Kenapa Hidup Bermasyarakat?

Sejarah kehidupan manusia selalu diwarnai dengan keberkelompokan dan kebersamaan. Muncul empat teori dalam menganalisa alasan kehidupan sosial manusia tersebut: (1) teori sumber ekternal dan lingkungan hidup sosial, (2) teori sumber insting kehidupan sosial, (3) teori sumber rasional hidup sosial, dan (4) teori sumber emosional dan hati dalam kehidupan sosial. Terori pertama adalah ekternal, adapun yang lain, internal. Berdasarkan dua terori pertama, kehidupan sosial tidak sejati dan juga tidak bertujuan manusiawi, sedangkan dua teori berikutnya memandang kehidupan sosial untuk mencapai tujuan-tujuan manusiawi yang tinggi.

Tiga dari empat teori di ataskurang lebihnyaberakar juga pada pemikiran sosial muslimin dan bisa dimengerti dari kata-kata mereka. Bagian terluas dari interpretasi sosial muslimin dipenuhi oleh argumentasi-argumentasi yang sering menitikberatkan ruang keseragaman manusia dan binatang, seperti insting, birahi, dan tuntutan primitif lainnya. Namun, akhir-akhir ini, sebagian cendekiawan muslim memperhatikan sisi-sisi spesial manusia, seperti pengetahuan dan kecenderungan fitrah, sebagai sumber terciptanya kehidupan sosial.

Teori Ibn Khaldun yang terfokus pada kebutuhan primer fisik manusia begitu pula teori Allamah Thabathabai yang meyakini jiwa memperbantukan yang lain sebagai asas natural manusia, keduanya bertemu dalam titik, bahwa cinta diri sendiri adalah satu-satunya pokok terutama dalam diri manusia; artinya seseorang bergabung dengan yang lain karena dia mencintai dirinya dan ingin terus kekal. Dia menutup mata dari sebagian kecil keuntungan dan jerih payahnya demi meraup hasil dan bantuan orang lain yang jauh lebih besar. Maka dari itu, cinta diri sendiri merupakan faktor memperbantukan yang lain dan alasan kenapa seseorang rela menutup mata dari sebagian keuntungannya, tidak lain untuk menciptakan kehidupan gotong royong dan meraih keuntungan yang lebih besar. Menurut logika di atas, kecenderungan asli setiap orang adalah meraih keuntungan dari jerih payah orang lain. Adapun keberpalingannya dari sebagian keuntungan miliknya bukan kehendaknya yang sebenarnya, melainkan dia terpaksa melakukannya dengan kecenderungan di atas.

Pertanyaannya adalah apa penjelasan logika ini tentang rindu dan pengorbanan tanpa balas yang dilakukan manusia? Pengalaman hidup sehari-hari kita menyaksikan beberapa fakta kerinduan manusia terhadap manusia yang lain dan merelakan apa yang dia miliki tanpa balas. Apakah tindakan seperti ini terbilang natural? Kalau iya, bagaimana cinta orang lain bisa bertemu dengan cinta diri sendiri? Kita menyaksikan keakraban, ketulusan, pengorbanan tanpa balas dan perasaan dalam kehidupan sosial manusia, semua itu sama sekali tidak berbau pragmatis, cinta posisi, dan egoisme. Karena itu, apa bijak apabila kita tidak menerimanya minimal seperingkat dalam kesejatian, hakikat, dan naturalitas dengan tindakan bisnis, pragmatis dan serakah manusia?! Dengan demikian, apakah masih bisa diyakini bahwa cinta diri sendiri, kecenderungan memperbantukan yang lain, dan pemuasan faktor-faktor fisiologik sebagai satu-satunya motif dan keinginan natural utama manusia? Syahid Muthahari berpandangan, pokok memperbantukan yang lain adalah bentuk terhormat dari konflik kekekalan seperti teori evolusi Darwinisme sosial masa kini.[1]

