu baru dan awet, dengan alasan bahwa keutamaan-keutamaan untuk diri merupakan perhiasan, sebagaimana pakaian dan alat-alat perhiasan menghiasi tubuh manusia. Pendiskripsian perhiasan-perhiasan batin ini dengan sifat baru dan awet dengan alasan bahwa karena telah mendarah daging dalam jiwa maka menjadi awet dan bersama dengan manusia.

3- Pikiran diungkapkan dengan یɔ; artinya kaca cermin yang memancar dan jernih, karena sebagaimana kaca cermin yang jernih memantulkan aib-aib dan gambar-gambar di depannya dengan baik, maka pikiran manusia juga menyingkap kejahilan-kejahilan conceptdan judgementdan merubahnya menjadi maklum dan menurut ungkapan sebagian komentator Nahjul Balaghah, pikiran seperti astrolabe ruhani. (Ibnu Abi al-Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 18, hal. 93)

Komentator Bahrani ra dalam memberikan penjelasan hikmah dan kalam bercahaya ini berkata:

Ketiga belas: Ilmu adalah suatu warisan mulia dan hal itu merupakan keutamaan jiwa berakal, kesempurnaan tertinggi yang diperhatikan dan oleh karena itu merupakan suatu warisan mulia dari ulama bahkan adalah warisan dan pendapatan termulia dan yang dimaksud adalah warisan spiritual seperti firman Allah swt:

Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; yaitu warisan ilmu dan hikmah. QS. Maryam [19]: 5 6.

Keempat belas: Adab adalah perhiasan permanen dan yang selalu baru. Yang dimaksudkan adalah adab syari dan keutamaan-keutamaan akhlak dan adab dikiaskan dengan lafad perhiasan-perhiasan yang permanen dan selalu baru dengan anggapan bahwa adab selalu menyertai manusia dan memberikan nilai dan kepribadian manusia, sebagaimana perhiasan-perhiasan yang selalu dipakainya.

Kelima belas: Pikiran adalah sebuah cermin jernih dan bercahaya, pikiran terkadang diartikan sebagai potensi untuk berpikir, terkadang bermakna berpikir dan lain sebagainya. Di sini berartikan potensi untuk berpikir. Dan bahwa pikiran diungkapkan sebagai cermin jernih karena sebagaimana kaca cermin yang jernih menampakkan segala sesuatu yang berada di hadapannya, pikiran pun menampakkan hal-hal yang disodorkan kepadanya; artinya akan mengantarkan manusia mulai dari garis star hingga tujuan atau finish.

Kebahagiaan Manusia Berada Pada Kelebihan Ilmu

: Ϙ

Dipertanyakan (kepada Imam Ali as) tentang khair (kebaikan), apakah itu? Imam as menjawab: Kebaikan bukanlah harta dan anak Anda bertambah, akan tetapi kebaikan adalah ilmu Anda bertambah. (Nahjul Balaghah, Hikmah ke-94)

Khairdisebutkan dalam beberapa ayat al-Quran dengan artian harta benda dan perhiasan duniawi:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara maruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 180)

Apakah mereka (orang-orang kafir) mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan (duniawi) kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al-Mukminun [23]: 55 56)

Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (dunia). (QS. Al-Adiyat [100]: 8)

Bila harta dan anak adalah khair(kebaikan) maka bagaimana dalam ucapan ini Imam Ali as meniadakan kebaikan dari harta dan anak?

Jawabannya adalah bahwa kebaikan terbagi dua: mutlak dan muqayad (terikat); kebaikan terkadang digunakan pada kebaikan mutlak; yaitu suatu kebaikan yang tidak mengandung keburukan sedikit pun, dan terkadang dipakai dalam kebaikan muqayad; yaitu suatu kebaikan yang tidak baik untuk semua orang dan dalam segala kondisi. Ucapan Imam as dalam bentuk peniadaan secara umum, bukan generalisasi peniadaan; artinya kebaikan murni adalah penambahan ilmu dan pengetahuan, bukan penambahan harta dan anak.

Komentator Nahjul Balaghah Bahrani ra dalam menjelaskan hikmah ini berkata:

Khair(kebaikan) dalam (pemahaman) masyarakat umum adalah penambahan harta dan kemanisan-kemanisan duniawi, sementara dalam (pemahaman) para pesuluk kepada Allah adalah kebahagiaan ukhrawi dan hal-hal yang menjadi perantara menuju ke sana berupa kesempurnaan-kesempurnaan jiwa. Mungkin sebagian orang menafsirkannya dengan hal yang lebih umum darinya. Imam Ali as menafikan hal pertama sebagai kebaikan dengan alasan kefanaan, keterpisahan dan terkadang disertai keburukan di akherat. Beliau as menginterpretasikannya dengan hal kedua dan menganggapnya sebagai kesempurnaan potensi-potensi insaniah maka banyaknya ilmu merupakan kesempurnaan potensi-potensi teoritis insaniah bagi jiwa yang berakal. (Ibnu Maitsam Bahrani, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 5, hal. 288)

Imam Kelima, Muhammad Baqir as juga pernah menukil dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: Tiada kebaikan selain dalam belajar dan mengajar.