Syahid Mutahari berpendapat kehidupan sosial disebabkan oleh emosi (perasaan) dan kecenderungan diri manusia kepada perkumpulan bersama manusia yang lain. Oleh karena itu, manusia yang hidup sosial adalah orang yang normal. Adapun orang yang terputus dan terasing dari masyarakat adalah tidak normal. Sekilas teori ini falsafah yang tinggi dalam menjelaskan kesejatian cinta orang lain dan cinta diri sendiri. Akan tetapi, kritikan yang menghantam teori ini terarah pada obyektifitas yang diberikan pada perkumpulan dan kehidupan sosial itu sendiri. Dengan kata lain, hidup bersama orang lainsiapapun dia, musyrik atau mukmin, salih atau perusak, berbudi pekerti atau tak bermoralmerupakan tujuan natural dan terutama dari gerakan manusia, dan teori semacam ini sekaligus juga konsekwensinya tidak didukung oleh teks-teks agama; karena, berdasarkan filsafat ini, manusia yang telah bergabung dengan masyarakat (walaupun masyarakat itu jahat dan menyimpang), dia telah bertindak sesuai dengan tuntutan normal dirinya dan dia telah sampai pada kesempurnaan internal dirinya. Dari sisi ini, dia tidak kekurangan sehingga tidak diperlukan lagi untuk menyempurnakan dirinya dengan bergabung pada masyarakat lain. Padahal menurut tuntunan agama harus berpisah dan memutus hubungan dari masyarakat jahiliah dan bergabung dengan masyarakat yang lain. Pada dasarnya, pokok hijrah yang ditegaskan oleh Al-Quran dan hadis Nabi saw untuk mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak bisa sampai pada hakikat kemanusiaan dan meraih kesempurnaan dirinya di segala bentuk kehidupan sosial dan masyarakat. Setiap orang yang menghendaki fitrah dan hakikat yang selamat dan sempurna, maka dia harus keluar dari masyarakat yang diselimuti kezaliman, kekejian, kerusakan, kesyirikan, dan penuhanan manusia. Berhijrah dan bergabung dengan masyarakat yang lain, terlepas dari komunitas musyrik dan bergabung dengan komunitas bertauhid; berpisah dari masyarakat tagut dan bersatu dengan masyarakat yang bebas, menjauh dari kalangan borjuis, berpihak pada kalangan terhormat dan bertaqwa. Dengan itu jelas sudah bahwa hakikat dan kesempurnaan seseorang tidak bisa diperoleh dengan segala bentuk kehidupan sosial.

Agama tidak mengajarkan hidup bersama orang lain siapapun dia dan bergabung dengan kelompok tertentu kemanapun arah mereka. Berbeda dengan interpretasi Syahid Mutahari dari kehidupan madani yang tidak mampu menjustifikasi filsafat hijrah, karena dengan alasan apa seseorang harus meninggalkan komunitas tertentu dan bergabung dengan komunitas yang lain? Apakah untuk mencapai hakikat dan kesempurnaan awalnya? [Tentu tidak]! Hal itu sudah diperoleh sebelumnya bersama komunitas pertama, karena itu tujuan natural dan primer manusia dalam hidup bermasyarakatsebagaimana Syahid Mutahari menyimpulkannya dari ayat-ayat Al-Qurantidak harus berarti dia tergiring oleh keterpaksaan dan perasaan yang murni manusiawi ke arah orang selain dirinya, melainkan kekuatan nalar atau rasio dan kemampuan identifikasi serta eksperimen yang telah ia selidiki dapat mengantarkan manusia untuk hidup bersama yang lain.

Ayat-ayat Al-Quran menggambarkan manusia sebagai pedagang yang senantiasa bernegosiasi dan mencari keuntungan; makhluk yang selalu dalam kondisi niaga dan bisnis. Oleh karena itu, terkadang dia untung dan terkadang juga rugi. Allah SWT berfirman:

ی

Sesungguhnya Allah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan imbalan surga, mereka berperang di jalan Allah maka mereka membunuh dan terbunuh. (Hal ini) sebagai janji Allah yang sungguh (haq) di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an, dan barangsiapa setia terhadap janjinya kepada Allah, maka berita-berita buat kalian atas perniagaan yang kalian lakukan, dan itu adalah kemenangan yang agung."[2]

Yor mafurusy beh dunyo keh basi sud nakard,

On keh yusuf beh zar no sareh befurukhteh buvad. (Hafidz)

(Sahabat, jangan kau jual pada dunia yang sama sekali tidak menguntungkan, apa yang Yusuf telah jual pada emas yang tak bernilai).

Filsafat humanian tersebut di atas senada dengan filsafat sosial dan ibarat yang terdapat pada ceramah-ceramah Nahjul Balaghah tentang esensi dunia dan kehidupan sosial. Sebuah contoh kita membaca di ceramah 16 Nahjul Balaghah, "Demi Tuhan yang telah mengutus Rasulullah saw dengan benar, kalian akan tercampur aduk secara tertentu, dan akan tersaring secara tertentu, danseperti layaknya bahan-bahan lainnyakalian akan terbolak-balik sehingga yang terendah menjadi tertinggi dan sebaliknya, yang tertinggi dari kalian jadi terrendah. Begitu mereka yang dulunya tertinggal akan mendahului dan sebaliknya yang di depan jadi tertinggal di belakang."

Dikatakan dalam ceramah ke28 Nahjul Balaghah:

Sadarlah bahwa hari ini adalah persiapan dan esok adalah perlombaan.

Ibn Atsir menyebutkan arti midhmr dalam kitab an-Nihyah, jilid 3, hal. 99 sebagai berikut, Midhmr adalah tempat atau tempo yang digunakan untuk mempersiapkan kuda-kuda untuk perlombaan."

Amirul Mukminin as mengatakan dalam ceramahnya yang ke-107 dalam Nahjul Balaghah mengenai sahabatnya sebagai berikut:

...

"Kenapa saya melihat kalian ... pedagang tanpa hasil?"

Tiga kalimat di atas menerangkan kepada kita bahwa kehidupan sosial (ruang dunia) adalah medan menang dan kalah serta kesempatan berlomba. Setiap orang yang memasuki medan ini siap untuk bersaing; mereka menginjakkan kaki di atas kehidupan ini untuk menang atau kalah, mereka ditarik ke sini untuk niaga dan mencari keuntungan. Maka dari itu, di dalam kajian humanologi kita katakan bahwa manusia adalah eksistensi pedagang yang mencari keuntungan dan di dalam sosiologi kita katakan bahwa kehidupan sosial adalah medan perniagaan. Di filsafat manusia kita menyebut manusia sebagai yang berlomba dan pesaing. Adapun di filsafat sosial kita katakan, manusia tergiring ke arah hidup bermasayarakat untuk berlomba dan bersaing.

Teori di atas bisa kita argumentasikan dalam bentuk demonstrasi sebagai berikut:

Manusia menghendaki perniagaan yang penuh keuntungan, dan perniagaan yang penuh keuntungan bisa diperoleh dengan hidup sosial. Oleh karenanya, secara rasional manusia menghendaki kehidupan sosial. Teori ini diperkuat juga olah filsafat hijrah dalam ajaran Islam.

Memang benar bahwa manusia memilih untuk gotong royong dan hidup bermasyarakat. Hal itu karena dia ingin mengambil keuntungan yang lebih besar dan mencapai kesempurnaan yang lebih. Akan tetapi, di saat dia melihat bahwa ternyata medan perniagaan ini berbahaya, merugikan, mengalami kekalahan dan kemunduran, maka dia menarik diri dan berhijrah ke pasar yang lebih menguntungkan dan tanpa riskan yang besar. Oleh karenanya, filsafat hijrah dalam konsep Islam merupakan kelanjutan dari filsafat sosial Islam. Setiap orang memberikan kontribusi kepada masyarakat dan juga menarik keuntungan darinya, mengeluarkan modal dan mengantongi laba, menggelar barang di depan khalayak dan juga membeli barang lain dari mereka. Maka jangan sampai dia rugi dalam perniagaan ini melainkan harus membawa keuntungan yang berlimpah ruah dan menjadi pemenang. Tapi jika masyarakat memberikan barang yang jelek sebagai timpalan dari barang yang telah dipersembahkan oleh seseorang, maka dia akan mengalami kerugian dalam perniagaan ini. Setiap orang terjun ke medan perniagaan dan pasar jual beli sosialnya dengan bekal fitrah dan inti kemanusiaannya. Modalnya adalah kemanusiaan dan kesempurnaan manusiawi yang dimilikinya, yaitu kekuatan nalar, kekuatan identifikasi, intuisi moral, kecenderungan manusiawi, cinta hakikat, cinta keutamaan, kemuliaan dan kehormatan etis, kasih sayang dan pengorbanan untuk orang lain, jihad dan perjuangan, tauhid dan pengabdian hanya pada Yang Maha Esa. Dan apabila masyarakat yang dia hadapi adalah kafir, musyrik, tidak adil, dan rusak, maka balasan yang diperoleh seseorang yang telah mempersembahkan fitrah dan kemanusiaannya dari mereka adalah kekafiran, kefasikan dan kejahatan, dan sudah barang tentu dia yang merugi dalam perniagaan dan kalah dalam perlombaan ini. Di sinilah agama memerintahkan dia berhijrah ke bumi lain dan mengadakan transaksi dengan komunitas yang berbeda agar mendapat keuntungan yang besar, kemanusiaannya pun tidak ternoda, fitrahnya tidak terrampas dan barangnya tidak sampai cacat.