ی : ی ی ی

Nabi saw bersabda: Orang yang alim dan yang menimba ilmu sama-sama memperoleh pahala, dua pahala bagi orang alim sementara satu pahala untuk yang menimba ilmu dan tiada kebaikan pada selainnya. (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 173)

Dalam Ghurar al-Hikam dinukil dari Amirul Mukminin as bahwa:

Ilmu adalah dasar (sumber) segala kebaikan.

Kedudukan Ulama Di Sisi Anbiya

: ی () : ی ی

Amirul Mukminin as berkata: Orang-orang yang paling terpaut pada para Nabi adalah orang-orang yang lebih mengetahui apa yang telah dibawa para nabi. Kemudian Amirul Mukminin as membacakan,

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim tentulah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) dan orang-orang yang beriman.(QS. Ali Imran [3]: 68) (Nahjul Balaghah, Hikmah ke-96)

Allamah Majlisi ra berkata: Dan dalam sebagian naskah adalah ÇÚãáåã (orang-orang yang lebih mengamalkan) dan ini lebih cocok (dengan zahir ucapan beliau as). (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 183)

Ibnu Abil Hadid berkata: Demikianlah diriwayat dengan lafad ÇÚáãåã (orang-orang yang lebih mengetahui), sementara yang sahih adalah ÇÚãáåã karena argumentasi beliau as dengan ayat tersebut menuntut demikian dan demikian pula ucapan beliau selanjutnya Sesungguhnya wali Muhammad saw adalah orang yang mentaati Allah swt hingga akhir pasal dan beliau tidak menyebutkan ilmu akan tetapi menyebutkan amal. (Syarah Nahjul Balaghah, jilid 18, hal 252)

Dalam jawabannya mungkin dapat dikatakan: Tidak terdapat sedikitpun kontradiksi antara argumentasi dengan ayat suci dan kata ÇÚáãåã, karena mengikuti dan menuruti perintah-perintah dan larangan-larangan para nabi secara sempurna akan terwujud ketika seseorang mengetahui selayaknya instruksi-instruksi para nabi dan semakin besar ilmu dan pengetahuan seseorang terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan, maka ia akan semakin dapat memanfaatkannya dalam amal dan sejalan denga para nabi sementara ketaatan tanpa pengetahuan tidak dapat terjadi.

Komentator Nahjul Balaghah Bahrani ra dalam membuktikan hal ini berkata:

Dan ketika target para nabi as adalah menarik makhluk kepada Allah swt dengan mentaati-Nya maka setiap orang yang semakin taat, akan semakin mendekati mereka (para nabi), lebih dekat ke hati mereka dan semakin erat hubungan dengan mereka. Dan ketika ketaatan mereka tidak terwujud kecuali dengan ilmu terhadap apa yang mereka bawa maka manusia yang paling mengetahui (berilmu) terhadap hal itu adalah yang lebih dekat dengan mereka dan lebih loyal terhadap para nabi. Argumennya adalah ayat tersebut. (Syarah Nahjul Balaghah, jilid 5, hal. 289)

Nilai Ilmu

:

Imam Ali as berkata: Tiada kemulian seperti ilmu. (Nahjul Balaghah, Hikmah ke-113)

Mengenai kemuliaan dan nilai ilmu terdapat riwayat-riwawyat lain dari Amirul Mukminin as pula:

: Ș

Imam Ali as berkata: Kecintaan adalah nasab (hubungan) yang paling erat sedangkan ilmu adalah kebanggaan yang paling mulia. (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 183)

:

Beliau as juga berkata: Manusia akan saling mengutamakan sesamanya dengan ilmu dan akal, bukan dengan harta benda dan asal keturunan (nasab). (Abdul Wahid bin Muhammad Amadi, Ghurar al-Hikam)

: ی ی

Juga berkata: Cukuplah dengan ilmu sebagai kemuliaan, bila seseorang yang tidak memilikinya mengklaimnya dan merasa senang bila (ilmu) disandarkan kepadanya, dan cukuplah dengan kebodohan sebagai celaan, seorang yang tercakup di dalamnya (pun) berlepas diri darinya. (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 185)

Hal ini tidak terbatas pada ilmu dan kebodohan, akan tetapi hukum ini juga berlaku pada (sifat) berani dan takut, derma dan kikir, adil dan fasiq dan seluruh sifat dan kriteria yang berlawanan; artinya orang yang tidak memiliki ilmu, kedermawanan dan keadilan meresa senang bila sifat-sifat tersebut dinisbatkan kepadanya dan menjadi tidak suka bila kebodohan, kebakhilan dan kefasikan disandarkan kepadanya.