Berdasarkan penjelasan di atas, filsafat hijrah didesign sebagai lanjutan dari filsafat kehidupan sosial: menjanjikan keuntungan yang berlimpah ruah, menjamin keamanan, menghindarkan bahaya kerugian manusia pedagang! Di tengah masyarakat yang berpaling dari penyembahan Yang Maha Esa dan menggantikannya dengan tagut, di tengah komunitas yang bangga terhadap harta, tahta dan semisalnya yang menduduki posisi ketakwaan, kedamaian, keteguhan, kejujuran, kesetiaan dan nilai-nilai manusia yang sesungguhnya, di tengah kaum yang kebinatangan tanpa batas menggeser tempat kemanusiaan merdeka yang bersandar pada Tuhan Maha Absolut; dalam kondisi dan situasi seperti ini, maka apabila seseorang reaktif dan tidak mampu untuk aktif berpengaruh pada mereka, dia harus berhijrah dan bergabung dengan komunitas lain agar dapat menjaga modal primer kemanusiaan yang dia miliki dan mengembangkan nilai-nilai fitrah serta merealisasikan potensi-potensi yang diberikan Tuhan kepadanya.

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut:

Teori-teori yang argumentasinya berporos pada jaminan kebutuhan primer dan dorongan manusia sama dan searah dengan teori memperbantukan orang lain dari sisi kesejatian yang diberikan pada cinta dan pengabdian pada diri sendiri, semua teori ini tidak dapat menjelaskan nilai-nila kemanusian dan sosial yang sangat tinggi seperti rindu atau kasih sayang, pengorbanan pada orang lain tanpa balas, cinta keadilan, dan lain sebagainya.

Adapun teori Syahid Mutahari juga tidak sejalan dengan teks agama dan berlawanan dengan filsafat hijrah, karena kendati pun teori ini tampil lebih manusiawi dibanding teori-teori sebelumnya, namun teori ini meletakkan kesejatian pada sosial quo sosial (perkumpulan dalam kapasitasnya sebagai perkumpulan dan tidak lebih dari itu) dan kecenderungan kepada yang lain quo kecenderungan kepada yang lain.

Pada hakikatnya, ayat Al-Quran dan kalimat Nahjul Balaghah secara eksplisit menyatakan manusia adalah pedagang dan kehidupan sosialnya merupakan pasar perniagaan, dan pada situasi yang membahayakan, merugikan dan pasti kalah, maka agama seragam dengan rasio pencari penghitung dan pencari untung mengharuskan dia untuk bersaing di market yang berbeda.


[1] Catatan memperingati Ust. Syahid Mutahari, jilid 1, artikel Kekekalan dan Etika, hal. 401, cetakan Sazmn-e Intisyrt va Amzesy-e Inqilb-e Islami, 1360 HS.

[2] At-Taubah:111. Begitu juga surat al-Baqarah:86 dan 175, Ali 'Imran:177, al-'Ashr:2, dan az-Zumar:45.