Meng-applause sifat-sifat terpuji meskipun melalui mereka yang tidak memiliknya dan mencela sifat-sifat moral yang tercela dan tidak layak terhadap orang-orang yang memilikinya bersumber dari sebuah potensi yang dianugerahkan oleh Allah swt ke dalam diri manusia:

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Ilmu Lebih Baik Atau Harta

Kumail meriwayatkan: Amirul Mukminin as memegang tangan saya lalu membawa saya ke pekuburan. Kemudian ia menarik nafas keluhan yang dalam seraya berkata: Wahai Kumail, hati ini adalah wadah. Yang terbaik di antaranya adalah yang memelihara (isinya). Karena itu, peliharalah apa yang saya katakan kepada Anda.

Manusia ada tiga jenis. Yang satu adalah orang berilmu dan rohaniawan. Berikutnya adalah si pencari ilmu yang juga di jalan keselamatan. Kemudian (yang terakhir) si busuk yang memburu setiap penyeru dan tunduk kepada setiap arah angin. Mereka tidak mencari cahaya dari sinar pengetahuan, dan tidak mengambil perlindungan dari dukungan yang dapat diandalkan.

Wahai Kumail, pengetahuan lebih baik dari kekayaan. Pengetahuan menjaga Anda sementara Anda harus menjaga harta. Harta berkurang dengan pembelanjaan sedang pengetahuan berlipat ganda dengan pengeluarannya, dan akibat dari kekayaan mati bila kekayaan membusuk.

Wahai Kumail, pengetahuan adalah iman yang diamalkan. Bersamanya manusia mendapat ketaatan dalam hidupnya dan nama baik setelah matinya. Pengetahuan adalah penguasa sedang harta dikuasai. Wahai Kumail, orang yang mengumpul harta adalah orang mati sekalipun mereka masih hidup, sementara orang yang dikaruniai pengetahuan akan tetap ada sepanjang dunia masih ada. Tubuh mereka tak ada tetapi gambar mereka berada di hati (manusia). (Nahjul Balaghah, Hikmah ke-147)

Kumail bin Ziyad Nakhai Kufi termsuk dari sahabat dekat Amirul Mukminin as. Doa Kumail yang terkenal juga dinisbatkan kepadanya. Ia syahid di tangan Hajjaj. Ia sebelumnya telah mendengar berita kesyahidannya dari Amirul Mukminin Ali as dan ketika syahid ia mengatakan kepada Hajjaj:

Sesungguhnya Amirul Mukminin as telah memberitakan kepadaku bahwa engkau adalah pembunuhku. (Silahkan rujuk: Sayed Abul Qasim Khui, Mujam Rijal al-Hadits, jilid 14, hal 128)

Penjelasan dan keterangan bagian dari ucapan Imam Ali as yang berkaitan dengan keutamaan ilmu ini akan dipaparkan dalam empat tema berikut ini:

a) Pengantar

Kumail berkata: Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengambil tanganku dan membawa ke arah pekuburan Kufah Jaban. (Jaban atau Jabanah dikatan padang sahara atau pekuburan).

Dari sini dapat diketahui bahwa beliau as tidak menjelaskan seluruh pengetahuan untuk semua orang dan pada sembarang tempat dan sebagian pengajaran harus dijelaskan di tempat dan masa tertentu dan untuk orang-orang pintar dan pilihan sehingga melalui mereka akan berpindah kepada orang lain.

Poin lain adalah tidak boleh menjelaskan pengetahuan-pengetahuan tinggi dengan tanpa pengantar dan persiapan lazim dan tepat; oleh karena itu Imam Ali as berkata setelah membawa Kumail ke pekuburan atau padang sahara dan memisahkan dari kebisingan, kegaduhan, kesibukan duniawi dan kegelapan periode pasca Nabi saw, untuk persiapan lebih pada dirinya dan menarik perhatiannya terhadap keurgenan permasalahan yang akan disampaikan kepadanya:

Wahai Kumail, hati ini adalah wadah. Yang terbaik di antaranya adalah yang memelihara (isinya). Karena itu, peliharalah apa yang saya katakan kepada Anda. (Metode ini, yaitu menciptakan persiapan pada diri lawan bicara sebelum menyampaikan pengetahuan-pengetahuan tinggi dapat disaksikan dengan baik dalam pertemuan Imam Shadiq as dengan Unwan Bashri: Unwan Bashri setelah beberapa lamu berguru kepada Malik, menemui Imam Shadiq as dan menginginkan dari beliau as supaya diberi kehormatan untuk menjadi murid beliau, akan tetapi beliau as dalam perjumpaan pertama menolak keinginannya, sehingga setelah melalui beberapa tahap dan menciptakan persiapan yang layak dalam dirinya yang dijelaskan secara terperinci oleh almarhum Majlisi ra- beliau as menjelaskan beberapa pengetahuan tinggi sebagai tingkatan pertama ketakwaan kepadanya) islamshia-w.com